Kemal si Blogger Iseng

show them all you're not the ordinary type

Malaikat Maut yang Ceroboh


Para malaikat maut disuruh berkumpul di kantor bos untuk pembagian tugas hari ini. Aku agak malas pergi ke sana karena aku tahu aku akan dimarahi. Kemarin aku salah alamat dan menunggui seharian penuh kakek-kakek yang ternyata tidak mati, sementara kakek yang seharusnya kujemput jiwanya kini sudah berkeliaran entah di mana. Aku yakin daerah kakek itu sebentar lagi akan dipenuhi penampakan-penampakan aneh. Dan itu semua salahku.
“Hai,” sapa Boris, temanku sesama malaikat maut yang juga tetanggaku.
“Hai Boris,” jawabku dengan malas.
“Hari yang melelahkan ya kemarin. Aku sudah dengar ceritanya.”
“Tidak melelahkan,” kataku sambil mencoba membersihkan noda dari jubah hitamku. “Aku hanya duduk di sampingnya selama seharian sampai aku sadar kalau ternyata aku mengintai orang yang salah.”
Boris tertawa, “Sudahlah, semua orang punya masalah saat kerja. Aku juga sempat mengalami masalah kemarin.”
“Oh ya?”
“Ya. Orang yang jiwanya kuambil seharusnya mati karena keracunan makanan. Tapi ternyata dia masih hidup hingga tiga jam setelah pingsan dan bisa saja selamat. Jadi aku mengambil kesempatan dan membunuhnya sendiri.”
“Kau membunuh klientmu??” tanyaku kaget.
“Hei, aku harus mengambil jiwanya, kalau tidak aku bisa tidak dibayar. Kau tahu kan cicilan rumahku masih lama.”
“Dasar malaikat maut yang kejam.” Aku tak sempat mengomentari lebih lanjut lagi karena bos sudah datang untuk membagi-bagikan tugas kami.
Saat giliranku, kulihat ekspresi mukanya sudah mengerut kesal. Agak aneh mengingat dia bermuka tengkorak.
“Jangan salah lagi kali ini. Perhatikan semua datanya baik-baik,” katanya sambil menyerahkan sebuah dokumen padaku.
Klientku kali ini adalah anak muda berumur 23 tahun yang kuliah di Bandung. Mukanya sudah kuingat baik-baik. Alamatnya ada juga sudah kuhapal. Tak mungkin aku salah lagi. Setelah itu, kuserahkan kembali dokumen itu dan siap bekerja.
Aku datang sekitar 30 menit sebelum pemuda itu mati. Karena aku malaikat maut, aku menembus dinding begitu saja. Kulihat klientku sedang bermain game dengan santainya. Dia tidak tahu akan mati.
“Siapa kau?” tanyanya bingung.
Aku diam saja. Kulihat ke sekelilingku, tapi tak ada orang.
“Hei, aku bertanya padamu. Siapa kau? Dan bagaimana kau bisa masuk?”
Aku kaget, “Kau bisa melihatku?”
“Tentu saja. Memangnya kenapa? Dasar aneh.”
“Tapi, tapi aku ini malaikat maut,” kataku. “Seharusnya kau tak bisa melihatku.”
Dia tampak berpikir sebentar. “Oh, aku dan saudaraku memang sudah bisa melihat hantu sejak kecil.”
“Kau bisa melihat hantu? Ya ampun, pasti menyeramkan ya,” kataku prihatin.
“Sudah biasa kok.” Dia lalu melanjutkan main game. Sekitar 30 detik kemudian, dia melihatku lagi dengan ekspresi takut, “Malaikat maut? Berarti kau....aku....”
Anak ini ternyata lemot juga. “Ya begitulah. Karena kau bisa melihatku, kubilang saja ya. Kau akan mati sebentar lagi.”
“Tidak...” Mukanya kini berubah pucat. “Tapi...aku masih muda dan sehat....apa kau yakin tak salah orang?”
“Aku mengingat mukamu,” kataku sedikit tersinggung.
“Tapi......kenapa? Kenapa aku mati?”
Aku mau menjawab, tapi teringat kalau aku tak melihatnya. Lagi-lagi aku ceroboh dan tak melihat semua detail. Kalau kupikir-pikir lagi, aku bahkan tak melihat namanya. Tapi aku tak boleh memperlihatkan keraguan.
“Kau lihat saja nanti,” kataku berlagak keren.
Dia tertunduk lesu. Aku jadi sedikit kasihan, tapi mau bagaimana lagi, semua orang harus mati.
Tiba-tiba pintu terbuka. Masuklah seseorang yang......sangat mirip dengan klientku. Dia membawa bungkusan berisi minuman ringan.
“Eh, siapa nih tamu kita? Jubah hitamnya keren,” katanya.
“Dia malaikat maut,” kata orang yang tadi kuanggap klient.
“Hah? Maksudmu...”
“Ya, aku akan mati.” Dia mulai terisak. Sedangkan si-pembawa-bungkusan menunjukkan muka kaget setengah mati.
“Tunggu tunggu,” selaku. “Kalian kembar?”
“Ya begitulah.”
“Memangnya kenapa?”
Mereka bicara bergantian, membuatku tambah bingung. “Ngg, siapa nama kalian?”
“Aku Andi,” jawab di pembawa bungkusan.
“Aku Randi,” kata salah satunya.
Aku coba mengingat-ingat nama klientku. Tapi aku memang tak melihatnya. Aku tak menyangka akan berhadapan dengan anak kembar.
“Ngg, kalau boleh jujur...aku tidak tahu siapa di antara kalian yang akan mati...”
Reaksi mereka berdua sangat berbeda. Randi, yang tadinya mengira dia sudah akan mati, kini berubah agak lega. Sedangkan Andi makin kaget saja.
“Tunggu tunggu, aku kan baru datang, kenapa sekarang aku terancam juga?” protes Andi.
“Jangan egois begitu,” kata Randi. “Kita semua bisa mati kan?”
“Tapi...” Andi melihatku dengan kesal. “Bagaimana ini? Tanggung jawab dong.”
“Maaf, aku benar-benar lupa,” kataku malu-malu.
“Malaikat maut macam apa kau? Paling tidak, beritahu pada kami bagaimana cara matinya!”
“Ngg, aku juga lupa soal itu.”
“Kau hanya punya satu pekerjaan, dan kau mengacaukannya,” kata Andi ikut-ikutan.
Randi menampakkan ekspresi jahat, “Bagaimana kalau kami yang membunuhmu? Berarti tak akan ada yang mati di antara kami kan?”
“Hei hei, tenang dulu.” Aku jadi takut sendiri melihatnya. “Kalian tak bisa membunuhku, aku kan malaikat maut. Lagipula kalian akan tetap mati bagaimanapun juga.”
Randi menarik-narik rambutnya, “Bisakah paling tidak kau pastikan siapa yang akan mati di antara kami? Ini membuatku gila.”
“Oke, oke. Aku akan mencoba menelpon kantor pusat. Tunggu di sini ya.” Aku mengambil handphone dan pergi ke luar untuk menghubungi bos.
“Ada apa?” kata suara serak bos di seberang.
“Ngg, anu Bos, ini Kemal. Bisa beritahu siapa nama klient saya dan bagaimana dia mati?”
Hening sejenak. “Aku sudah tahu kau pasti akan mengacaukan semuanya.”
“Maaf Bos,” kataku pelan.
Terdengar suara kertas berserakan. “Nama klientmu adalah Andi. Dia akan mati karena kecelakaan mobil. Ingat, Andi, kecelakaan mobil.”
“Andi dan kecelakaan mobil. Oke.” Kututup telponnya dan kembali ke dalam rumah. Kulihat Andi (atau Randi) sedang duduk sambil minum. Dia terlihat sangat lesu.
“Mana yang satu orang lagi?” tanyaku.
“Kenapa? Kau sudah mengetahui siapa yang mati?” Dia melihatku dengan takut-takut.
“Ya, begitulah.”
“Siapa?”
“Nggg...” Aku merasa kalau kuberitahu, yang akan mati pasti berusaha kabur dan itu akan menyusahkanku menangkap jiwanya, jadi aku memutuskan untuk berbohong. “Yang akan mati adalah Randi.”
Dia terkejut dan tak berkata apa-apa. Jadi aku bertanya lagi.
“Ngg kalau boleh tahu, yang mana yang namanya Randi di antara kalian?”
“Randi...Randi sedang pergi keluar! Dia mau mencari udara segar!” katanya dengan sedikit terburu-buru.
Kami berdua lalu keluar untuk mencari Randi. Dia terlihat sedang bersantai-santai di pinggir jalan sambil mendengarkan lagu. Dari kejauhan, terlihat sebuah mobil yang berjalan tidak terkendali.
Tunggu, ini salah. Yang mati seharusnya Andi, bukan Randi. Apa aku salah mendengar? Tidak, aku yakin itu Andi. Randi dalam bahaya besar.
Aku berlari ke arahnya, lalu mendorongnya di saat terakhir sebelum mobil itu melewatinya dan menabrak ke belakang kami. Randi bernafas berat. Mukanya terlihat sangat shock.
“Terima kasih malaikat maut, kau menyelamatkan nyawaku...” katanya.
Rasanya sangat aneh dibilang seperti itu. Aku berdiri dan melihat kerusakan yang ditimbulkan mobil itu. Si supir keluar dengan terhuyung-huyung. Sepertinya dia mabuk. Orang-orang keluar untuk melihat keadaan. Mereka mengerumuni sesuatu.
Aku dan Randi mendesak ke depan karena penasaran dengan apa yang mereka lihat. Ternyata Andi tertabrak hingga tewas. Ternyata begini cara dia tewas.
“Randi!!!”
Eh apa? Randi yang kuselamatkan tadi jatuh berlutut dan menangis sambil memanggil-manggil nama Randi.
“Anu, kenapa kau memanggilnya Randi?” tanyaku.
“Karena dia memang Randi!!” bentaknya.
“Tapi...tapi...tadi dia bilang kalau kau...”
Roh Randi keluar dari tubuhnya. Dia terlihat bingung sampai dia melihatku. “Jadi, aku tetap mati ya?”
“Kenapa kau berbohong padaku??” kataku marah. “Aku jadi menyelamatkan orang yang seharusnya mati, dan gara-gara itu kau jadi mati!!”
“Apa maksudmu?” katanya. “Kau bilang aku yang akan mati, jadi aku berbohong agar kau justru mengambil nyawa Andi.”
“Andi memang seharusnya mati. Aku...aku berbohong supaya kalian tidak ada yang kabur. Bagaimanapun juga ini salahmu!!”
“Jangan marah-marah padaku!” balasnya. “Yang mati di sini kan aku!”
“Ya, tapi...ugh sudahlah. Ayo.”
Aku menuntun roh Randi ke alam baka sambil berpikir apa kira-kira hukuman yang akan diberikan bos padaku. Mungkin kali ini aku yang akan mati.

0 komentar:

Posting Komentar