Kemal si Blogger Iseng

show them all you're not the ordinary type

Top 10 Video Games Favorit (Sejauh Ini)

Aku suka bermain game. Mungkin aku bukanlah gamer kelas berat yang sampai mengeluarkan uang banyak agar bisa menjadi nomor satu di game favoritnya (btw, mikro-transaction game itu menyebalkan), tapi aku cukup banyak menghabiskan waktuku untuk melakukan aktifitas ini. Aku membuat list ini dengan alasan :

a) orang lain harus tahu apa game yang kusuka dan mereka harus memujiku muhahahaha
b) rekomendasi bagi kalian yang mencari game bagus, atau setidaknya bagus untukku

Kalian harus ingat kalau ini adalah pendapat pribadi, jadi kalian boleh tidak setuju. Aku bilang saja dari awal, aku tidak suka game FPS dan bertema perang. Dan list ini mungkin bisa berubah di ikmasa depan jika aku menemukan game keren lagi. Jadi mari kita mulai listnya :


10. Little Big Planet


Entah kenapa tidak banyak orang yang tahu tentang game ini. Little Big Planet adalah game untuk semua umur yang sangat menyenangkan bagiku. Aku akhirnya bisa bermain dengan dua adikku dengan santai tanpa takut ada adegan yang tidak pantas (seperti saat aku bermain GTA, jangan bermain GTA bersama adikmu yang masih kecil!).

Little Big Planet punya design ang unik di tiap stagenya. Karakternya imut dan bisa kita pakaikan baju apa saja sesuai keinginan. Bermain bersama memang lebih menyenangkan, tapi main game ini sendiri juga masih seru kok. Aku sangat menyarankan kalian mencobanya.

9. Limbo


Salah satu game platformer puzzle yang sangat keren. Desainnya simpel, tapi entah kenapa punya daya tarik sendiri. Limbo menceritakan seorang anak yang melewati banyak rintangan untuk menemukan saudara perempuannya. Rintangan yang dilewati berbagai macam mulai dari hutan dengan monster laba-laba sampai kota dengan banyak mesin mematikan. 

Puzzlenya sendiri tidak susah, tapi bukan berarti gampang dipecahkan juga. Aku kadang harus mencoba beberapa kali sampai akhirnya bisa melewatinya. Dan bagusnya lagi, puzzlenya kreatif sehingga kita akan terus mencoba banyak hal sampai bisa memecahkannya.

Mungkin daya tarik terkuatnya adalah game ini bisa dibilang tidak menceritakan apa-apa. Kita sendirilah yang mengira-ngira apa yang sebenarnya sedang terjadi. 

8. FIFA


Sebagai penggemar bola, tentu saja aku suka game bola. Dan aku memilih FIFA dibanding PES karena dua alasan. Pertama, aku lebih suka gameplay FIFA yang terlihat lebih mengalir. Kedua, mereka punya lebih banyak klub dibanding PES dan dengan copyright resmi untuk klub liga Inggris (aku bosan dengan North London).

Sebenarnya tidak ada alasan lain selain itu. Aku suka bola, karena itu aku suka FIFA. Jika aku pulang liburan, biasanya aku menghabiskan waktu senggangku untuk membuat Barcelona makin kuat dengan membeli banyak bintang dan membantai Madrid 4-0 di Bernabeu. Itu sangat menyenangkan.

7. Scribblenaut Unlimited


Satu lagi game yang tidak banyak orang tahu walaupun sangat keren. Di Scribblenaut Unlimited, kau bisa membuat apa saja dengan notepad-mu. Dan maksudku, apa saja!! Kau mau membuat gorilla yang terbuat dari keju sambil menggunakan jetpack tanpa alasan tertentu? Bum! Kau bisa melakukannya sekarang.

Di Scribblenauts kau diminta menyelesaikan banyak persoalan dengan kekuatan dewamu itu. Dan kerennya, masalah itu tidak harus diselesaikan dengan satu solusi. Misalnya ada suster yang memintamu membuat sesuatu yang tajam agar dia bisa mengoperasi pasiennya, kau bisa membuat pisau bedah atau lightsaber, dua-duanya menyelesaikan masalah. Keren banget kan??

6. Pokemon


Jika kalian mengenalku secara pribadi, mungkin kalian akan heran kenapa Pokemon tidak berada di posisi nomor satu. Pokemon sudah seperti salah satu bagian hidupku. Aku main semua gamenya, aku mencoba ikut lingkungan kompetitif, sampai aku membeli plushie dan gantungan kunci Pokemon favoritku. Jadi kenapa? Alasannya hanya karena ada lima game lain yang menurutku lebih berkesan walau tidak dimainkan terus menerus.

Oke kembali ke Pokemon. Apa yang sih membuat Pokemon menyenangkan? Yah, menangkap Pokemon lalu memperbudaknya agar dia bertarung dengan Pokemon lain agar kau bisa mengambil uang dari trainer lain dan menjadi yang terkuat di seluruh dunia cukup menyenangkan bagiku. Jika aku harus memilih, Pokemon Soul Silver adalah favoritku.

5. Fire Emblem Awakening


Mungkin aku agak sedikit bias dengan memasukkan game ini di atas Pokemon karena aku baru saja menyelesaikannya, tapi ya sudahlah. Fire Emblem Awakening adalah game strategi pertama yang membuatku jatuh hati. Banyaknya pilihan karakter dan semuanya memiliki sifat unik adalah hal yang paling menarik bagiku. Ceritanya juga keren dengan kita menghadapi naga jahat di akhir cerita.

Oh, satu lagi fitur yang menyenangkan, yaitu kita bisa menikahkan tiap karakter di game ini. Saking sukanya, setelah tamat pertama kali aku langsung main dari awal hanya untuk menjadi mak comblang sekali lagi, tapi kali ini dengan pasangan yang berbeda. Gameplay-nya menarik, ceritanya bagus, aku tidak tahu apa lagi yang harus kubilang. Sekarang aku sangat menunggu Fire Emblem Fate yang akan keluar tahun depan.

4. Valiant Hearts : The Great War


Sebelumnya aku pernah bilang kalau aku tidak suka game perang. Yap, ini pengecualian, segitu kerennya-lah game ini. Valiant Hearts gak kayak game perang lain dimana kita nembak semua orang, disini efek perang bagi tentara-lah yang diceritakan. Emile adalah contohnya. Awalnya dia hanyalah petani biasa yang hidup bahagia bersama putri dan menantunya. Tapi karena perang, dia dipaksa menjadi tentara. Disana kemudian Emile bertemu dengan banyak teman yang memiliki masa lalu masing-masing.

Hal seperti itulah yang membuatku suka Valiant Hearts. Memang dia hanya game platformer penuh dengan puzzle point-and-click, tapi ceritanya sungguh mengharukan dan membuat kita melihat perang dengan cara berbeda. Jika kau tidak sedih dengan ending game ini, ada yang salah denganmu.

3. The Walking Dead


The Walking Dead adalah game dari Telltale Games yang menceritakan tentang dunia zombie apocalypse. Mungkin kau berpikir, game tentang zombie kan udah banyak. Sekali lagi, cerita adalah yang menjadi pembeda The Walking Dead dengan game zombie lainnya. Aku memang paling suka game dengan cerita bagus.

The Walking Dead berfokus pada Lee, kriminal yang secara tidak sengaja bertemu dengan Clementine, seorang gadis kecil yang ditinggal orangtuanya. Lee memutuskan menjaga Clementine sampai dia bisa bertemu keluarganya (spoiler alert : orangtuanya udah tewas). Mereka bertemu kelompok survivor lainnya dan mencoba mencari tempat aman. Masalah demi masalah datang dan kitalah yang memutuskan pilihan apa yang harus diambil Lee untuk menyelesaikannya. Kadang pilihan yang ada berarti meninggalkan satu orang untuk mati demi menyelamatkan lainnya. Game ini membuat kita merasa bersalah!! Belum lagi endingnya, bbbeeehhh. Ini adalah game pertama yang membuatku menangis!

Jika kau hanya tahu Walking Dead sebagai TV Show, aku sangat menyarankan main game-nya karena cerita di game jauuuuuh lebih bagus dari TV Show-nya.

2. The Last of Us


Kalian mungkin tahu game ini karena game ini sangat fenomenal. Aku pun merasa The Last of Us adalah salah satu game paling komplit yang pernah ada. Jalan cerita yang menarik, oke. Karakter unik yang membuat kita merasa punya hubungan, oke. Gameplay dan grafis yang bagus, oke juga. Aku tidak bisa menemukan hal jelek dari game ini. Bahkan para kritikus pun menilai The Last of Us sebagai salah satu game terbaik yang pernah,

Tidak ada yang bisa kubilang lagi selain aku sangat berharap mereka membuat sekuel dari game ini karena ENDINGNYA SANGAT MENGGANTUNG AAGAGAHHAAHHAH KENAPA KAU BERBOHONG PADA ELLIE JOEEEL KENAPAAAA! Uhuk, ehem. Maaf soal itu.

1. To The Moon


Alasan aku memilih game ini dibanding game sempurna hanya satu, yaitu ceritanya sungguh sungguh bagus. Kalian harus tahu, saat aku menamatkan game ini pertama kali, aku sempat tiga hari merasa melankolis karena mengingat cerita cinta River dan John. Terlalu keren dan mengarukan!!

Ini bukan game untuk semua orang. Jika kalian suka game penuh aksi dan menengangkan, game ini jelas tidak cocok untuk kalian. To The Moon bahkan mungkin bisa dibilang bukan game, karena sebagian besar kita hanya menonton cerita berjalan dengan sendirinya. Ya, ini seperti menonton film cinta sebenarnya, film cinta yang sangat bagus. Ditambah lagi musik yang indah di tiap adegannya dan membuatku makin terharu. Kalian harus memainkannya sendiri agar mengerti apa yang kubicarakan. 

Jadi begitulah, To The Moon adalah game favoritku sejauh ini.

Diary Zombie Apocalypse (1)


Dear diary, kurasa harus seperti ini sebagai pembuka untuk menulis diary, walaupun aku tidak mengerti kenapa. Aku tidak menceritakan ini pada diary, aku hanya mencoba menulis apapun yang kuingat sehingga nanti bisa kubaca lagi dan tertawa-tawa sambil mengatakan “Oh lihat betapa bodohnya aku dulu.”
Kalau mau jujur, ide menulis diary ini adalah ide temanku, Handi. Dia bilang aku sebaiknya menulis apa yang terjadi, sehingga saat semuanya sudah kembali normal, catatan harianku bisa dijual dan mungkin saja dibikin film. Film yang dibagi kedalam dua part lebih tepatnya.
Oke, jadi kurasa aku harus menceritakan apa yang terjadi dari awal.
Semuanya terjadi sekitar seminggu yang lalu. Seorang penyanyi dari Kanada (aku tidak akan sebut namanya, tapi nama awalnya Justin dan nama akhirnya Bieber) merilis lagu yang membuat pendengarnya berubah menjadi zombie.
Ya, zombie. Para Belieber yang malang.
Bukan hanya Belieber sih, tapi semua orang yang cukup sial mendengar lagu itu kini berubah menjadi makhluk pemakan daging yang berkeliaran dimana-mana. Oh Bieber, sampai kapan kau harus membuat orang susah?
Saat semuanya bermula, aku sedang main game FIFA bersama Handi. Aku, seperti biasa, mengalahkannya dengan mudah.
(Handi mungkin akan berkata kalau gol terakhirku offside, tapi jangan dengarkan kata pecundang, oke?)
Kami bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar sana. Kami hanya tahu kalau ini sedang masa liburan dan kami akan menghabiskan waktu untuk bermain game. Simpel. Tidak aneh-aneh. Tapi semua kenyamanan itu rusak berkat gedoran di pintu depan rumah.
Aku tidak ingin menceritakan panjang lebar soal keluargaku. Aku hanya ingin kau tahu kalau orangtuaku sudah cerai dan aku tinggal bersama ayahku. Saat peristiwa itu terjadi, ayahku sedang pergi keluar kota untuk urusan bisnis. Jadi hanya aku dan Handi yang berada di rumah.
Aku tadinya ingin membiarkan saja gedoran itu. Dipikiranku itu paling cuma orang minta sumbangan. Tapi Handi berkata, “Kurasa kau harus melihatnya. Mungkin dia mengantarkan paket atau sesuatu.”
“Kau hanya ingin mencari kesempatan supaya bisa restart game kan?”
“Gol tadi offside! Jadi gak seru lagi pertandingannya.”
“Wasit di game gak pernah salah tahu.”
“Udah buruan sana! Biar aku ambil cemilan di dapur.”
Maka dengan malas-malasan, aku pergi ke pintu depan. Gedoran semakin keras. Ya ampun nih orang kenapa sih?
“Sebentar!” teriakku kesal.
Kubuka pintu, dan tetanggaku, seorang wanita setengah baya bernama Nova, masuk dan langsung memelukku.
“Tutup pintunya!” katanya.
Aku tergagap, “Jangan Tante, aku masih terlalu muda untuk Tante.”
Tante Nova menghiraukanku dan menutup pintunya keras-keras lalu menguncinya. “Ada pengemis liar di luar sana!”
“Hah?”
“Itu diluar! Tadi Tante mau pulang ke rumah, terus ada pengemis. Dia ngedeketin Tante, tapi Tante kan gak punya uang kecil, jadi Tante cuek aja. Eh dia malah pegang Tante terus digigit.”
“Digigit, Tante?”
“Ya!! Tanta dorong sampai dia jatuh, terus Tante pergi. Eh Tante malah dikejarnya. Makanya Tante lari kesini yang lebih dekat.”
Tentu saja dalam pikiranku saat itu adalah, wow itu pengemis niat banget ya. Aku merasa ada kisah tersembunyi dibalik gigihnya perjuangan pengemis itu mencari uang. Mungkin anaknya sedang sakit dan dia perlu uang untuk beli obat. Atau mungkin dia hanya ingin membeli rokok, seperti hampir semua pengemis yang kutahu.
Aku melihat keluar lewat jendela. Memang ada pengemis yang terlihat kebingungan diluar. Bajunya penuh warna merah, yang kurasa cat air. Pengemis seniman mungkin?
 “Alan, ayah kamu mana?”
“Ayah sih lagi pergi keluar kota. Masih lama baliknya.”
“Hmm gitu ya. Padahal tadi Tante mau minta ditemenin sampai rumah. Tante disini aja dulu ya.”
“Boleh. Nanti maleman aja Tante pulang,” kataku.
“Tante numpang tiduran bentar ya di kamarmu. Gak papa kan?”
“Boleh boleh.”
Setelah tanteku masuk kamar, aku kembali ke ruang keluarga tempat main game. Handi mengambil kacang dari dapur dan dua minuman ringan. Seperti dugaan, Handi sudah me-restartgame sebelumnya. Aku geleng-geleng saja.


Tak terasa, diluar sudah gelap. Aku benar-benar lupa tentang Tante Nova sampai Handi mengingatkan, “Tantemu gak dibangunin tuh?”
“Jangan. Restart.”
Aku mendengar Handi membisikkan sesuatu seperti ‘itu kan offside’ sementara aku pergi ke kamarku.
“Tante, udah malam nih? Mau diantar pulang aja?”
Tante Nova berdiri membelakangiku. Dia sepertinya melihat sesuatu di dinding (yang aneh karena tidak ada apa-apa di dinding kamarku).
“Tante?”
Saat dia melihatku, aku tahu ada sesuatu yang aneh. Mungkin sedikit berhubungan dengan darah yang menetes dari mulutnya, atau kulitnya yang berubah pucat.
“Tante gak papa? Mau dipanggil dokter?”
Tante Nova justru menerjangku. Aku menghindar ke samping secara refleks dan Tante Nova menabrak dinding.
“Ke, kenapa Tante?? Apa Tante takut sama dokter??”
Tak ada jawaban. Dia kembali mencoba menerkam dan menggigitku. Aku terpaksa keluar kamar dan menguncinya dari luar. Segera aku berlari ke Handi.
“Han, ada yang aneh sama. . .KAU RESTART  LAGI GAME-NYA??”
“Aku. . .gak sengaja. . “
Aku menahan keinginan untuk mencekik Handi. “Ada yang lebih penting dari itu. Tante Nova sepertinya jadi aneh.”
“Aneh seperti apa maksudmu?”
“Dia mencoba menerkam dan menggigitku dan semacamnya. . .”
“Mungkin karena dia tahu kalau kau suka main curang di FIFA.”
“Aku gak curang!” Kutarik Handi agar dia mengikutiku. “Ayo, biar kau lihat juga.”
Handi, masih dengan tampang bingung bodohnya, berjalan bersamaku ke kamar. Aku membuka pintu kamar. “Coba kau lihat sendiri.”
Saat itulah pintu dihantam oleh sesuatu dari dalam. Aku sampai terjungkal ke belakang. Kulihat Tante Nova keluar dari kamar dan menyerang Handi dengan ganasnya. Handi mendorong-dorong Tante Nova dan mencoba menyelamatkan diri.
“Lan, bantuin!! Tante kau aneh!”
Aku berdiri dan menarik Tante Nova dari Handi. Kini dia malah mengejarku. Aku memukulnya dengan cukup keras di muka. Dia sempat berhenti, tapi kemudian mengejarku lagi.
Handi dengan cepat mendorongnya kembali ke dalam kamarku saat ada kesempatab. Aku langsung mengunci pintu kamar. Tante Nova menggedor-gedor kamar itu dengan kasarnya.
“Apa yang terjadi padanya?” tanya Handi sambil mengatur nafas.
“Sudah kubilang dia menjadi aneh. Dia seperti menjadi. . .”
Aku dan Handi saling bertatapan. Dan seperti telepati, kami seperti berbagi pikiran yang sama.
“Zombie?” kata Handi.
“Masa sih zombie beneran ada?”
Kami lalu mendengar teriakan di luar. Kami melihat lewat jendela dan yang terjadi membenarkan ketakutan kami. Aku melihat tetanggaku dimakan oleh sekelompok zombie. Dia masih berteriak menandakan kalau saat ini dia masih hidup dan kurasa berada dalam penderitaan yang amat sangat menyakitkan.
Aku menjauh dari jendela. “Oh ya ampun. . .”
“Kenapa semua ini tiba-tiba terjadi?” kata Handi.
“Aku tidak tahu,” kataku. “Kita harus mengunci semua pintu. Sekarang.”
Handi segera mengunci pintu depan dan belakang, sementara aku mengunci semua jendela/ Untuk jaga-jaga, aku juga menahan pintu depan dengan meja.
Kami lalu duduk di ruang keluarga.
“Kita harus bagaimana sekarang? Kita tak bisa hanya diam di sini terus kan?”
“Kenapa tidak?” kata Handi,  “Kita punya sesuatu yang kita semua perlukan. Makanan, tempat tidur, game. . “
Lalu listrik rumah mati. Handi pun langsung mengubah pendapatnya, “Percuma kita disini jika tak bisa main game. Kita harus mencari cara pergi. Mungkin saat zombie diluar tidak ada.”
Tapi sampai keesokan harinya, zombie yang diluar bukannya menghilang tapi justru bertambah banyak. Kami mungkin akan terjebak di rumah itu selamanya kalau bukan karena Navayo.
Siapa itu Navayo? Dia adalah orang yang sangat sangat aneh.
(Handi memanggilku untuk makan, jadi aku akan melanjutkannya besok.)

Top 10 Film Favorit

Karna kesibukan kuliah dan lain-lain, aku agak kurang update sama blog kesayangan ini. Jadi untuk membersihkan debu, aku akan membuat daftar top 10 film favoritku. Tapi sebelumnya harus kuberitahu kalau aku tidak bisa dibilang penggemar film, aku hanya menonton kadang-kadang. Mungkin dalam satu bulan, hanya dua film baru yang kutonton.

Jadi dari daftar film yang sedikit itu, akan kupilih 10 yang pertama muncul di kepalaku. Itu berarti filmnya sangat berkesan, kurasa. Aku tidak menulisnya berdasarkan urutan favorit. Dan oh ya, kebanyakan adalah film komedi, karna aku suka tertawa. Jadi inilah daftarnya :

1. Rush Hour


Rush Hour bercerita tentang seorang detektif dari Cina bernama Lee (Jackie Chan) yang memiliki partner seorang polisi bodoh dari Amerika bernamm James Carter. Sementara Lee adalah orang yang serius, Carter justru memiliki sifat jenaka dan sering membuat ulah. Rush Hour adalah film komedi yang cukup terkenal hingga dibuat sekuelnya, Rush Hour 2 dan Rush Hour 3.

Aku selalu menyukai Jackie Chan. Tapi Chris Tucker bener-bener menambah sisi komedi pada film ini dengan sangat bagus. Aku sendiri gak nyangka perpaduan Amerika-China bisa membuat film Rush Hour sangat menarik. Dari semua Rush Hour series, aku rasa Rush Hour 2 adalah yang terbaik.

2. Harry Potter


Aku harus memasukkan series ini ke dalam list. Aku adalah penggemar berat buku dan film Harry Potter. Lucunya, aku justru nonton filmnya dulu sampai yang keempat ketika sadar kalau Harry Potter itu awalnya dari novel. Aku harus bilang kalau bukunya lebih baik dari film, tapi filmnya tetap merupakan fenomenal. Harry Potter kelima adalah yang terbaik bagiku.

Apa lagi yang bisa kubilang tentang Harry Potter, mereka sudah sangat terkenal. Aku adalah satu dari banyak orang yang tumbuh besar bersama Harry Potter. Saking sukanya, aku pernah membuat cerpen Kemal Potter (yang lumayan disukai banyak temanku). Sampai sekaranga aku masih menunggu surat dari Hogwarts.

3. Megamind


Untuk film animasi 3d, Megamind adalah salah satu favoritku. Megamind bercerita tentang dua orang bayi alien yang dikirim ke bumi. Satu menjadi superhero (Metro Man), satu lagi menjadi penjahat super(Megamind). Pada akhirnya, Megamind menjadi pahlawan yang menyelamatkan Metro City dari pahlawan yang dibuatnya. Bingung? Kau harus menontonnya.

Kelebihan dari film ini adalah jalan ceritanya sulit ditebak. Disana sini ada kejadian tak terduga. Komedinya juga dapet. Twist endingnya keren dan semua karakternya dibangun dengan keren. Megamind yang mana adalah alien penjahat bisa membuat kita iba, kan keren banget tuh.

4. Evan Almighty


Film ini mungkin agak kontroversial karena berhubungan dengan agama (dan Morgan Freeman yang muncul sebagai Tuhan), tapi bodo amat, aku suka banget. Evan Almighty, yang semacam sekuel dari Bruce Almighty, bercerita tentang Evan yang dipilih Tuhan untuk membuat sebuah bahtera. Bisa dibilang juga, Evan diberi tugas yang sama dengan Nabi Nuh dulu. Tentu saja dia menghadapi masalah dengan tugas itu.

Selain lucu, film ini penuh makna bagus. Salah satunya adalah, jika kau berdoa pada Tuhan tentang sesuatu, Dia tidak akan memberikannya begitu saja, tapi Dia akan memberikan jalan agar dirimu bisa mencapai impian itu. Keren kan?

5. Nagabonar Jadi Dua


Ini adalah satu-satunya film Indonesia yang masuk ke daftar. Aku tidak terlalu demen film Indonesia sejak awal, jadi sedikit juga yang berkesan. Mungkin hanya ini dan Laskar Pelangi series yang benar-benar kusuka, tapi ini sedikit lebih bagus (dan tidak, aku belum pernah nonton The Raid).  Harus kuakui, Tora Sudiro dan Dedy Mizwar memainkan perannya dengan sangat baik.

Sama seperti kebanyakan orang seumuranku, aku nonton film ini dulu sebelum nonton Nagabonar pertama. Bahkan sebelum tahu latar belakang Nagabonar, aku sangat suka film ini. Ceritanya sangat bagus. Veteran perang memiliki anak yang sukses di dunia modern. Ceritanya bermula ketika Bonaga (anaknya) membawa Nagabonar untuk tinggal bersamanya di kota. Bonaga ingin menjual tanah di kampungnya ke investor dari Jepang. Tentu saja itu jadi masalah bagi Nagabonar yang dulu berperang dengan Jepang.

6. Scott Pilgrim vs The World


Aku tidak pernah tahu apa itu Scott Pilgrim sebelum aku menontonnya bersama temanku. Ternyata filmnya sangat keren, dimana dunianya bercampur dengan dunia game. Belum lagi plot ceritanya sangat unik dan berbeda. Mau tahu? Oke, Scott Pilgrim yang ingin mengencani seorang cewek harus melawan tujuh mantan jahat. Ya, tujuh mantan jahat. Dan dia harus menghadapinya dengan cara unik di setiap pertandingan.

Scott Pilgrim sebenarnya bermula dari sebuah komik Amerika (yang ternyata sangat terkenal), lalu dibuat menjadi game. Scott Pilgrim dimainkan oleh Michael Cera yang mulihat mukanya aja bisa bikin kita ketawa. Film ini memiliki humor unik dan fresh bagi anak-anak muda, terutama yang suka main game.

7. Song of the Sea


Aku membaca sebuah komentar di Youtube tentang sebuah film yang sebenarnya lebih bagus dari Frozen tapi kalah pamor bernama Song of the Sea. Ketika kulihat trailer filmnya, aku langsung jatuh cinta dengan animasinya yang sangat indah.

Song of the Sea memiliki cerita adaptasi dari mitos Skotlandia. Ceritanya berpusat ke dua kakak beradik, Ben dan Saoirse. Ibu mereka meninggal saat melahirkan Saoirse dan membuat ayahnya depresi hingga sekarang. Saoirse sendiri tidak bisa bicara tapi lincah sehingga Ben kadang terganggu olehnya. Tapi mereka tidak tahu kalau Saoirse sebenarnya adalah seorang Selkie (manusia di darat, anjing laut di laut) dan memiliki kemampuan menyembuhkan makhluk yang membatu karena kutukan Macha, kemampuan yang sama dengan ibunya dulu.

Ceritanya agak rumit, dan jujur aja, aku juga gak ngerti sepenuhnya. Tapi animasi dan keimutan Saoirse terlalu bagus untuk dilewatkan. Kalian harus nonton.

8. Spongebob the Movie


Yang kumaksud adalah film Spongebob yang pertama, karena yang kedua cukup mengecewakan. Spongebob the Movie memiliki semua hal tentang Spongebob, dari petualangan Spongebob dan Patrick yang kekanakan, hingga Plankton yang super jahat. Filmnya memang gak terlalu panjang, tapi berkualitas.

Semuanya bermula ketika mahkota raja Neptune dicuri Plankton yang kemudian menuduh Mr. Krab sebagai pelakunya. Tentu saja raja Neptune tertipu, karena dia bodoh. Disinilah Spongebob dan Patrick melakukan petualangan mencari mahkota tersebut. Film ini ditutup oleh pesan bahwa kita harus lebih menyukai diri kita sendiri, apapun yang orang bilang.

9. Kung fu Hustle


Bukan Stephen Chow namanya kalau filmnya tidak lebay. Setelah sukses bersama Shaolin Soccer, kini Stephen Chow lebih ingin menceritakan tentang kungfu itu sendiri. Kungfu Hustle bercerita tentang perseteruan sebuah desa yang banyak diisi oleh master kungfu dengan grup mafia. Sing, yang tadinya anggota geng mafia, akhirnya berpaling melindungi desa itu setelah kekuatan kungfunya bangkit.

Keren dan lebay, tapi sedikit berbeda dari Shaolin Soccer yang hampir semuanya aksi, film ini menceritakan karakter si Stephen Chow dengan lebih baik. Kisah bagaimana dia belajar kungfu, hingga cinta pertamanya dengan sebuah cewek bisu saat masih kecil, aku suka semua itu.

10. Zombieland


Dan menutup list ini adalah film horor komedi (ya, komedi lagi) berjudul Zombieland. Zombieland bercerita tentang seorang lelaki bernama Columbus (mereka memakai nama kota sebagai nama tiap karakter) yang menjelajahi dunia penuh zombie. Awalnya sendirian, dia kemudian bertemu Tallahassee yang mana adalah pembunuh zombie sangar. Mereka lalu bergabung dengan Wichita dan Little Rock, yang kemudian mengkhianati mereka berdua.

Aku suka film ini karena memperlihatkan film zombie tidak harus selalu gelap dan penuh kematian, tapi juga bisa lucu dan menyenangkan. Bill Murray juga muncul disini sebagai orang yang berpura-pura jadi zombie lalu ditembak mati. Keren kan? :D

Pembunuh Imut


Jarno berjalan pulang dari kantornya. Langit sudah gelap dan tidak ada tanda-tanda orang lagi di sekitarnya. Suasana sangat sepi, tapi Jarno sudah terbiasa. Dia melihat jam tangannya sambil berharap kalau istrinya mau menghangatkan makanan malamnya nanti.
Tiba-tiba di sudut jalan, muncul seorang anak perempuan. Dia berjalan ke arah Jarno sambil melompat-lompat seakan dia sedang sangat bahagia.
Jarno tersenyum, tapi dia heran kenapa anak kecil itu sendiri saat malam begini.
Ketika dilihat dari dekat, anak ini sangat manis. Dia memakai baju putri dongeng, sehingga menambah keimutannya.
“Hai Dik,” sapa Jarno, “kenapa sendirian? Bahaya lho malam-malam gini.”
Anak kecil itu terjatuh karena tersandung sesuatu. Jarno buru-buru mendekatinya. “Kau tidak apa-apa?”
Anak kecil itu tidak menangis. Dia hanya tertunduk sambil memegang jarinya. Jarno yang melihatnya, hanya makin merasa kalau anak ini sangat imut.
Lalu anak itu melihat Jarno dengan mata bulatnya. Dia tersenyum. Senyum yang sangat manis.
Jarno merasa keimutan menyelimuti dirinya.


Polisi berlalu-lalang di jalan. Beberapa sedang memotret, yang lain menghalangi agar penduduk biasa tidak ikut campur.
Seorang wanita terisak-isak menjelaskan ceritanya pada detektif.
“Dia belum pulang juga hingga pagi ini. Ja. . .jadi aku mencoba mencarinya ke jalanan sebentar. Saat itulah aku menemukan dia terbaring di jalan. Aku tidak tahu harus bagaimana, jadi aku menelpon polisi. Dia. . .dia mati.”
Istri Jarno kemudian menangis lagi. Detektif yang bernama Rindra itu menepuk bahunya. Dia kemudian memanggil asistennya, Mira.
“Bagaimana?”
“Seperti kata anda. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Dia meninggal karena tercekik rasa imut.”
Rindra menggaruk kepalanya. “Ini sudah ketiga kalinya bulan ini.”
“Dengan total 10 korban. Pembunuh berantai ini sudah bertindak terlalu jauh!”
“Aku tahu. Kita harus segera menghentikan si pembunuh imut ini. Ada petunjuk?”
Mira menggeleng. “Seperti biasa. Aku menemukan beberapa batang lolipop yang dia makan saat menunggu korbannya. Tapi setelah itu nihil. Kejahatan sempurna seperti biasa.”
“Kita tak bisa menemuka DNA dari bekas lolipopnya?”
“Tidak. DNA-nya tertutup oleh kerlap kerlip bintang, mungkin karena dia sangat imut.”
Rindra sedang berpikir keras ketika tiba-tiba Inspektur kepolisian datang dan menegurnya. “Rindra! Sudah berulang kali kubilang jangan ikut campur kasus ini!”
Rindra tidak menjawab. Dia bahkan tidak melihat Inspektur. Mira yang berbicara menggantikannya.
“Maaf Pak. Tapi bukannya Bapak perlu semua bantuan yang bisa didapat?”
“Ya, tapi bukan dia,” kata Inspektur. Rindra melihatnya dengan tatapan kesal. “Jangan salah paham. Kau memang detektif yang hebat. Tapi kau membuat masalah ini menjadi pribadi sejak. . .”
Mira panik, “Pak, jangan bilang kata-kata itu!”
“....sejak anakmu hilang.”
Rindra tersentak. Dia lalu mengalami flashback.


Dia hanya ingin menonton lagi. Naruto sedang melawan Madara dan dia ingin tahu siapa yang menang.
“Papa, kita main dulu yuk. . .”
“Sstt diam. Madara lagi jelasin rencananya nih.”
Anaknya, Medina, kesal. Untunglah adik Rindra, Frank, mengajaknya pergi main.
“Pergi ke taman sama Paman aja yuk.”
“Tapi Papa udah jarang ngajak aku main,” keluh Medina.
Rindra malah mengejeknya, “Biarin, kamu kan udah gak imut lagi, bweeekkk.”
Medina mengembungkan pipinya karena kesal, “Dasar papa pantat gede!”
Pantat gede. Pantat gede.
Kata-kata itu terus terngiang. Itulah kata-kata terakhir Medina, karena setelah itu dia menghilang. Frank ditemukan meninggal. Korban pertama pembunuh imut.


“Kenapa dia diam sambil mengulang-ulang kata ‘Pantat gede’?” tanya Inspektur.
Mira memijit kepalanya. “Dia sedang flashback. Ini sering terjadi.”
“Yah, pokoknya kalian tidak boleh ikut campur lagi. Aku tahu Rindra masih mencari anaknya. Tapi kita tak bisa mencampurkan masalah ini dengan hal pribadi. Serahkan saja pada kami.”
Inspektur kemudian pergi melihat TKP. Mira menarik tangan Rindra, menyadarkannya daroflashback. “Ayo, aku antar anda pulang. Tak ada yang bisa kita lakukan disini.”
“Mira. . .”
“Ya?”
“Apa kesamaan semua korban?”
“Ngg, sebentar,” Mira terlihat berpikir, “mereka semua pulang malam?”
“Selain itu?”
“Hmm, mereka sudah berkeluarga.”
“Ya, tapi kau melewatkan sesuatu yang penting.”
“Apa itu?”
“Mereka semua adalah laki-laki yang suka hal-hal imut.”
Mira berkata kaget, “Benar juga. Kalau tidak salah korban kita yang sekarang juga suka My Little Pony. Dia memposting hal itu di blognya.”
Rindra mengangguk. “Kurasa aku tahu bagaimana memancing pembunuh imut keluar.”


Beberapa hari belakangan ini, Rindra sibuk membuat blog tentang banyak hal imut. Dia menggunakan nama Dolan sebagai samaran. Rindra sebisa mungkin membagi postingannya di setiap media sosial sehingga pembunuh itu bisa melihatnya. Dia juga dengan pintar menyelipkan informasi kalau dia suka pulang malam dan punya keluarga bahagia.
“Anda gila!!” kata Mira.
“Kenapa?” tanya Rindra sambil mengetik di blog.
“Anda bisa terbunuh! Pura-pura jadi korban supaya memancing pembunuh keluar. . .bagaimana kalau ada yang salah?”
Rindra melihat jam. “Sudah saatnya aku pergi. Kurasa aku bisa memancingnya malam ini.” Dia mengambil jaketnya dan hendak keluar, tapi Mira menghalanginya.
“Aku tidak bisa membiarkan Anda pergi.”
“Mira. . .” Rindra memegang tangannya. “Jika aku tidak kembali, aku ingin kau tahu. . .”
Mira menunggu. Matanya berkaca-kaca.
“Kalau aku. . .aku. . .makan es krim-mu kemarin.”
“Apa??”
“Aku menyesal soal itu.”
Lalu tiba-tiba, Rindra memukul perut Mira.
Mira mengerang sakit, “U...untuk apa itu?”
“Ngg, kukira kau akan pingsan dengan sekali pukul seperti di film-film dan aku akan pergi tanpa melihat kau menangis.”
“Anda terlalu banyak nonton TV.” Mira kemudian duduk di sofa. “Pergilah.”
Rindra tersenyum. “Kau tahu aku bercanda kan?”
“Anda tidak memakan es krim-ku?”
“Bukan,” Dia memakai kacamata hitam, “aku tidak benar-benar menyesal.”
Rindra kemudian pergi.


“Aw!” Dia menabrak tiang listrik. Dilepaskan kacamata hitam itu. Susah jadi keren saat malam-malam.
Rindra berjalan dengan tenang, sebisa mungkin tidak melakukan hal yang mencurigakan.
“Ayo, muncullah. . .” katanya dalam hati.
Jalanan sudah gelap dan tidak ada orang di sekitar sini. Tempat yang sangat bagus untuk melakukan kejahatan.
Apa yang diharapkannya pun datang. Seorang anak kecil muncul di pinggir jalan. Dia memakai baju ala Red Riding Hood yang membuatnya terlihat sangat imut.
Rindra sudah mempersiapkan melawan keimutannya itu. Dari kemarin dia nonton film sedih. Bahkan, dia nonton Finding Nemo dari adegan dimana ibunya mati. Kini hatinya sudah beku.
Walaupun begitu, keimutan si pembunuh tetap terasa di hatinya. Rindra berusaha mengingat hal sedih ketika pembunuh itu berjalan sambil tertawa manis.
Pembunuh itu terlihat terkejut melihat Rindra. Rindra merasa dia adalah orang pertama yang bisa bertahan dari keimutan si pembunuh sejauh ini.
“Kau. . .di mana anakku?”
Pembunuh itu hanya diam. Dia melihat Rindra dengan tatapan memelas seperti anak kecil yang ingin dibelikan sesuatu. Nafas Rindra menjadi sesak, tapi dia tetap bertahan.
“Di mana anakku?? Apa kau sudah membunuhnya?”
Pembunuh itu terkikik. Lalu dia tertawa jahat.
“Bukan papa! Akulah anakmu!!”
“Medina?” Rindra berlutut. “Tidak. . .ke-kenapa? Kenapa kamu menjadi seperti ini?”
“Apakah aku masih tidak imut papa?”
“Hah?”
“Papa bilang aku sudah tidak imut lagi. Bagaimana dengan sekarang?”
Rindra menggertakan gigi. “Kamu melakukan semua ini hanya karena itu? Papa kan Cuma bercanda.”
“Papa kan cuma bercandaaaa.” Medina mengulanginya dengan nada imut. Dada Rindra terasa sakit.
“Percuma, kamu gak bisa membunuh papa hanya dengan ini.”
“Benarkah?” Medina tersenyum. “Bagaimana kalau ditambah ini?”
Dia mengeluarkan kelinci dari balik jubah merahnya. Kelinci yang sangat, sangat imut.
“Uggh!!” Rindra memegang dadanya yang makin sakit. Dia tak akan bisa bertahan lebih lama.
“Bagaimana Pa? Aku imut kaaaannn....”
Dor.
Suara letusan pistol itu diikuti oleh Medina yang terjatuh di tanah. Rindra bisa melihat Mira, berdiri tak jauh dari situ sambil memegang pistol.
“Aku datang tepat waktu. . .” katanya.
Rindra yang mulai membaik langsung meraih bahu anaknya.
“Me-Medina. . .maafkan papa. . .”
Medina mengelus pipi Rindra. “Papa. . .aku imut kan?”
“Ya sayang, kamu imut kok.”
Medina menutup matanya sambil tersenyum. Rindra menangis terisak, “Kamu imut nak. . .”
Mira mendekati Rindra. “Maaf harus berakhir seperti ini.”
Rindra mengelap air matanya. “Tidak apa. Terima kasih sudah datang.”
Mira tersenyum, dia lalu membantu Rindra berdiri. “Paling tidak kasusnya selesai.”
“Ya, eh, tunggu. . .” Rindra melihat ke sekeliling. “Mana kelinci itu?”
Tiba-tiba Rindra merasakan sakit di punggungnya. Dia ambruk. Mira yang kaget langsung mencoba mengeluarkan pistolnya, tapi sebuah pisau lebih dulu di lehernya.
“Mi..mira.. . Mira!!” Rindra melihat dengan ngeri saat Mira terjatuh bersimbah darah. Dia sendiri tak bisa bergerak karena luka di punggung. “Apa yang terjadi??”
Kelinci berjalan ke arahnya sambil menggigit pisau. Rindra tak sempat berkata apa-apa sebelum pisau itu menghujam mukanya.

The Conjuring (Part 5 : Latihan)


(Ali)

Aku menguap lebar banget. Ibuku sampai berkomentar, “Wih, kayak black hole.” Aku hanya cuek sambil menggaruk-garuk punggungku.

Tadi malam aku benar-benar tertidur lelap. Pertarungan melawan Kevin dan Gin Gin, khususnya sebelum Zico dan Niko datang membantu, sangat melelahkan. Kasihan tubuhku, dia diciptakan untuk tahan main game, bukan untuk pertarungan seperti ini.

Aku sempat berbincang-bincang dengan Kemal kamarin sebelum kembali ke rumah, dan kami berdua agak menyesal sudah bicara terlalu cepat. Kalau dipikir lagi, yang akan kami ikuti ini perkara hidup mati. Hal seperti ini seharusnya dipikirkan dengan lebih mendalam dan menghitung untung ruginya.

Dan setahuku, kami tidak mendapat untung sama sekali, kecuali mungkin bisa bertemu dewa (yang mungkin bisa tetap terjadi jika kami mati).

Kugaruk kepalaku sembari berjalan keluar. Aku mengambil koran pagi di depan pintu rumah.

Nafasku tertahan ketika melihat salah satu beritanya sekilas. Dan sialnya, itu berarti koran itu berubah menjadi besi dan jatuh menghantam kakiku.

“Aduh, aduh. Sial.” Sambil terjingkat-jingkat, aku membawa koran itu ke meja makan. Berita tersebut menampilkan foto yang memperlihatkan bayangan sebuah makhluk besar di sebuah sungai. Makhluk yang menyerupai Loch Ness.

“Apa-apaan ini? Apa ini beneran?”

Foto itu jauh lebih jelas daripada foto-foto Loch Ness sebelumnya yang biasanya kabur, walaupun tetap tidak terlihat secara keseluruhan. Ditulis kalau ada warga sekitar sungai sedang ketakutan karena sering mendengar suara aneh di saat malam. Kini ditambah foto yang secara tidak sengaja diambil orang lewat itu. Warga pun gempar.

Biasanya aku cukup tertarik dengan hal misterius semacam ini. Tapi mengingat apa yang terjadi semalam, aku punya firasat aneh ini berhubungan dengan turnamen nanti. Aku jelas tidak mau melawan orang yang bisa menggunakan Loch Ness.

“Kenapa kok baca beritanya merengut gitu?” tanya ibuku yang sedang memasak telor untuk sarapan.

Aku buru-buru melipat koran itu, “Gak papa. Aku mau ke tempat Kemal dulu ya.”

“Eh, makan dulu dong.”

“Masih kenyang. Kemarin kebanyakan makan indomie.”

“Paling gak mandi dulu dong.”

“Ih, cuma ke tempat Kemal kok. Bentar juga balik.”

“Gosok gigi dulu!” katanya sedikit marah.

Aku merengut. Seandainya saja ibuku tahu kalau aku sedang menghadapi masalah yang lebih besar daripada kesehatan gigi. Tapi harus kuakui di saat seperti ini, ibuku lebih mengerikan dibanding Loch Ness.

Malas-malasan, aku menuju ke kamar mandi. Kubuka pintunya.

“Hei.”

“AAAHHHHHH!!!” teriakku.

Aku hampir terkena serangan jantung melihat Pak Moes sedang duduk santai di kloset kamar mandiku.

“Kenapa Li?” tanya ibuku dari dapur.

“Eh, enggak. Cuma kecoa!” Aku masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya. “Apa yang kau lakukan disini?”

“Oh maaf. Aku hanya ingin memberitahu kalau kita akan latihan sebelum turnamen. Nanti malam berkumpul di lapangan dekat warung Pak Moes ya. Jam 10-an.”

“Kau tahu, kau bisa masuk dari pintu depan seperti orang normal lain kali. Ngomong-ngomong, latihan apa?”

“Aku sudah meminta temanku untuk membawa beberapa orang dari timnya untuk latih tanding bersama kita. Ini adalah latihan pertama dan terakhir sebelum turnamen.”

“Apa? Memangnya turnamennya kapan?”

“Lusa.”

“Ta...tapi, aku belum siap mental!”

“Karena itu, datanglah latihan.” Pak Moes dengan santai bersandar dan melipat kakinya. “Aku ingin bertanya sesuatu kalau boleh?”

“Eh, apa?”

“Kenapa kekuatanmu adalah koran menjadi besi. Kekuatan ini biasanya didapat dari sifat khusus pemiliknya. Apa hubunganmu dengan koran?”

“Oh, itu. . .” Aku bersandar ke pintu kamar mandi, “ceritanya panjang.”

“Yah, aku cukup nyaman disini.”

“Oke oke. Itu karena. . . aku pernah jadi loper koran saat kecil.”

Hening.

“Wow, itu cerita yang sangat panjang,” komentar Pak Moes. “Kenapa kau jadi loper koran?”

“Yaahh, ayahku menghilang. Jadi aku perlu uang saat itu.”

Pak Moes menundukkan kepala. “Oh, semoga dia berisitirahat dengan tenang.”

“Tidak tidak. Dia tidak mati. Dia menghilang. Kejadiannya sangat aneh, dia menghilang begitu saja. Kami sedang makan di sebuah restoran, dia masuk ke kamar mandi dan puff. . .dia menghilang. Sampai sekarang aku juga tidak mengerti apa yang terjadi.”

Ekspresi Pak Moes berubah.

“Apa kau yakin dia tidak. . . yah, kabur mungkin?” tanya Pak Moes.

“Tidak. Aku menyusul dia sekitar 1 menit setelah dia masuk karena ingin pipis juga. Tapi dia sudah tidak ada.”

Kini dia hanya diam, membuatku curiga.

“Hei, jangan bilang kau tahu sesuatu tentang ayahku?”

Sebelum dia sempat menjawab, sebuah ketukan di pintu mengagetkanku.

“Kok lama banget sih di dalam? Ibu mau pake juga nih!” teriak ibuku, kini agak menggedor.

“Bentar, lagi flashback!!”

“Ibu juga mau flashback. Gantian dong.”

Aku melihat lagi ke Pak Moes, dan dia sudah tidak ada disana. Saat itu juga ibuku masuk dengan kasar.

“Sana keluar, gantian.” Dia melemparku keluar. Aku tidak sempat kesal. Setelah ibuku menutup pintu, aku buru-buru pergi keluar, ke tempat Kemal.




“Kau melihat Loch Ness dan Pak Moes di kamar mandi?”

“Bukan, ya ampun. Kau dengar kata-kataku gak sih?” kataku kesal.

“Kau bicara terlalu cepat tahu!”

Aku mengatakan lagi apa yang telah terjadi pagi ini, termasuk perubahan ekspresi Pak Moes saat aku menceritakan ayahku. Kemal terlihat berpikir.

“Hmm, itu memang aneh. Kenapa Loch Ness muncul di sungai? Seharusnya kan di danau.”

“Kau tidak merasa curiga kalau Pak Moes tahu sesuatu tentang ayahku?”

“Ya, itu juga. Dan. . .” Kemal berhenti. “Oh, dia datang lagi.”

“Siapa. . . OH SIAL!!”

Fathia berlari menuju arahku. Dia melompat untuk memeluk, yang kuhindari dengan sedikit bergeser ke samping. Dia jatuh menghantam tanah.

“Jangan peluk-peluk aku!” bentakku.

Fathia, yang mana juga adalah mantan pacarku, merengut. “Aku masih sayang tahu!!”

“Aku tidak! Pergi sana.”

“Kenapa kau tidak mau balikan denganku??”

“Ya, kenapa tuh?” komentar Kemal ikut-ikutan.

“KARENA KAU GILAAA!!”

Dibilang seperti itu, Fathia makin merengut. “Aku akan membuatmu suka padaku lagi. Lihat saja. Di turnamen nanti, aku akan membuatmu jatuh hati.”

Dia terus berteriak sambil pergi menjauh.

Eh tunggu, turnamen?

“Ya ampun, jangan bilang dia juga ikut turnamen??” kata Kemal seakan-akan mengatakan pikiranku.

Aku shock. “Aku berharap tidak akan melawannya.”

“Apa ya kira-kira kekuatannya?”

“Jadi orang menyebalkan mungkin, aku tak tahu.”

Walaupun kubilang begitu, aku kepikiran juga. Sial, aku benar-benar butuh latihan nanti malam. Semoga saja itu bisa membangkita kepercayaan diriku.




Dan. . . .disinilah aku, sangat tidak percaya diri setelah melihat Kemal, Zico dan Frank dibantai oleh seorang cewek. Cewek yang sangat kuat.

“Bagus Tephi,” kata mas-mas yang juga merupakan staff dewa bernama Paolo. Tephi yang dibilang adalah salah satu anggota timnya. Dia membawa satu orang lagi, namanya adalah Risfan, cowok kribo gempal yang terlihat sangat menikmati pembantaian ini.

“Begini saja nih? Ini sih bukan latihan untukku.” Kata Tephi.

Pak Moes menoleh ke arahku, “Giliranmu. Ayo maju.”

“Apa kau gila?? Apa kau tidak melihat dia mengalahkan mereka bertiga dengan mudah?”

Aku tidak bercanda. Kekuatan Tephi sebenarnya simpel, menukar apa yang di tangannya dengan benda yang dilihatnya. Tapi secara praktek, dia menggunakannya secara pintar. Tephi menyimpan banyak bom ukuran kecil yang bisa dia tukar kapanpun dia mau.

Kemal dikalahkannya dalam 2 menit. Tephi menukar bat baseball yang Kemal buat dengan bom. Bom tersebut meledak di tangannya.

Zico sedikit lebih baik. Dia berhasil membuat Tephi harus menghindari serangan robotnya. Tapi Zico ceroboh dengan menunggangi robot itu. Dalam sekejap, Zico malah jadi menunggangi bom. Dan dia pun kalah.

Frank kalah ketika gitarnya ditukar dengan bom. Dia kalah tanpa bisa berbuat apa-apa.
Apa yang harus kulakukan melawan cewek ini?

“Maju saja sudah!” perintah Pak Moes. Aku maju dengan takut-takut. Tephi melihatku dengan serius.

“Oke mulai!” teriak Paolo.

Aku tahu Tephi akan mengubah koranku menjadi bom. Aku bergerak cepat dan merobek koran jadi potongan kecil itu lalu melemparkannya ke Tephi. Kutahan nafasku.

Tephi menghindari koran besi itu. Dia tersenyum, “Boleh juga.”

Sambil memutari dia, aku melemparkan koran lagi. Tapi sebelum kulempar, koran itu berubah menjadi bom. Aku berguling-guling menghindarinya. Sial, reaksi Tephi sangat cepat.

“Hei,” katanya tiba-tiba.

“Ngg, apa?”

“Kau menyimpan koran cadangan di kantongmu tuh.”

“Yaa, terus kena. . .oh sial.”

Bukan koran, yang ada justru bom di kantongku. Aku merasakan hawa panas ketika bom itu meledak. Ingatanku cukup kabur setelahnya.



“Hei bangun.”

Aku melihat Kemal sedang menggoyangkan badanku. Untuk sesaat, aku bingung apa yang terjadi. Lalu aku ingat pertarungan itu.
Dadaku terasa sakit luar biasa, pasti akibat ledakan di kantong. Oh bagus, bajuku rusak parah. Walaupun aku tak mati karena ledakan, ibuku akan membunuhku karena aku merusak baju bagus.

Aku  melihat Zico (yang kelihatan kesal) dan Frank (yang kelihatan seperti orang mabuk) duduk di sekitarku. Niko terlihat tidak apa-apa.

“Apa kau menang melawan Tephi?” tanyaku padanya.

“Tidak juga. Kami hanya sama-sama tidak bisa menyerang karena aku bisa menghilang dan aku tidak bisa memukulnya saat menghilang.”

“Yah, paling tidak kita tahu siapa yang bisa melawan Tephi nanti,” kata Pak Moes. “Kurasa kalian sudah tahu inti dari latihan ini.”

“Hmm, diledakkan itu sakit?” tebak Kemal.

“Maksimalkan kekuatan kalian, itulah inti latihan ini. Tephi tidak menggunakan kekuatan secara membabi buta sepeti kau dan Zico lakukan. Ali sudah cukup bagus, tapi masih ceroboh menyimpan koran di kantong setelah tahu kekuatannya. Frank . . .yah, Frank harus lebih berusaha.”

Aku menunduk. Jika di turnamen nanti semua lawan seperti Tephi, kami hampir pasti tidak punya kesempatan.

“Jadi, apa yang harus kami lakukan?” tanyaku.

“Mulai sekarang, pikirkan cara untuk memaksimalkan kekuatan kalian.” Dia berdiri dan mulai menunjuk kami satu per satu.

“Ali, caramu menggunakan koran sebagai shuriken tadi sudah bagus. Jangan lupakan kau bisa menggunakan kelenturan koran sebelum merubahnya jadi besi.”

“Kemal, kau tidak perlu selalu mengeluarkan senjata. Pikirkan benda-benda yang bisa merepotkan lawan saat bertarung. Jangan lupa, menulis bisa memakan waktu. Belajar menulis lebih cepat.”

“Frank, kunci seranganmu adalah serangan cepat. Jangan sampai lawan menyerangmu duluan sebelum kau memainkan musik. Mungkin kau bisa mulai dengan musik yang mudah dimainkan tapi bisa mempengaruhi lawan. Carilah lagu semacam itu.”

“Zico, belajarlah menggunakan robotmu dari jauh. Kekuatan dan ukuran robotmu sudah menjadi keuntungan, ditambah senjata yang dimilikinya. Jangan memukul lawan membabi buta. Belajarlah menganalisa situasi dan tahu kapan harus bertahan.”

“Dan terakhir Niko. Kekuatanmu cukup merepotkan karena kau tak bisa menyerang dengan tangan kosong saat menghilang. Siapkanlah senjata, apapun yang bagus untuk serangan jarak dekat. Belajar untuk berjalan pelan dan tidak terdeteksi sama sekali.”

Kami semua diam. Wow, Pak Moes ternyata cukup hebat soal ini. Aku sudah meremehkannya. Aku melihat Zico dan Kemal sudah mulai berpikir tentang apa yang harus dilakukan. Sebaliknya, Niko dan Frank masih terlihat takut.


“Bersiaplah,” kata Pak Moes lagi, “Turnamen akan mulai lusa. Kalian harus siap saat itu.”



Bersambung. . .