Kemal si Blogger Iseng

show them all you're not the ordinary type

The Conjuring (Part 5 : Latihan)


(Ali)

Aku menguap lebar banget. Ibuku sampai berkomentar, “Wih, kayak black hole.” Aku hanya cuek sambil menggaruk-garuk punggungku.

Tadi malam aku benar-benar tertidur lelap. Pertarungan melawan Kevin dan Gin Gin, khususnya sebelum Zico dan Niko datang membantu, sangat melelahkan. Kasihan tubuhku, dia diciptakan untuk tahan main game, bukan untuk pertarungan seperti ini.

Aku sempat berbincang-bincang dengan Kemal kamarin sebelum kembali ke rumah, dan kami berdua agak menyesal sudah bicara terlalu cepat. Kalau dipikir lagi, yang akan kami ikuti ini perkara hidup mati. Hal seperti ini seharusnya dipikirkan dengan lebih mendalam dan menghitung untung ruginya.

Dan setahuku, kami tidak mendapat untung sama sekali, kecuali mungkin bisa bertemu dewa (yang mungkin bisa tetap terjadi jika kami mati).

Kugaruk kepalaku sembari berjalan keluar. Aku mengambil koran pagi di depan pintu rumah.

Nafasku tertahan ketika melihat salah satu beritanya sekilas. Dan sialnya, itu berarti koran itu berubah menjadi besi dan jatuh menghantam kakiku.

“Aduh, aduh. Sial.” Sambil terjingkat-jingkat, aku membawa koran itu ke meja makan. Berita tersebut menampilkan foto yang memperlihatkan bayangan sebuah makhluk besar di sebuah sungai. Makhluk yang menyerupai Loch Ness.

“Apa-apaan ini? Apa ini beneran?”

Foto itu jauh lebih jelas daripada foto-foto Loch Ness sebelumnya yang biasanya kabur, walaupun tetap tidak terlihat secara keseluruhan. Ditulis kalau ada warga sekitar sungai sedang ketakutan karena sering mendengar suara aneh di saat malam. Kini ditambah foto yang secara tidak sengaja diambil orang lewat itu. Warga pun gempar.

Biasanya aku cukup tertarik dengan hal misterius semacam ini. Tapi mengingat apa yang terjadi semalam, aku punya firasat aneh ini berhubungan dengan turnamen nanti. Aku jelas tidak mau melawan orang yang bisa menggunakan Loch Ness.

“Kenapa kok baca beritanya merengut gitu?” tanya ibuku yang sedang memasak telor untuk sarapan.

Aku buru-buru melipat koran itu, “Gak papa. Aku mau ke tempat Kemal dulu ya.”

“Eh, makan dulu dong.”

“Masih kenyang. Kemarin kebanyakan makan indomie.”

“Paling gak mandi dulu dong.”

“Ih, cuma ke tempat Kemal kok. Bentar juga balik.”

“Gosok gigi dulu!” katanya sedikit marah.

Aku merengut. Seandainya saja ibuku tahu kalau aku sedang menghadapi masalah yang lebih besar daripada kesehatan gigi. Tapi harus kuakui di saat seperti ini, ibuku lebih mengerikan dibanding Loch Ness.

Malas-malasan, aku menuju ke kamar mandi. Kubuka pintunya.

“Hei.”

“AAAHHHHHH!!!” teriakku.

Aku hampir terkena serangan jantung melihat Pak Moes sedang duduk santai di kloset kamar mandiku.

“Kenapa Li?” tanya ibuku dari dapur.

“Eh, enggak. Cuma kecoa!” Aku masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya. “Apa yang kau lakukan disini?”

“Oh maaf. Aku hanya ingin memberitahu kalau kita akan latihan sebelum turnamen. Nanti malam berkumpul di lapangan dekat warung Pak Moes ya. Jam 10-an.”

“Kau tahu, kau bisa masuk dari pintu depan seperti orang normal lain kali. Ngomong-ngomong, latihan apa?”

“Aku sudah meminta temanku untuk membawa beberapa orang dari timnya untuk latih tanding bersama kita. Ini adalah latihan pertama dan terakhir sebelum turnamen.”

“Apa? Memangnya turnamennya kapan?”

“Lusa.”

“Ta...tapi, aku belum siap mental!”

“Karena itu, datanglah latihan.” Pak Moes dengan santai bersandar dan melipat kakinya. “Aku ingin bertanya sesuatu kalau boleh?”

“Eh, apa?”

“Kenapa kekuatanmu adalah koran menjadi besi. Kekuatan ini biasanya didapat dari sifat khusus pemiliknya. Apa hubunganmu dengan koran?”

“Oh, itu. . .” Aku bersandar ke pintu kamar mandi, “ceritanya panjang.”

“Yah, aku cukup nyaman disini.”

“Oke oke. Itu karena. . . aku pernah jadi loper koran saat kecil.”

Hening.

“Wow, itu cerita yang sangat panjang,” komentar Pak Moes. “Kenapa kau jadi loper koran?”

“Yaahh, ayahku menghilang. Jadi aku perlu uang saat itu.”

Pak Moes menundukkan kepala. “Oh, semoga dia berisitirahat dengan tenang.”

“Tidak tidak. Dia tidak mati. Dia menghilang. Kejadiannya sangat aneh, dia menghilang begitu saja. Kami sedang makan di sebuah restoran, dia masuk ke kamar mandi dan puff. . .dia menghilang. Sampai sekarang aku juga tidak mengerti apa yang terjadi.”

Ekspresi Pak Moes berubah.

“Apa kau yakin dia tidak. . . yah, kabur mungkin?” tanya Pak Moes.

“Tidak. Aku menyusul dia sekitar 1 menit setelah dia masuk karena ingin pipis juga. Tapi dia sudah tidak ada.”

Kini dia hanya diam, membuatku curiga.

“Hei, jangan bilang kau tahu sesuatu tentang ayahku?”

Sebelum dia sempat menjawab, sebuah ketukan di pintu mengagetkanku.

“Kok lama banget sih di dalam? Ibu mau pake juga nih!” teriak ibuku, kini agak menggedor.

“Bentar, lagi flashback!!”

“Ibu juga mau flashback. Gantian dong.”

Aku melihat lagi ke Pak Moes, dan dia sudah tidak ada disana. Saat itu juga ibuku masuk dengan kasar.

“Sana keluar, gantian.” Dia melemparku keluar. Aku tidak sempat kesal. Setelah ibuku menutup pintu, aku buru-buru pergi keluar, ke tempat Kemal.




“Kau melihat Loch Ness dan Pak Moes di kamar mandi?”

“Bukan, ya ampun. Kau dengar kata-kataku gak sih?” kataku kesal.

“Kau bicara terlalu cepat tahu!”

Aku mengatakan lagi apa yang telah terjadi pagi ini, termasuk perubahan ekspresi Pak Moes saat aku menceritakan ayahku. Kemal terlihat berpikir.

“Hmm, itu memang aneh. Kenapa Loch Ness muncul di sungai? Seharusnya kan di danau.”

“Kau tidak merasa curiga kalau Pak Moes tahu sesuatu tentang ayahku?”

“Ya, itu juga. Dan. . .” Kemal berhenti. “Oh, dia datang lagi.”

“Siapa. . . OH SIAL!!”

Fathia berlari menuju arahku. Dia melompat untuk memeluk, yang kuhindari dengan sedikit bergeser ke samping. Dia jatuh menghantam tanah.

“Jangan peluk-peluk aku!” bentakku.

Fathia, yang mana juga adalah mantan pacarku, merengut. “Aku masih sayang tahu!!”

“Aku tidak! Pergi sana.”

“Kenapa kau tidak mau balikan denganku??”

“Ya, kenapa tuh?” komentar Kemal ikut-ikutan.

“KARENA KAU GILAAA!!”

Dibilang seperti itu, Fathia makin merengut. “Aku akan membuatmu suka padaku lagi. Lihat saja. Di turnamen nanti, aku akan membuatmu jatuh hati.”

Dia terus berteriak sambil pergi menjauh.

Eh tunggu, turnamen?

“Ya ampun, jangan bilang dia juga ikut turnamen??” kata Kemal seakan-akan mengatakan pikiranku.

Aku shock. “Aku berharap tidak akan melawannya.”

“Apa ya kira-kira kekuatannya?”

“Jadi orang menyebalkan mungkin, aku tak tahu.”

Walaupun kubilang begitu, aku kepikiran juga. Sial, aku benar-benar butuh latihan nanti malam. Semoga saja itu bisa membangkita kepercayaan diriku.




Dan. . . .disinilah aku, sangat tidak percaya diri setelah melihat Kemal, Zico dan Frank dibantai oleh seorang cewek. Cewek yang sangat kuat.

“Bagus Tephi,” kata mas-mas yang juga merupakan staff dewa bernama Paolo. Tephi yang dibilang adalah salah satu anggota timnya. Dia membawa satu orang lagi, namanya adalah Risfan, cowok kribo gempal yang terlihat sangat menikmati pembantaian ini.

“Begini saja nih? Ini sih bukan latihan untukku.” Kata Tephi.

Pak Moes menoleh ke arahku, “Giliranmu. Ayo maju.”

“Apa kau gila?? Apa kau tidak melihat dia mengalahkan mereka bertiga dengan mudah?”

Aku tidak bercanda. Kekuatan Tephi sebenarnya simpel, menukar apa yang di tangannya dengan benda yang dilihatnya. Tapi secara praktek, dia menggunakannya secara pintar. Tephi menyimpan banyak bom ukuran kecil yang bisa dia tukar kapanpun dia mau.

Kemal dikalahkannya dalam 2 menit. Tephi menukar bat baseball yang Kemal buat dengan bom. Bom tersebut meledak di tangannya.

Zico sedikit lebih baik. Dia berhasil membuat Tephi harus menghindari serangan robotnya. Tapi Zico ceroboh dengan menunggangi robot itu. Dalam sekejap, Zico malah jadi menunggangi bom. Dan dia pun kalah.

Frank kalah ketika gitarnya ditukar dengan bom. Dia kalah tanpa bisa berbuat apa-apa.
Apa yang harus kulakukan melawan cewek ini?

“Maju saja sudah!” perintah Pak Moes. Aku maju dengan takut-takut. Tephi melihatku dengan serius.

“Oke mulai!” teriak Paolo.

Aku tahu Tephi akan mengubah koranku menjadi bom. Aku bergerak cepat dan merobek koran jadi potongan kecil itu lalu melemparkannya ke Tephi. Kutahan nafasku.

Tephi menghindari koran besi itu. Dia tersenyum, “Boleh juga.”

Sambil memutari dia, aku melemparkan koran lagi. Tapi sebelum kulempar, koran itu berubah menjadi bom. Aku berguling-guling menghindarinya. Sial, reaksi Tephi sangat cepat.

“Hei,” katanya tiba-tiba.

“Ngg, apa?”

“Kau menyimpan koran cadangan di kantongmu tuh.”

“Yaa, terus kena. . .oh sial.”

Bukan koran, yang ada justru bom di kantongku. Aku merasakan hawa panas ketika bom itu meledak. Ingatanku cukup kabur setelahnya.



“Hei bangun.”

Aku melihat Kemal sedang menggoyangkan badanku. Untuk sesaat, aku bingung apa yang terjadi. Lalu aku ingat pertarungan itu.
Dadaku terasa sakit luar biasa, pasti akibat ledakan di kantong. Oh bagus, bajuku rusak parah. Walaupun aku tak mati karena ledakan, ibuku akan membunuhku karena aku merusak baju bagus.

Aku  melihat Zico (yang kelihatan kesal) dan Frank (yang kelihatan seperti orang mabuk) duduk di sekitarku. Niko terlihat tidak apa-apa.

“Apa kau menang melawan Tephi?” tanyaku padanya.

“Tidak juga. Kami hanya sama-sama tidak bisa menyerang karena aku bisa menghilang dan aku tidak bisa memukulnya saat menghilang.”

“Yah, paling tidak kita tahu siapa yang bisa melawan Tephi nanti,” kata Pak Moes. “Kurasa kalian sudah tahu inti dari latihan ini.”

“Hmm, diledakkan itu sakit?” tebak Kemal.

“Maksimalkan kekuatan kalian, itulah inti latihan ini. Tephi tidak menggunakan kekuatan secara membabi buta sepeti kau dan Zico lakukan. Ali sudah cukup bagus, tapi masih ceroboh menyimpan koran di kantong setelah tahu kekuatannya. Frank . . .yah, Frank harus lebih berusaha.”

Aku menunduk. Jika di turnamen nanti semua lawan seperti Tephi, kami hampir pasti tidak punya kesempatan.

“Jadi, apa yang harus kami lakukan?” tanyaku.

“Mulai sekarang, pikirkan cara untuk memaksimalkan kekuatan kalian.” Dia berdiri dan mulai menunjuk kami satu per satu.

“Ali, caramu menggunakan koran sebagai shuriken tadi sudah bagus. Jangan lupakan kau bisa menggunakan kelenturan koran sebelum merubahnya jadi besi.”

“Kemal, kau tidak perlu selalu mengeluarkan senjata. Pikirkan benda-benda yang bisa merepotkan lawan saat bertarung. Jangan lupa, menulis bisa memakan waktu. Belajar menulis lebih cepat.”

“Frank, kunci seranganmu adalah serangan cepat. Jangan sampai lawan menyerangmu duluan sebelum kau memainkan musik. Mungkin kau bisa mulai dengan musik yang mudah dimainkan tapi bisa mempengaruhi lawan. Carilah lagu semacam itu.”

“Zico, belajarlah menggunakan robotmu dari jauh. Kekuatan dan ukuran robotmu sudah menjadi keuntungan, ditambah senjata yang dimilikinya. Jangan memukul lawan membabi buta. Belajarlah menganalisa situasi dan tahu kapan harus bertahan.”

“Dan terakhir Niko. Kekuatanmu cukup merepotkan karena kau tak bisa menyerang dengan tangan kosong saat menghilang. Siapkanlah senjata, apapun yang bagus untuk serangan jarak dekat. Belajar untuk berjalan pelan dan tidak terdeteksi sama sekali.”

Kami semua diam. Wow, Pak Moes ternyata cukup hebat soal ini. Aku sudah meremehkannya. Aku melihat Zico dan Kemal sudah mulai berpikir tentang apa yang harus dilakukan. Sebaliknya, Niko dan Frank masih terlihat takut.


“Bersiaplah,” kata Pak Moes lagi, “Turnamen akan mulai lusa. Kalian harus siap saat itu.”



Bersambung. . . 

Eddsworld


Jadi, beberapa hari ini aku sedang demen-demennya sama channel youtube Eddsworld. Channel ini berisi kartun animasi buatan sendiri tentang pembuatnya sendiri, Edd, dan teman-temannya, Tom dan Matt. Btw, Tom adalah Tomska, salah satu youtubers favoritku.

Eddsworld sendiri sebenarnya sudah ada sejak lama. Video pertamanya berjudul 'Tord's Adventure' di-publish sekitar 9 tahun yang lalu, atau tahun awal munculnya Youtube. Tord adalah teman Edd yang sempat menjadi karakter di kartun sebelum dia memutuskan keluar.

Aku ingin membicarakan pemilik channel ini sebentar, yaitu Edd Gould. Sayangnya, dia meninggal tiga tahun yang lalu akibat kanker darah. Perjuangan Edd melawan kanker sering diperlihatkan di video teman-temannya. Ketika dia meninggal, Tom dan Matt membuat video tribut untuk dirinya.


Edd Gould sering digambarkan Tom sebagai orang baik, pekerja keras (dia tetap mencoba membuat animasi saat menjalani perawatan) dan mudah berteman dengan siapa saja. Bahkan, hanya Matt-lah yang menjadi teman Edd dari masa sekolah. Tom dan Tord bertemu dengan Edd lewat internet. Mereka adalah fans Edd sebelum Edd sendiri meminta mereka membantu dalam pembuatan animasi.

Aku memang baru mengenal Eddsworld sebentar, tapi aku tetap sedih ketika tahu Edd Gould sudah meninggal. Apalagi ketika melihat dia muncul di video lain dan terlihat sangat senang ketika membuat kartun bersama teman-temannya. Kalau kupikir lagi, aku beruntung baru mengenal Eddsworld sekarang. Bayangkan bagaimana perasaan fans beratnya sejak lama ketika tahu Edd meninggal.

Oke, cukup sentimennya, mari kita bicarakan konten channel itu sendiri. Kartun-kartun Eddsworld sangat lucu, bahkan kartun lamanya. Sebenarnya kalau dilihat lagi, humornya mirip dengan kartun atau sketsa buatan Tomska yang aneh, random dan tak bisa ditebak. Tidak aneh sih mengingat Tom juga berperan dalam pembuatan ceritanya.

Karena random itulah, kartun-kartun Eddsworld jadi menarik. Mulai dari zombie, alien, monster salju, atau bahkan santa claus jahat dibuat menjadi animasi komedi disini. Jika kau suka kartun komedi yang melibatkan darah, senjata dan humor-humor gelap, Eddsworld sudah jelas cocok untukmu. Tapi tak semua offensive, ada juga kejadian sehari-hari yang dilebih-lebihkan oleh karakter kartunnya sehingga lucu.

Intinya, aku sangat menyarankan kalian mengecek Eddsworld. Berikut kuberikan salah satu video yang aku suka :


Dan walaupun Edd sudah meninggal, tapi channel ini tetap akan terus memproduksi kartun, tentu saja dengan animator lain. Tom berjanji untuk tetap menjaga channel ini untuk para fans Eddsworld. Seperti yang dia bilang, walaupun Edd sudah tiada, dunianya akan tetap berputar.

Link Channel : https://www.youtube.com/user/eddsworld/videos

Dari Mana Datangnya Bayi?


Aku sedang bersantai dengan kopi di meja dan koran di tangan saat tiba-tiba anakku, Niko, yang masih berusia 5 tahun datang. Dia terlihat kebingungan.
"Ayah ayah."
"Hmm, kenapa?"
"Dari mana datangnya bayi?"
Aku menaruh koranku. Ini dia nih. Tiap orangtua pasti akan mengalami peristiwa ini. Tapi aku tak menyangka secepat ini. Aduh, mana istriku sedang pergi lagi.
"Hmm, bayi itu datang dari. . . "
Niko menunggu dengan muka polosnya. Aku. . . aku tak bisa bilang.
"Saat laki-laki dan wanita saling mencintai, seekor burung bangau akan datang dan membawa bayi," kataku akhirnya. Aku pernah melihat kartun melakukan itu.
"Ooooohhhhh." Niko terlihat berpikir sambil berjalan ke ruangan lain. Fuuuhhh, tanggung jawab ini bisa kulakukan di hari lain.
Lalu tiba-tiba muncul sebuah cahaya menyilaukan. Aku harus menutup mata sampai cahaya itu benar-benar hilang dan mataku terbiasa kembali.
"A..apa yang terjadi??"
Seorang wanita berdiri di depanku sambil dikeburungi asap. Wanita yang sangat kukenal. Dia adalah istriku, Hana! Tapi dia terlihat sedikit. . . tua?
"Dari mana kau masuk? Dan bagaimana kau membuat asap dan cahaya itu? Dan apa yang kau lakukan dengan mukamu?" Aku benar-benar bingung dengan apa yang terjadi.
Plak! Hana menampar mukaku.
"Tak ada waktu untuk itu!" katanya sedikit membentak.
"Hah?"
"Apa yang kau katakan pada Niko saat aku pergi? APA?"
"A...aku hanya mengatakan kalau bayi diantar oleh bangau. . ."
"KAU BERBOHONG PADANYA??"
Aku mundur sedikit karena takut dipukul. "Itu hanya kebohongan sementara. Aku hanya belum siap mental untuk bilang hal yang sebenarnya."
Hana menggeleng-geleng. Aku mengambil kesempatan untuk bertanya.
"Kau terlihat sedikit berbeda. Apa ada masalah?"
"Tentu saja berbeda. Aku datang dari masa depan."
"Ng, apa?"
"Aku datang dari masa depan untuk menghentikan tingkahmu!!"
"Tunggu tunggu." Aku memijit kepalaku. "Kau dari. . .masa depan?"
"Ya. Aku sudah bilang berkali-kali."
Memang sih, kalau dilihat-lihat Hana terlihat sedikit lebih tua. Dia tidak mungkin bertambah tua hanya dengan pergi setengah jam kan?
"Jadi. . .apa maksudmu dengan menghentikanku?"
"Apa kau tahu apa akibat dari kebohonganmu itu? Dua tahun dari sekarang, Niko akan melompat dari lantai dua karena dia merasa diadopsi dari keluarga bangau dan punya kemampuan untuk terbang."
Aku harus mencerna kata-kata itu dulu sebelum berteriak, "APA??"
"Ya, dan itu salahmu!!"
Wow, aku tak pernah menyangka Niko akan sebodoh itu.
"Ja. . .jadi apa yang harus kulakukan."
"Temui dia dan katakan hal yang sebenarnya. Itu akan merubah masa depan."
"Begitu ya? Oke." Aku mengangguk.
"Bagus. Aku harus pergi sekarang. Bahaya kalau sampai aku di masa ini melihatku."
Dia memencet sebuah mesin aneh di tangannya.
"Apa itu mesin waktu? Bagaimana caranya kau bisa punya mesin waktu?"
"Aku punya banyak waktu luang." Setelah bilang itu, dia hilang diikuti cahaya menyilaukan.
Aku menampar-nampar mukaku untuk memastikan semua ini bukan mimpi. Lalu aku mendengar Niko sedang menirukan suara bangau di kamar sebelah. Oh ya, aku punya tanggung jawab.
"Ngg, Niko?"
"Ya?" Dia sedang bermain-main dengan mainannya.
"Soal bayi tadi. . . sebenarnya aku agak bohong,"
Dia melihatku dengan bingung. Ugh, muka polosnya itu. . .
"Se. . sebenarnya, kau ingat Harry Potter kan? Dia diantar oleh penyihir ke rumah saat masih bayi. Begitulah sebenarnya bayi datang."
"Ooooohhhhhh."
Memang masih bohong sih, tapi itu tidak akan membuatnya lompat dari lantai dua. Aku kembali ke tempatku dengan bangga.
Cahaya itu muncul lagi. Hana versi lebih agak tua muncul dengan kesal.
"Apa yang kau bilang padanya kali ini?"
"Aku bilang dia diantar oleh penyihir saat masih bayi. Kenapa? Dia tidak loncat lagi kan?"
"Tidak, tapi dia mengaku-ngaku sebagai keturunan penyihir dan dibakar oleh massa."
"APA?? KENAPA MASA DEPAN JADI SEPERTI ABAD PERTENGAHAN??"
"Pokoknya kali ini jangan bohong lagi!!" Lalu Hana menghilang, meninggalkanku dengan mulut menganga.
Didorong keinginan agar anakku tak mati dibakar, aku berlari ke tempat Niko.
"BAYI LAHIR DARI IBU."
Niko terlihat sangat kaget mendengar aku berteriak seperti itu. Aku mengambil nafas panjang.
"Maksudku, aku berbohong sebelumnya. Lagi. Sebenarnya bayi itu lahir dari ibu. Kau lahir dari ibu. Kau berada di perut ibu selama sembilan bulan."
"Oooooohhhh. Eh tapi, darimana bayi keluar dari perut ibu?"
Ugh, ini dia nih yang paling males.
"Ngg ngg dari. . .anu. . .dari itu lho. . .gimana ya?"
Niko terus menunggu. Pada akhirnya, aku tak sanggup jujur sepenuhnya.
"Jika ibu sudah merasa bayinya terlalu besar, dia harus bersama suaminya. Dan dengan kekuatan cinta, bayi itu akan muncul dari perut tanpa melukai ibu sama sekali."
"Oooooohhhh."
Oke, kurasa itu cukup aman. Tidak ada hal yang menurutku bisa membuat Niko bertindak bodoh.
Di kamar sebelah muncul cahaya. Oh ya ampun, apa lagi kali ini?
"Apa yang kau katakan padanya?" Hana marah-marah.
"Memangnya apa yang terjadi?"
"Niko menuduh seorang istri berselingkuh dengan dokter hanya karena suaminya sedang di luar kota saat dia melahirkan."
"Ohh. . .sial."
"Dan dia dibakar massa."
"KENAPA DIA SELALU DIBAKAR??"
Hana menghilang lagi ke masa depan. Aku sudah kesal. Oke, aku harus jujur seratus persen.
"Niko! Bayi lahir dari v****a!"
"Eh, apa?"
"Bayi keluar dari v****a. Kau keluar dari v****a ibumu. Itu adalah fakta!"
Aku meninggalkan Niko yang terlihat syok. Kuminum kopiku untuk menenangkan diri. Aku sudah melakukan hal yang benar sekarang. Tidak akan ada hal aneh yang terjadi lagi.
Aku mendengar sebuah ketukan di pintu. Mungkin Hana yang di masa kini akhirnya pulang.
Tapi saat kubuka pintu rumah, yang menungguku adalah bapak RT dan warga komplek sekitar.
"Ngg, ada apa ya?"
Pak RT berdehem dengan formal. "Kami mendapat kabar kalau kau memberitahu fakta tentang bagaimana bayi lahir kepada anakmu yang masih kecil. Apa kau sadar kalau hal itu bisa membuatnya trauma?!"
Aku tergagap, "Ta...tapi. . .bagaimana kalian tahu? Aku melakukannya sekitar 2 menit yang lalu."
"Laki-laki ini datang dari masa depan dan memberitahu kami."
Pak RT menunjuk sebuah pemuda yang mempunyai muka pucat. Entah kenapa, dia mirip aku. Tunggu.
"Kau Niko dewasa!!" 
"Ya, dan kau ayah yang buruk!" Niko sedikit berteriak kepadaku. "Aku menghabiskan masa kecilku dalam trauma karena memikirkan terus apa yang kau bilang." Dia memeluk dirinya sendiri dalam gemetar.
"Ta..tapi. . .tapi. . ."
"Jangan banyak alasan! Kau harus dihukum karena ini." kata Pak RT.
"A...apa hukumannya?"
"Kau akan dibakar."
"TIDAAAAAKKKKKKKK."