Kemal si Blogger Iseng

show them all you're not the ordinary type

Aku Diselamatkan Power Rangers


Aku memutuskan untuk membeli cemilan sebelum nonton DVD yang baru saja kubeli. Untunglah di dekat sini ada minimarket yang cukup lengkap.
“Mau ke mana Mal?” Itu ibuku bertanya dari dapur.
“Ke minimarket doang. Bentar kok.”
“Hati-hati. Katanya akhir-akhir ini ada orang aneh yang suka berbuat jahat.”
Orang aneh yang suka berbuat jahat? Kadang-kadang ibuku mengatakan sesuatu yang sangat tidak jelas. Aku tidak peduli dan tetap pergi. Memangnya apa sih yang bisa terjadi?
Dan....semua yang dikatakan ibuku memang terjadi. Ketika aku sedang membayar, tiba-tiba saja muncul orang sangat aneh yang berbuat jahat. Mungkin agak salah jika dibilang orang aneh, karena dia adalah monster dengan muka kodok dan berbadan gempal.
“Aku adalah Terror Toad! Sekarang serahkan semua uang di kasir!!” katanya. Suaranya sama jeleknya. Aku baru kali ini melihat ada penjahat yang menyebutkan namanya dulu sebelum melakukan tindak kejahatan.
Ternyata Terror Toad punya anak buah berupa orang-orang yang sepertinya memakai topeng katak dan membawa pistol. Mereka menyandera semua pengunjung sementara si bos menunggu kantongnya yang dibawanya dipenuhi uang.
Banyak orang yang mengatakan hawa keberadaanku tipis. Mereka kadang tidak sadar jika aku berada di dekatnya. Kini, kemampuan itu sangat berguna. Aku bisa menyelinap keluar dari minimarket untuk mencari bantuan.
Tapi aku tak perlu mencari jauh, karena tiba-tiba muncullah beberapa orang aneh lagi. Kalau yang tadi aneh karena dia monster, kali ini aneh karena mereka semua memakai baju terusan warna-warni sambil memakai helm yang matching. Mereka semua datang memakai motor, yang lagi-lagi memiliki warna sama dengan baju yang dikenakan. Masing-masing berwarna biru, hijau, pink dan kuning.
Mereka lalu turun dengan bersamaan, seakan-akan semua ini memang sudah dilatih sebelumnya. Si kuning mendekatiku, “Apa yang terjadi di sana?”
“Ngg...ada monster ngerampok.”
“Tenang saja. Kami berlima akan menyelamatkan semua.”
Aku merasa ada yang salah dengan kata-katanya, “Berlima? Bukannya kalian cuma berempat?”
“Oh, Ranger merah tadi ditilang polisi karena tidak menghidupkan lampu depan. Sebentar lagi dia datang.”
“Apa? Tilang? Ranger?” Aku jadi bingung karena terlalu banyak yang tidak kumengerti.
Seperti kata si kuning, beberapa saat kemudian muncul Ranger merah dengan motornya. Sepertinya dia adalah pemimpinnya karena yang lain langsung mengerumuninya untuk mencari arahan.
Mereka berdiskusi sebentar. Setelah itu mereka berbaris sejajar. Tiba-tiba saja mereka berpose sambil meneriakkan warna baju mereka sendiri.
“Ranger merah!”
“Ranger biru!”
“Ranger hijau!”
“Ranger kuning!”
“Ranger pink!”
“Kami adalah....Power Ranger!!” teriak mereka serempak sembari bergaya siap siaga. Yang lebih mengejutkan, setelah itu terjadi ledakan besar di belakang mereka, membuat jalan menjadi rusak dan berlubang.
“Dari mana ledakan itu?” tanyaku masih kaget.
Ranger hijau yang menjawab, “Tiap kami berpose, pasti akan ada ledakan agar dramatis. Semakin banyak kami, semakin besar ledakannya.”
“Kalau begitu, jangan sering-sering berpose!!”
Ledakan itu membuat si monster dan para anak buahnya keluar dari minimarket. Terror Toad melihat para Power Ranger dan memerintahkan anak buahnya untuk menyerang.
“Hancurkan mereka!!” teriaknya.
“Lawan! Jangan lupa lindungi masyarakat biasa!” balas si merah. Mereka lalu menyerang para monster. Mereka mulai bertarung dengan sengit. Aku menonton dari jauh dengan takut-takut.
Semua kata-katanya tentang melindungi masyarakat biasa hanyalah omong kosong. Mereka menghantam para monster dengan sangat keras sampai-sampai monster malang itu terlempar dan menghantam kaca toko di pinggir jalan sampai hancur.
Belum lagi ada sesuatu yang aneh saat mereka bertarung. Kapanpun salah satu dari mereka dilukai, akan ada percikan yang mirip percikan kembang api dari tubuh mereka. Ranger kuning baru saja dihajar, menimbulkan percikan api yang kemudian membakar toko asongan di sebelahnya. Aku buru-buru membantu pemiliknya memadamkan api.
“Apa-apaan sih mereka??” keluhku sambil menepuk-nepuk api dengan jaketku sendiri.
Ranger pink mendengar itu, dan dia mengira aku menunjuk para monster. “Tenang. Kalian akan selamat selama ada kami disini.” Itu kata-katanya sebelum dia dihantam dan menimbulkan percikan yang menyalakan lagi api yang tadi sudah kumatikan.
“Berhenti terkena serangan!!” Aku dengan panik mencoba memadamkan api lagi.
Sementara itu pertarungan makin berat sebelah. Power Rangers diluar dugaan sangat kuat. Walau mereka berkali-kali terkena serangan (yang hampir membakar banyak barang), mereka tetap bangun dan membalas. Kini Terror Toad terdesak sendirian.
Power Rangers entah darimana mengeluarkan senjata super besar. Ranger hijau dan pink memegang sebelah kanan, biru dan kuning di sebelah kiri, sementara Ranger merah memegang bagian tengah. Dia juga yang mengatakan, “Tembak!!”
Terror Toad terkena sinar warna-warni yang mematikan. Dalam sekejap dia meledak, menghancurkan bangunan di belakangnya.
“Kenapa kalian tidak pakai senjata itu dari tadi?” tanyaku. Tapi mereka tidak menjawab. Terror Toad ternyata belum mati. Dia emmang hangus sedikit, tapi sepertinya baik-baik saja. Ya ampun, senjata itu benar-benar tidak berguna.
Monster itu sepertinya kelihatan lebih marah daripada sebelumnya. Dia berteriak nyaring, dan tiba-tiba saja badannya membesar. Kini dia lebih tinggi dari bangunan tiga lantai di sekitarnya.
Walaupun aku takut dan rasanya sangat tidak bersyukur, aku tak bisa menahan diri untuk berkomentar, “Kau bisa menjadi besar? Kenapa tidak dari tadi saja?”
Ranger merah menekan sesuatu di tangannya. Ranger lain segera mengikuti. Tak lama kemudian, di angkasa muncul lima kendaraan terbang yang kemudian bergabung menjadi robot besar. Power Rangers segera masuk ke dalam.
“Kalian punya robot? Kenapa tidak dari ta....ah sudahlah.”
Pertarungan antar raksasa itu pun dimulai. Tiap hantaman hampir pasti menghancurkan satu bangunan di sekitarnya. Robot besar Power Rangers menembakkan semacam sinar laser yang meleset. Minimarket yang tadi kudatangi hancur akibat tembakan meleset itu. Aku lari kesana kemari untuk melindungi diri dari runtuhan bangunan disana sini.
Pada akhirnya robot Power Rangers berhasil menebas Terror Toad menjadi serpihan debu. Mereka pun turun dari robot mereka. Ranger merah mendekatiku yang sedang bersembunyi di balik tiang tanda jalan.
“Tenang. Kota sudah aman,” katanya dengan nada menenangkan.
Mereka lalu naik motor masing-masing dan pergi, meninggalkan kota dalam keadaan yang lebih rusak dibanding sebelum mereka datang.


Epilog
Aku sedang menonton TV ketika tiba-tiba aku melihat sesuatu yang traumatis di berita. Pembawa berita mengumumkan dengan gembira kalau sedang ada pertemuan para Rangers di kotaku.
“Lihatlah mereka semua, para pahlawan yang biasanya bekerja tanpa terlihat,” katanya.
Ternyata Power Rangers bukan hanya lima. Mereka sangat banyak. Walau warnanya tidak banyak berbeda, tapi mereka memakai helm dan corak baju yang berbeda. Kira-kira ada 40 Ranger di sana.
Lalu mereka mulai berpose satu-satu.
Aku tiba-tiba teringat kata-kata Ranger hijau. “Semakin banyak kami, semakin besar ledakannya.”
Jika lima saja sudah menghasilkan ledakan yang cukup besar, kalau 40....
Mereka berpose serentak. Dan konon ledakan yang dihasilkan sama dengan ledakan yang terjadi pada Hiroshima dan Nagasaki.

0 komentar:

Posting Komentar