Kemal si Blogger Iseng

show them all you're not the ordinary type

Farandi Mengunjungi Kami (Petualangan di Zombie Apocalypse 2 Part 13)


baca part sebelumnya disini.

Dan tidur yang paling nyaman itu terganggu dengan cepat.

Indra membangunkanku dengan menggoyang-goyangkan badanku, “Hoi bangun.”

Sepertinya nyawaku masih setengah entah dimana. Untuk sesaat aku bahkan bingung dimana diriku. Suara hujan masih terdengar di luar.

“Kenapa?”

“Sepertinya aku mendengar suara mobil.”

Kata-katanya butuh satu detik untuk masuk ke otakku, tapi setelah itu aku sadar sepenuhnya karena tegang. “Maksudmu para bandit?”

“Ssstt diam. Mulai sekarang bicara dengan lebih pelan. Siapa para bandit yang kau bilang ini?”

Aku menceritakan tentang kejadian saat Tori diculik. Untunglah Zico pergi entah kemana, kalau tidak dia bisa menghajarku lagi.

“Jadi ada geng bandit lain di kota ini yang menghabisi geng bandit yang menculik kalian?”

“Ya begitulah,” kataku. “Kami tak pernah melihat para bandit ini, tapi sepertinya mereka lebih pintar daripada yang menculik kami. Oh, dan lebih kejam juga.”

Indra mengagguk, “Baru kali ini aku melihat orang yang menggunakan zombie sebagai senjata. Memang kejam, tapi pintar.”

“Kurasa tak ada perlunya memuji musuh. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Jika itu memang mereka, maka kemungkinan mereka sekarang sedang menyiapkan pasukan zombie untuk membunuh kita.”

“Tenang dulu.” Indra mengintip keluar. “Aku tidak melihat apa-apa. Hanya suara mobil, tapi bisa saja mereka hanya lewat. Yang kita bisa lakukan sekarang hanyalah menunggu. Tak bagus jika kita melakukan sesuatu jika tidak tahu rencana mereka. Lagipula, rumah ini bisa menjadi tempat perlindungan yang bagus.”

Aku melihat sekeliling. Rumah ini tidak bisa dibilang tempat perlindungan, tapi masih lebih bagus daripada di luar. “Oke, terserah katamu saja.”

“Untuk berjaga-jaga, sebaiknya kau tidak tidur dulu. Kita perlu beberapa orang untuk mengawasi keadaan.”

“Apa? Aku ngantuk,” keluhku. “Dimana Zico? Biar dia saja yang jaga duluan.”

“Terakhir kulihat dia pergi ke belakang rumah,” katanya sambil menunjuk arah yang dimaksud. “Pergi bilang dia situasi sekarang.”

Aku dengan malas bangun dari sofa. Setelah peregangan sebentar, aku berjalan ke bagian belakang rumah. Di situ terletak dapur dan pintu ke halaman belakang yang sepertinya dulu untuk mencuci. Tidak ada Zico.

Aku mengecek kamar Ali. Aku lupa Rere sedang menjaga Ali di kamar yang sama, dan saat kubuka ternyata Ali sedang mengecup dahi Rere. Mereka langsung terlihat malu saat melihatku.

Komentarku sebagai orang yang jarang terlibat situasi seperti itu sangatlah bagus, “Ngg..ngg...mhh...keren.”

Keren? Aku baru saja melihat adegan mesra dan yang kubilang malah ‘keren’? Kadang aku tidak mengerti dengan diriku sendiri.

“Mal, ketuk dulu dong!” kata Ali dengan muka merah. Rere juga memerah. Tapi aku yang melihatnya justru lebih malu.

“Anu, aku hanya ingin bertanya apa kalian melihat Zico,” tanyaku.

Mereka menggeleng.

“Oke, keren. Lanjutkan apapun yang sedang kalian lakukan tadi. Atau...jangan. Entahlah.”

Aku segera keluar dari kamar itu karena tidak tahan dengan suasana canggung di sana. Bisa-bisanya mereka mesra di saat seperti ini. Oh ya, aku lupa menjelaskan situasi sekarang. Tapi sudahlah, aku bisa menjelaskan nanti. Malas ke kamar mereka lagi.

Aku menuju kamar Medina, dan belajar dari pengalaman, aku mengetuk pintu (bukan karena kau merasa Medina sedang mencium Clara atau apa, tapi ini kan kamar cewek dan aku harus menghargai privasi).

“Kenapa?” Intan yang membuka pintu. Aku menceritakan apa yang didengar Indra. Dia terlihat cemas.

“Oke, aku akan berjaga-jaga dari sini. Kebetulan kamar ini menghadap ke depan,” katanya.

“Bagus. Ngomong-ngomong, apa kau melihat Zico?”

Dia mengangkat bahu, “Dia tidak masuk ke sini yang pasti.”

Aneh, dimana tuh anak. Aku baru akan pergi lagi ke depan untuk membicarakan hal ini dengan Indra ketika tiba-tiba pintu belakang menjeblak terbuka.

Awalnya kukira musuh, tapi ternyata itu Zico.

“Dari mana kau?” tanyaku sedikit kesal karena dia pergi tanpa memberitahu siapa-siapa.

Zico mengambil bungkus rokok dari kantongnya, “Ambil ini di salah satu warung.”

“Aku tidak tahu kau merokok?”

“Sempat berhenti karena Tori menyuruhku,” katanya. Dia lalu melewatiku begitu saja. Sejak bertemu dengannya, aku sudah takut kami harus membahas soal Tori lagi.

“Dengar ya Zic, aku tak peduli kau masih marah, tapi dengan adanya bandit yang berkeliaran sangat tidak bagus jika kau pergi begitu saja. Mereka bisa menangkapmu.”

“Atau lebih parah,” kata Indra tiba-tiba, masih mengintip jendela. “Mereka bisa mengikutimu kesini.”

Aku dan Zico sama-sama melihat ke luar jendela. Benar saja, ada beberapa mobil van berhenti di dekat rumah kami.

Aku melihat ke Zico, “Lihat apa yang kau lakukan?”

“Aku tak melihat apa-apa tadi,” katanya mengelak.

“Apapun itu, ini berbahaya. Pergi bangunkan yang lain. Aku dan Zico akan berjaga-jaga di sini.” Indra menyiapkan senjatanya.

Kuberi Zico pandangan kesal terakhir lalu pergi dari sana. Intan sudah keluar kamar duluan sebelum aku menggedor pintunya.

“Apa ini yang seperti kupikirkan?” tanyanya.

“Ya. Bangunkan Medina dan Clara. Berkumpul di ruang depan.”

Setelah itu aku pergi ke kamar Ali. Aku bahkan tidak mempertimbangkan untuk mengetuk pintu lagi walaupun sebelumnya tejadi hal canggung seperti itu. Situasi sekarang sangat mendesak.

“Ali, Rere, kumpul di depan! Kita dalam masalah!” kataku membuka pintu. Untunglah mereka hanya sedang ngobrol.

“Ada apa?” tanya Ali kaget.

“Kujelaskan di depan. Ayo. Kau bisa jalan?”

“Sedikit. Tadi aku berlatih sebentar dengan Rere.”

“Bagus, cepatlah kalau begitu.”

Aku kembali ke Zico dan Indra untuk menanyakan situasi. “Bagaimana?”

“Belum ada gerakan apa-apa...” bisik Indra. Medina dan yang lain akhirnya berkumpul bersama kami. Aku dengan suara pelan menjelaskan keadaan yang kita hadapi sekarang.

“Bagaimana jika mereka membawa zombie-zombie lagi untuk mengepung kita?” Medina menanyakan sesuatu yang paling kutakutkan.

Indra yang menjawab. “Kita bisa melewati ini jika kita tenang. Kalian semua kan sudah berpengalaman melawan zombie. Jika mendesak, kita bisa gunakan ini untuk kabur.” Dia mengeluarkan granat.

“Kau yakin itu ide bagus?” Aku pernah melempar granat sekali dan aku tidak suka dengan peledak itu.

“Ya, kita gunakan waktu sesaat dimana mereka kebingungan. Tapi ini rencana darurat. Kalau memang keadaan mendukung, kita bisa saja kabur dari pintu belakang. Yang harus kita lakukan sekarang adalah melawan zombie yang mereka siapkan. Kita susun rencana setelah itu.”

Menyusun rencana sambil bertarung bukanlah gayaku, tapi Indra adalah tentara dan dia lebih berpengalaman daripadaku. Aku berharap banyak padanya. Sekarang aku harus menyiapkan diri melawan manusia-manusia mati sebanyak mungkin.

Tapi satu suara membuatku tersadar kalau kami tak akan melawan manusia mati.

Guk!!

Kami semua saling berpandangan dengan ngeri.

“Apa tadi suara anjing?” tanya Ali.

Medina terlihat pucat. “Apa....masa sih...”

“Anjing zombie,” kataku menyuarakan ketakutannya. “Ya ampun...”

Ekspresi Indra kini berubah. Dia jelas belum pernah berperang dengan anjing sebelumnya. “Jadi karena itu mereka membutuhkan waktu untuk menyerang kita. Mereka membuat pasukan anjing zombie.”

Kami pernah melawan hewan yang berubah menjadi zombie. Hewan itu adalah kucing, dan itu hampir membuat Zico menjadi zombie. Entah bagaimana jika harus menghadapi anjing yang lebih ganas.

“Yah, tapi paling tidak mereka harus mendobrak masuk kesini sebelum bisa memasukkan anjing. Ya kan?” kata Ali.

Sesaat setelah itu, kaca jendela tiba-tiba pecah. Bandit-bandit sialan itu melempar batu besar ke jendela kami sehingga menimbulkan lubang cukup besar yang bisa dimasuki anjing.

“Sialan. Semuanya cepat masuk ke kamar!!” teriak Indra.

Kami tak sempat bergerak terlalu jauh. Seekor anjing dilempar masuk ke dalam rumah kami melalui jendela diikuti dua ekor lainnya. Mereka awalnya tak bergerak, tapi beberapa saat kemudian mereka bangun lagi dengan mata merah. Air liur menetes-netes dari taring mereka.

Anjing-anjing itu melihat kami dan mengejar dengan sangat cepat. Kami tidak berhasil mencapai kamar dan terpaksa pergi berpencar untuk menghindari serangan itu.

Indra berhasil memukul salah satu dari mereka dengan senjata besar yang dipegangnya, tapi dia tak membunuhnya. Sementara itu, aku dan Zico terpaksa kabur ke dapur karena seekor anjing memilih mengejar kami.

Anjing itu melompat ke arahku. Aku melompat ke samping dan dia menabrak dinding dapur. Zico mencoba menyerangnya, tapi reaksi anjing itu sangat cepat. Dia sepertinya merasa kesakitan dan langsung melompat ke Zico.

Zico tak bisa menghindar. Tangannya tergigit dengan telak.

“AAAKHHH!!” teriak Zico. Anjing itu tidak melepaskan gigitannya. Dia justru makin menanamkan giginya ke lengan Zico.

Bagusnya, itu membuatnya tidak bergerak kemana-mana. Aku mengambil pisau dapur yang terletak di dekat situ dan langsung menghujamnya ke kepala si anjing.

Gigitan itu akhirnya terlepas. Zico jatuh ke bawah menahan sakit, darah bercucuran dengan keras.

“Tunggu disini! Aku akan memanggil Rere!” kataku padanya. Aku keluar dapur untuk melihat keadaan.

Satu anjing sudah tergeletak mati, sementara satu lagi sedang mencoba menyerang Medina dan Clara yang kini bersembunyi di dalam lemari.

“Kemal, tolong!!” teriak Medina dari dalam.

Aku mencoba mengalihkan perhatian anjing itu, “Hei!! Anjing sialan, kesini!!”

Berhasil. Atau harus kubilang, sialnya berhasil. Anjing itu kini berbalik mengejarku. Aku memegang erat pisauku dengan takut. Aku tahu aku tak akan bisa menusuk anjing itu dengan tepat jika dia berlari ke arahku dengan kecepatan seperti itu.

Untungnya aku tak perlu menghadapinya secara langsung. Indra keluar dari salah satu kamar dan berhasil menembak anjing itu dengan akurat. Tiga peluru di tubuh cukup membuat hewan itu tak bergerak lagi.

“Bagaimana dengan anjing yang lain?” tanya Indra.

“Sudah mati semua. Dimana Rere? Zico tergigit dan perlu bantuannya!”

Indra terkejut. Dia memanggil Rere dari kamar tempat dia keluar tadi. Ali dan Intan juga ada di sana.
Aku memberitahu kondisi Zico pada Rere. Dia langsung berlari ke dapur untuk coba melakukan apa yang dia bisa.

“Yang lain tidak apa-apa?” tanyaku pada Indra.

“Nyaris, tapi kurasa semua selamat. Mana Clara dan teman cewekmu itu?”

Aku menunjuk ke arah lemari tempat mereka bersembunyi. Sepertinya mereka masih belum berani keluar.

“Mungkin lebih baik mereka disana dulu sampai kita bisa menyusun rencana,” ujar Indra. “Kita berharap saja mereka tidak punya anjing zombie lagi.”

“Mereka punya.”

Aku dan Indra dikagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba masuk melalui jendela. Itu Farandi.

Indra langsung mengangkat senjatanya, “Siapa kau? Apa yang kau mau?”

“Tunggu,” kataku menahannya. “Aku kenal dia. Apa kau bersama mereka sekarang?”

“Aku ingin memperingatkan kalian,” katanya tenang. Dia mengeluarkan pistolnya. Itu membuat Indra makin siaga.

“Kalau kau melukaiku, banyak lagi anjing yang akan dilepaskan kesini. Kalian tidak akan selamat.”
Indra kini ragu. “Kutanya sekali lagi, apa yang kau mau?”

“Bosku ingin kalian menyerah dan bergabung dengan kami. Mereka membutuhkan orang untuk menyerang kelompok lain dan kalian sepertinya cocok.”

“Bos? Kau benar-benar bergabung dengan mereka ya?” tanyaku sinis. “Padahal mereka sudah membunuh semua temanmu.”

“Aku tidak punya teman. Dan ya, aku bergabung dengan mereka untuk bertahan hidup. Mereka sudah menguasai kota ini tahu. Di masa seperti ini, hanya beberapa orang yang bisa terus hidup dan kami menawari kalian kesempatan itu.”

“Lalu apa yang akan kalian lakukan jika kami bergabung?” Indra masih siaga dengan pistolnya.

“Kalian harus membantu kami merebut kota lain dari para bandit. Kita perlu sebanyak mungkin apapun yang bisa membantu kita selamat. Kita tak bisa berbagi dengan orang lain,” jawab Farandi.

“Kau mau kami membantu kalian membunuh banyak orang? Tidak, terima kasih,” kata Indra. Farandi terlihat marah karena dilecehkan seperti itu.

Aku tak bisa seyakin Indra. Sekarang kami berada dalam situasi sangat terpojok. Kata-kata menantang seperti yang dia lakukan mungkin tidak terlalu membantu sekarang.

“Kemal, keadaan Zico gawat...” Rere datang dari dapur. Dia berhenti ketika melihat Farandi. “Lho, kenapa kau ada disini?”

“Zico kenapa?” Aku menyelanya.

“Lukanya terlalu dalam. Perlu dijahit,” kata Rere.

“Sepertinya kalian dalam masalah. Pertimbangkan lagi soal tawaran itu,” Farandi berkata lagi. “Dan Rere, aku ingin bertanya sesuatu. Apa yang sebenarnya terjadi dengan kak Niko?”

Kami berdua mematung. “A...apa maksudmu?”

“Aku ingin tahu bagaimana dia meninggal.” Farandi mengangkat pistolnya ke arah kami. “Dan jangan berbohong padaku. Aku merasa kalian menyembunyikan sesuatu saat aku bertanya soal ini di atap.”

“Turunkan senjatamu!!” bentak Indra.

“Kau yang turunkan senjata! Tembak aku dan bersiaplah menghadapi banyak anjing zombie!” balasnya.

Aku saat itu bisa melihat keadaan Farandi yang sebenarnya. Badannya gemetar dan penuh keringat. Dia berlagak berani, tapi aku tahu dia lelah dan takut dengan semua ini. Dia melakukan ini demi mengetahui kebenaran tentang kakaknya Aku tak tega berbohong lagi.

“Akan kukatakan yang sejujurnya,” kataku. “Aku membunuh kakakmu.”

Farandi sangat terkejut. Dia berkata terbata-bata,”Kau...kenapa?”

“Karena dia mencoba membunuh kami juga. Banyak yang terjadi, tapi dia jadi dendam terhadap kami. Jika aku tak membunuhnya, dialah yang akan membunuhku.”

Farandi terdiam.

“Dengar, aku menyesal semua itu terjadi. Tolong maafkan aku.”

Farandi melihatku. Air mata menggenang di matanya. Dia mengarahkan pistolnya ke arahku sambil gemetar.

“Jatuhkan pistol itu!” Ancam Indra lagi. Kali ini Farandi tidak menjawab. Dia terus melihatku dengan marah.
Aku melihat Medina keluar dari lemari dengan pelan. Farandi tidak menyadarinya. Hatiku berdegup keras. Tapi inilah kesempatan terbaikku. Aku harus tetap mengalihkan perhatiannya.

“Far, kau harus tenang..” kataku berpura-pura membujuk.

“Tenang??” Suaranya bergetar dalam amarah. “Bagaimana mungkin aku tenang?”

Medina mengambil asbak di meja. Farandi belum sadar.

“Tak ada untungnya kau membunuhku,” kataku. “Mungkin aku memang salah saat itu, tapi aku melakukannya untuk bertahan hidup.”

Farandi kini ragu. Dia sepertinya memikirkan kata-kataku. Kesempatan. Medina mendekat dari belakang.
Kaki Medina secara tak sengaja menghantam meja. Suara itu membuat Farandi kaget dan secara refleks menembak ke belakangnya.

Medina tak bergerak. Perutnya mengeluarkan darah. Dia sempat melihatku sebelum akhirnya ambruk ke lantai.


Ketakutan menjalar di jantungku melihatnya terbaring di lantai.



Bersambung....ke part 14.

0 komentar:

Posting Komentar