Kemal si Blogger Iseng

show them all you're not the ordinary type

Rumah Sakit Dongeng (Malam 1 : Cinderella)


Ibu mengecup pipiku sebelum pulang ke rumah.
“Ingat ya, kalo susah kemana-mana panggil aja susternya, gak usah malu,” katanya.
“Ya ya bu.”
Ibu hanya tersenyum, sadar kalau aku masih kesal. Bisa-bisanya tanganku patah karena jatuh saat bermain sepakbola, di depan cewek yang kusuka lagi! Dan sekarang aku harus tinggal di rumah sakit. Benar-benar hari yang menyebalkan.
“Oh ya,” kata ibuku sebelum keluar dari pintu, “jangan lupa ajak main tuh.”
Maksud ibuku adalah anak kecil yang ada di tempat tidur di sebelahku. Aku memang masuk ke bangsal yang bisa diisi dua orang. Gadis kecil itu berumur 7 tahun, dan namanya Asha. Yah, hanya itu yang aku tahu, karena dia terlalu asyik membaca buku bergambarnya untuk menjawab pertanyaanku yang lain.
Suasana langsung sunyi saat ibuku akhirnya meninggalkan bangsal.
“Hei,” kataku mencoba memecah keheningan, “apa orangtuamu tak datang?”
Yap, sudah kuduga. Tidak ada jawaban. Dia malah tersenyum-senyum sendiri membaca bukunya.
Aku jadi penasaran buku apa yang dia baca. Dengan susah payah, aku mencoba melihat kover bukunya.
Cinderella. Ternyata memang buku untuk anak-anak cewek. Tapi Asha membacanya dengan mata berseri-seri. Dia lucu juga.
“Kalau kau ada perlu bantuan atau apa, bangunkan saja kakak ya. Kakak mau tidur,” kataku padanya. Tapi dia cuek aja. Aku menghela nafas dan memejamkan mataku, mencoba tidur. Ini hari yang melelahkan.


“Kak....kak...”
“Mmmhhh...” Aku terbangun mendengar panggilan itu. Saat kulihat, Asha sudah berada di sebelahku.
“Ke..kenapa?” tanyaku. “Kau mau pipis?”
“Aku ingin ke pesta dansa. Tapi aku tidak punya baju pesta.”
“Hah?” Aku mengucek-ngucek mata. Dia ini bicara apa sih?
“Tolong aku kakak peri!”
Aku terdiam untuk beberapa saat, lalu aku sadar apa yang sedang terjadi. Anak ini pasti sedang berperan sebagai Cinderella, tokoh dari buku yang dia baca sejak tadi.
Kulihat jam dinding, jarumnya sudah menunjuk jam 10. “Sudah saatnya kau tidur. Besok saja kita main ya.”
“Cuma bisa hari ini kak peri!” kata Asha. Dia mulai merengek. “Nanti ibu tiri tidak akan membiarkan aku keluar lagi.”
“Ibu tiri? Sudahlah, besok saja ya kita main.”
Tiba-tiba pintu kamar dibanting keras, membuatku sangat terkejut. Lalu masuklah sebuah tante-tante yang mempunyai ekspresi kejam. Dia memakai baju entah dari jaman kapan.
“Cinderella, kami akan pergi ke istana sekarang! Kau tetap di sini dan bersih-bersih!” bentaknya pada Asha. Asha sendiri hanya menunduk ketakutan.
Aku hanya bisa mematung saat tante-tante itu terus merepet soal tugas yang harus diselesaikan Cinderella dan saat dia pergi lagi.
Yang pertama keluar dari mulutku adalah, “Kau benar-benar punya ibu tiri yang jahat ya?”
“Tentu saja. Karena itu kakak peri, bantu aku datang ke pesta itu. Aku...ingin bertemu pangeran.”
Matanya bersinar saat berkata pangeran. Aku jadi bingung apa dia sedang bersandiwara atau tidak.
Aku memutuskan mengikuti permainannya, “Oke....jadi apa yang harus kulakukan.”
“Mmmhhh...” Dia terlihat berpikir. Sesaat kemudian, dia mengambil apel dari meja dan memberinya padaku.
“Ubah ini jadi kereta kuda!”
“Apa? Mana mungkin!”
“Kakak kan peri! Pasti bisa dong.”
“Aku bukan peri. Ini bukan buku dongeng. Tidak ada sihir atau semacamnya.
Dia melihatku dengan sedikit kesal. Aduh, apa aku sudah merusak imajinasi masa kecilnya. Asha lalu merogoh-rogoh sesuatu dari laci meja.
“Pakai ini.” Dia memberiku sebuah tongkat yang biasa dimainkan anak-anak cewek. Kau tahu, tongkat yang bisa bersinar dan ada bentuk bintang di ujungnya. Aku mengambil tongkat itu dengan tangan yang baik-baik saja.
“Itu tongkat sihir. Ayunkan saja, dan semua pasti bisa. Ayo kakak peri!” katanya dengan semangat tinggi.
Ya ampun, dia imut banget sih. Aku jadi tersenyum sendiri. Ya sudahlah, sudah terlanjur juga, aku ikuti saja apa yang dia mau.
Aku ayunkan tongkat itu dengan main-main. Hal yang terjadi berikutnya diluar perkiraanku.
Apel itu awalnya bergerak-gerak memutar sendiri (aku hampir saja terkena serangan jantung ketika melihatnya), lalu tiba-tiba saja, apelnya membesar dengan sangat cepat. Saking cepatnya, apel itu menghantamku dan menghempaskanku ke balik tempat tidur.
“Aaggghhh!” Tanganku yang patah rasanya nyeri. Walaupun begitu, aku langsung bangkit.
“A..apa yang terjadi??”
Di depan mataku, di dalam kamar rumah sakit ini, sebuah kereta labu berdiri gagah, dan parahnya lagi, dua kuda juga ada sebagai penarik kereta itu.
Asha terlihat sangat gembira. Kebalikan denganku yang menganga, tak tahu harus berkata apa.
“Nah nah, sekarang bajuku. Ayo ubah bajuku kakak peri!”
Aku, masih dengan kepala dipenuhi pertanyaan, mengayunkan tongkat ajaib itu sekali lagi. Tiba-tiba Asha dipenuhi cahaya yang sangat menyilaukan sampai-sampai aku harus memalingkan pandangan.
Saat aku bisa melihat lagi, Asha sudah terbungkus dengan baju pesta model lama tapi masih sangat bagus. Dan hal itu membuatnya lebih bahagia lagi.
“Terima kasih kakak peri!!” Dia lalu memelukku.
Aku sendiri masih takjub dengan apa yang terjadi. Apa aku punya kekuatan sihir? Apa aku memang penyihir? Jangan-jangan nanti Hagrid akan datang ke kamarku dan berkata, “Kau adalah penyihir Kemal!”
Asha lalu naik ke kereta labu itu.
“Eh tunggu, kau mau pergi dengan itu?” tanyaku kaget.
Asha tidak sempat menjawab karena kuda-kudanya langsung berlari begitu saja. Mereka dengan semena-mena menabrak pintu hingga terlepas dan pergi entah kemana.
Aku menampar-nampar mukaku. Ini bukan mimpi kan?
Aku ingin memanggil suster, tapi aku takut akan dipindahkan ke rumah sakit jiwa jika menceritakan semua yang terjadi. Aku sendiri masih tidak percaya.
Dengan ragu, aku berjalan keluar.
“Ashaaaa...” panggilku dengan pelan. Aku takut mengganggu pasien lainnya, walaupun sepertinya lorong rumah sakit sepi-sepi saja.
Aku menyusuri lorong itu. Untungnya tidak terlalu gelap sehingga aku bisa melihat ke sekeliling dengan mudah. Anehnya tidak ada tanda-tanda Asha atau kereta kuda lewat sini.
Anehnya lagi, tempat ini terlalu sepi. Saat aku ke resepsionis, tidak ada suster di situ. Kemana semua orang pergi??
Sebuah poster di dinding menangkap perhatianku.
“Pesta dansa?” kataku setelah membacanya. Poster itu kurang lebih menjelaskan tentang pesta dansa dimana pangeran akan memilih pasangannya. Yup, seperti di cerita Cinderella.
Poster itu juga menunjukkan tempatnya. Lantai 3 ruang 3015. Karena sangat penasaran, maka pergilah aku ke sana.
Saat sampai, aku langsung ragu untuk lanjut. Aku berdiri di depan kamar yang bertuliskan ‘kamar mayat’.
Oke, aku biasanya adalah orang yang tidak percaya dengan hantu. Tapi mengingat ada kuda dan kereta labu yang keluar dari apel, aku jadi tidak memiliki kepercayaan diri itu lagi.
Samar-samar, aku mendengar suara orang di dalam kamar. Memang ada sesuatu di dalam sini.
Kutarik nafas dan kuberanikan diriku. Lalu kubuka pintunya.
Kamar yang seharusnya diisi mayat itu kini digantikan oleh aula besar dengan hiasan di sana-sini. Bukan hanya itu, banyak sekali orang yang ada di kamar ini. Mereka semua memakai gaun pesta. Beberapa sedang berdansa di tengah-tengah. Tidak terlihat kalau ini kamar mayat sama sekali.
“Hei, kenapa di sini ada pesta?” tanyaku pada seseorang yang memakai baju pelayan dan sedang membawa nampan. Dia tidak menjawabku.
“Nggg, hei!”
Berkali-kali kupanggil pun, dia tidak melihat sama sekali. Seakan-akan aku ini tidak terlihat.
“Kakak kan peri, mana bisa dilihat orang lain kecuali aku.”
Itu Asha yang berbicara. Dia sudah di sebelahku entah sejak kapan.
“Kau...bagaimana ini bisa terjadi?”
“Hmm, imajinasi?”
“Ini jelas bukan imajinasi! Ini semua kan nyata!”
Asha malah senyum-senyum sendiri. “Ini imajinasi yang jadi nyata. Keren ya Kak.”
Aku memasang muka tak percaya. Memang harus kuakui ini keren, tapi masa dia tidak heran semua ini terjadi begitu saja.
Aku hendak protes lagi, tapi sesuatu mengalihkanku. Di meja pesta, makanan berjejer dengan indahnya. Hanya dengan melihatnya liurku sudah bercucuran.
“Mau kemana Kak? Pangeran sudah mau keluar lho,” tanya Asha ketika melihatku buru-buru ke meja makan.
Bodo amat soal pangeran. Kalo memang imajinasi ini nyata, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk makan makanan mewah seperti ini.
Ketika aku sedang asyik-asyiknya menyantap ayam panggang, suasanan musik berubah. Terompet-terompet dibunyikan dan orang-orang yang ada di pesta lalu berkumpul. Pangeran datang.
Pangeran itu secara mengejutkan memiliki muka kebapakan dan bukannya wajah rupawan ala anak remaja. Aku cukup yakin dia berumur diatas 30-an. Agak kurang cocok dengan gambaran pangeran yang selama ini kubayangkan.
Aku melihat ke kerumunan gadis-gadis itu. Asha terlihat sangat lucu dengan badan kecilnya, sementara gadis-gadis yang lain menjulang tinggi di sekitarnya. Jujur saja, dia tidak akan punya kesempatan memenangkan hati pangeran dengan badan sekecil itu. Yah, alasan lain adalah karena dia masih anak kecil. Mana mau pangeran dengan anak kecil.
Tentu saja aku salah. Pangeran itu bahkan tidak melihat gadis lain saat dia mendekat ke Asha dan memintanya berdansa. Gadis-gadis lain melihat Asha dengan pandangan cemburu, sementara Asha tersenyum sangat lebar.
Agak aneh pangeran memilih dia, tapi setelah kupikir-pikir, ini adalah imajinasi Asha kan? Berarti semuanya pasti sesuai dengan keinginan Asha.
Mereka mulai berdansa di tengah-tengah dialuni musik pelan. Aku menikmati suasana ini dengan makan sebanyak-banyaknya. Walaupun awalnya terkejut, aku mulai terbiasa dengan keadaan ajaib ini. Makanan membantu sih.
Lalu berdentanglah jam dengan keras, menandakan sudah jam 12. Aku sudah menantikan ini sejak tadi. Karena kita semua tahu kalau ini adalah saatnya sihir Cinderella hilang.
Asha terlihat panik dan buru-buru pergi. Sementara itu pangeran bapak-bapak itu mencoba menghentikannya. Asha sudah berada di depan pintu ketika dia ingat dia harus meninggalkan sepatu kacanya. Maka dengan buru-buru dia melepas sepatunya dan keluar. Aku tersenyum sendiri melihat adegan itu.
Aku tak mau kembali dulu ke kamar. Makanan masih banyak tersedia, sayang banget kalau ditinggalkan begitu saja.
Lalu tiba-tiba saja ruangan menjadi gelap lagi. Aku tak bisa melihat apa-apa dan dengan panik mencoba meraba-raba. Aku memegang sesuatu yang dingin.
“Apa ini?”
Saat mataku mulai terbiasa dengan kegelapan, aku tersadar kalau ruang ini sudah menjadi kamar mayat lagi. Dan....tanganku memegang sebuah mayat.
“AAAAHHHH!!!”
Aku lari sekencang-kencangnya keluar sambil berteriak seperti anak kecil. Di luar, seorang suster menghampiriku.
“Ke...kenapa Mas? Kok Mas ada di sini?”
Sambil menenangkan nafasku, aku menjelaskan padanya kalau aku tidur sambil berjalan dan tak sengaja datang ke sini. Sepertinya dia masih ragu, tapi dibawanya juga aku ke kamarku.
Di kamar, aku melihat Asha tertidur lelap. Dan dia tersenyum, seakan-akan sedang mimpi indah. Seandainya saja aku bisa seperti dia. Kurasa aku akan mimpi buruk malam ini.

0 komentar:

Posting Komentar