Kemal si Blogger Iseng

show them all you're not the ordinary type

Ali Sakit Perut (Petualangan di Zombie Apocalypse 2 Part 4)



baca part sebelumnya disini.

Aku melihat Zico, Ali dan Rere sedang berlari dengan tergesa-gesa. Wajar saja, berpuluh-puluh zombie mengejar mereka.

Ali berhenti, terlihat sekali sangat kecapekan, “Aku tidak kuat lagi....”

“Terus lari!” Itu Zico yang berbicara, “Kita bahkan belum menemukan Tori.”

“Tapi....aku tak sanggup lagi...” Ali terjatuh, dan dalam sekejap sudah dikelilingi zombie-zombie.

“Ali!! Tidaaakkk!!” Rere berteriak histeris. Zico menahannya agar tidak menolong Ali.

“Jangan! Dia sudah tidak bisa diselamatkan!”

“Tapi...tapi....”

“Kau mau kita mati juga?”

Zombie-zombie itu mendekat. Zico susah payah menarik Rere agar terus menjauh.

Lalu tiba-tiba terdengar lagu yang sangat populer dari Psy, Gangnam Style. Semua zombie-zombie itu berjoget. Zico dan Rere awalnya bingung, tapi kemudian ikut berjoget juga.

Aku terbangun dari tidurku. Sungguh mimpi yang aneh. Lagu Gangnam Style mengalun dari radio di sampingku. Aku lupa tadi menyetel kaset Psy yang kudapat dari toko kaset sebelum berisitirahat.

Luka di kepalaku sudah kuobati seadanya, tapi kadang masih terasa pusing. Mungkin itu juga salah satu penyebab mimpi aneh itu, tentu saja faktor kekhawatiranku terhadap Zico, Ali dan Rere juga berpengaruh.

Setelah kematian Bima, aku dan Medina menemukan tempat peristirahatan di salah satu rumah kosong. Mungkin karena masih shock, Medina terus saja berdiam diri di kamar, dan imbasnya kami menunda dulu pencarian ini. Sekarang sudah hari ketiga kami tinggal disini. Bahan makanan sudah hampir habis.

Aku memainkan hape yang ditinggalkan mereka di mobil. Aku sudah mengeceknya sebelum ini. Tidak ada hal yang penting, kecuali Rere dan Ali dengan narsisnya foto-foto di belakang sementara Zico menyetir. Itu pasti sebelum mereka dihadang bandit.

Suara petir bergemuruh diluar. Aku menyibak gorden di jendela. Lagi-lagi turun hujan. Sudah dua hari ini hujan turun terus, dan makin lama makin deras saja.

Aku keluar kamar untuk mengecek Medina. Ketika aku masuk kamar, dia sedang menulis sesuatu di buku. Dia buru-buru menyembunyikannya ketika sadar aku sedang memperhatikannya.

Aku memutuskan tidak bertanya tentang buku itu, “Bagaimana keadaanmu sekarang?”

“Sudah baik kok. Kurasa kita bisa berangkat ke kampus sekarang.”

“Santai saja hari ini. Hujan masih deras banget, dan aku masih cemas soal bandit itu. Kalau hujan sudah reda, aku akan memeriksa keadaan diluar sekaligus mencari makan.”

“Apa aku harus ikut?”

Dia bertanya, berarti sebenarnya dia tidak mau ikut. Setelah lama berpetualang dengan Medina, aku tahu jika dia ingin sesuatu, dia akan keras kepala memintanya.

“Tidak perlu. Kau disini saja. Toh, ini hanya melihat-lihat keadaan.”

Dia mengangguk dan melompat ke ranjangnya. Aku pergi keluar supaya bisa membiarkannya melakukan yang dia suka.

Hujan sepertinya sudah mau reda, jadi kuambil pistol dan golok sebagai senjata. Sebisa mungkin aku tidak akan menggunakan pistol. Bunyinya bisa menarik zombie lain.

Saat hujan memasuki tahap gerimis, aku langsung keluar rumah. Kupikir mungkin dengan sedikit gerimis seperti ini, aku bisa lebih mudah bersembunyi.

Karena hujan, udara menjadi sangat dingin. Aku menyesal tidak membawa jaket saat pergi dari markas. Kuharap aku bisa menemukan jaket saat mencari makan nanti.

Aku berjalan dengan waspada. Kalau tidak salah aku sempat melihat minimarket di dekat sini. Sejauh ini tidak terlihat adanya bandit. Beberapa zombie berkeliaran, tapi dengan mudah aku bisa menghindarinya.
Itu dia minimarketnya. Aku melihat ke sekeliling. Setelah memastikan aman, aku masuk ke toko itu.

Di dalam hanya ada satu zombie yang memakai baju kasir. Ini tidak akan sulit. Aku menyabet kakinya hingga dia terjatuh, lalu menusuk kepalanya berkali-kali hinga dia tidak bergerak.

Kini saatnya mencari makanan. Banyak makanan yang sudah diambil oleh orang lain. Mungkin bandit itu pernah kesini. Tapi mereka tidak memeriksa bagian gudang. Aku menemukan banyak makanan kaleng disana.

Aku hendak keluar ketika kudengar suara pintu depan dibuka. Dengan cepat aku bersembunyi.

Langkah kakinya waspada, itu jelas bukan zombie.

Tidak sengaja salah satu makanan kalengku terjatuh. Orang itu kaget dan menembak ke arahku.

“Sial!!” Aku merunduk sambil terus menghindar. Dia sepertinya belum tahu pasti dimana aku. Kulempar satu kaleng ke seberang untuk mengalihkan perhatiannya. Dia terjebak dan menembak ke arah yang salah. Aku berhasil memutar ke belakangnya. Tapi aku tidak jadi menembaknya karena ternyata orang itu sangat kukenal.

“Ali!!”

Dia terkaget dan berbalik sambil menodongkan senjatanya. Saat dia sadar itu aku, mukanya berubah lega.
“Kemal! Ya ampun, kukira siapa.”

“Kenapa kau disini? Dimana Zico dan Rere?”

Ali menurunkan senjatanya, “Bandit sialan! Kami terpisah karenanya.”

Cerita Ali terpotong karena kami mendengar suara mobil diluar. Kami berdua langsung bersembunyi di balik kasir. Terdengar suara orang diluar.

“Aku mendengar sesuatu disini!”

“Tidak ada siapa-siapa. Kau mungkin mengkhayal. Kita kembali saja.”

Suara mobil itu menjauh.

“Lebih baik kita bicarakan ini di tempat lain. Aku juga khawatir dengan Medina,” kataku.

“Medina juga ikut denganmu?”

“Ya, dia menunggu di salah satu rumah. Kita kesana saja.”

Kami keluar dari minimarket lalu kembali ke rumah. Untunglah kami tidak bertemu dengan bandit selama perjalanan pulang.

Medina menyambutku dengan todongan pistol ketika aku baru masuk. Dia melihatku dan mendesah lega.
“Kukira kau bandit. Aku mendengar mereka diluar tadi dan....ya ampun Ali!! Kau selamat!”

Ali melambai, “Halo Medina.”

“Dimana Rere? Zico? Apa mereka ditangkap bandit?”

“Tenang dulu,” kataku pada Medina. “Biarkan Ali bercerita pelan-pelan.”

Kami semua duduk di ruang tamu. “Baiklah, aku mulai darimana?” tanya Ali.

“Bagaimana kalian bisa terpisah?”

“Cerita itu sedikit memalukan sebenarnya. Ketika kami sedang di jalan raya, kami terpaksa berhenti sementara ke pinggir jalan.”

“Ya kami menemukan mobil kalian!” kataku teringat lagi, “Apa yang terjadi? Apa bandit menyuruh kalian berhenti?”

“Aku sakit perut.”

“Apa?”

“Aku sakit perut. Jadi aku memint Zico untuk menghentikan mobil sementara aku melakukan ‘panggilan alam’ di hutan karena pom bensin masih sangat jauh.”

Baiklah, itu bukan jawaban yang kuharapkan. “Tapi kami menemukan banyak bekas tembakan di mobil kalian.”

“Nah itu dia. Saat aku sedang melakukan ‘panggilan alam’ itu, tiba-tiba saja aku mendengar banyak suara tembakan. Aku buru-buru kembali, tapi mereka sudah tidak ada. Justru ada banyak bandit disana.”

“Aku melarikan diri entah kemana,” lanjut Ali, “Karena takut mereka mendengar, aku pergi ke kota ini dengan berjalan kaki. Setelah itu pun aku tak bisa keluar dari kota. Bandit dan zombie ada dimana-mana, apalagi aku hanya sendiri. Jadi aku bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain sampai aku bertemu denganmu.”

Hening sesaat ketika kami mencoba memproses cerita Ali.

“Jadi kau tidak tahu kemana Rere dan Zico?” tanya Medina.

Ali menggeleng, “Kurasa jika mereka lolos dari sana, mereka akan tetap mengikuti rencana semula, yaitu kembali ke kampus.”

“Itu berarti kita tetap harus kesana.” Aku menyimpulkan, “Kita harus segera keluar dari kota ini.”

“Bukankah sudah kubilang bandit ada dimana-mana tadi? Para bandit menjaga jalan keluar kota. Belum lagi masih banyak zombie berkeliaran. Bahkan di salah satu bagian kota, banyak sekali zombie berkumpul. Bagaimana kita bisa kabur dari sini?”

“Berapa banyak zombie-zombie itu?” tanyaku.

“Banyak sekali. Mungkin hampir setengah penduduk kota berkumpul di satu tempat, entah kenapa.”

“Aku tak mau melawan zombie sebanyak itu,” Medina angkat suara.


Aku berpikir sebentar, lalu menemukan sebuah ide gila. “Kita membutuhkan dua mobil. Satu yang sangat berisik dan satu yang sangat kuat.”




Bersambung......ke part 5.

0 komentar:

Posting Komentar