Kemal si Blogger Iseng

show them all you're not the ordinary type

Kami Meledakkan Banyak Zombie (Petualangan di Zombie Apocalypse 2 Part 11)


baca part sebelumnya disini.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan pada dia?”

Ali bertanya padaku tentang Farandi yang kami kunci di kamar sebelah. Dia terbangun ketika kami kembali, sementara Rere dengan lelapnya masih tidur di kamar yang lain. Medina sudah menyusulnya.

“Entahlah, kita lihat keadaannya dulu. Tapi aku tak pernah berpikir mau membawanya,” kataku.

“Ngomong-ngomong soal itu, bagaimana dengan kita?”

“Apanya?”

“Mau kemana kita sekarang?”

Benar juga. Tujuan kami ke kota ini adalah mencari kekasih Zico, yang sudah meninggal. Zico malah sudah pergi. Kami tak perlu berlama-lama di kota ini lagi.

“Aku mengambil handphone Bima, tapi sejauh ini belum ada kabar dari Intan dan yang lain. Kita tunggu kakimu sembuh dulu lalu pikir langkah selanjutnya.”

Ali menggerak-gerakkan kakinya, “Sudah tidak terlalu parah. Kurasa aku harus mencoba berjalan-jalan disekitar sini.”

“Nanti pagi saja. Lebih baik kita tidur sekarang.”

Suara gedoran pintu dari kamar Farandi terdengar lagi. “Mana mungkin kita bisa tidur nyenyak sementara dia begitu terus.”

Aku menghela nafas, “Biar kuurus.”

Dia menggedor lagi ketika aku berjalan kesana. “Hei diam!!” kataku setengah berteriak.

“Keluarkan aku dari sini!!” balasnya dari dalam.

“Berisik! Kami harus kayak gini buat jaga-jaga tahu.”

“Kenapa kalian harus kurung aku? Biarin aja aku pergi!”

Wah iya juga ya. Kenapa pula kami harus repot-repot jaga dia. Aku membuka kunci pintunya, “Oke, sana pergi.”

“Kau akan membiarkanku pergi begitu saja tanpa senjata?”

“Aku tidak perlu membagi senjata sama penjahat sepertimu,” kataku ketus. “Hus hus sana.”

Kelihatan sekali walaupun dia kesal, tapi anak ini mengerti berkeliaran malam hari tanpa sejata sama saja dengan bunuh diri. Dengan kesal, dia masuk lagi ke kamar dan membanting pintu di depanku.

Suasana pun sepi lagi. Aku mengambil handphone dan mencoba menelpon nomor Intan. Sesuai dugaan, tak ada jawaban. Aku hanya berharap kami punya tujuan setelah ini. Dengan banyak pikiran seperti itu, aku masuk ke kamar untuk tidur.




Suara gedoran di pintu membangunkanku. Awalnya kukira itu berasal dari Farandi, tapi ternyata seseorang menggedor pintu kamarku. Mungkin itu Medina atau Rere.

Kulihat Ali masih tertidur pulas, jadi dengan malas aku bangun dari tempatku tidur dan bergerak menuju pintu yang lagi-lagi digedor.

“Ya ya bentar,” kataku sambil membuka pintu.

Itu bukan Rere dan Medina, tapi zombie.

Kututup pintu. Tunggu, apa aku masih belum bangun? Kenapa ada zombie disini?

Dengan ragu kubuka lagi pintu. Kini zombie itu mengerang dan menerjang ke arahku. Aku menutup pintu dengan tergesa-gesa.

Ini nyata. Entah bagaimana caranya, zombie masuk ke rumah sakit. Aku membangunkan Ali dengan panik sementara pintu digedor-gedor dengan keras.

Terkutuklah Ali yang tidur seperti orang mati di saat-saat seperti ini. Aku harus menekan kakinya yang luka agar dia bisa benar-benar bangun.

“Aduuh!! Apa sih kau sialan??” teriaknya kesakitan.

“Li, ada zombie diluar.”

“Hah?” Ali menggosok-gosok matanya, dia masih setengah sadar.

“Ada zombie!!”

Dia menatapku, “Berapa banyak?”

“Ngg kayaknya sih cuma dua.”

“Ya udahlah kalau segitu, kau kan bisa kalahin. Kenapa juga takut?”

Ini orang kayaknya nganggap lawan dua zombie itu sama seperti lawan dua ayam. Tapi benar juga sih, aku kan sudah pernah melawan lebih dari ini.

Kuambil parang yang tadi kusimpan. “Oke...” Kubuka pintu dan siap melawan zombie yang masuk.

Tapi perkiraanku salah, ternyata bukan hanya dua, tapi seluruh lorong sudah dipenuhi zombie.

Aku dengan susah payah mendorong pintu menutup lagi dan kini menahannya dengan pot bunga.

“Oke, ternyata bukan cuma dua...” kataku pada Ali.

“Ya tahu, aku juga lihat.” Sekarang dia baru terlihat cemas.

“Kau bisa jalan? Aku tak mungkin mengalahkan mereka semua sendirian.”

Ali turun dari tempat tidurnya dan mencoba berjalan. Dia merengut kesakitan sesaat kakinya menyentuh lantai. Memang mustahil sekarang.

Aku mengambil pistol dan menyerahkannya pada Ali, “Kau bantu saja dari tempat tidur. Aku akan membuka pintu dan menghajar sebanyak mungkin. Tidak ada pilihan lain.”

Dia mengangguk mengerti. Aku memindahkan pot yang menghalangi pintu. Tak lama setelah itu, zombie berhasil mendobrak pintu.

Satu zombie langsung jatuh karena tembakan Ali sementara aku menghajar yang lain dengan parang. Tapi zombie-zombie lain masuk dengan cepat.

Aku berhasil menjatuhkan satu lagi zombie. Satu zombie dari samping mencoba menyerangku, tapi Ali menghentikannya.

“Masih banyak gak?” tanya Ali.

“Mana kutahu! Konsentrasi saja menyerang dulu.”

Tapi aku justru lengah saat berkata itu. Zombie berhasil meraih tanganku dan mencoba menggigitnya. Aku bergerak lebih cepat. Kuhajar kepala zombie tersebut dengan tangan yang memegang parang.

Aku tak bisa bergerak bebas karena masih berusaha melepaskan tangan zombie sialan itu. Atu zombie berhasil melewatiku dan menuju Ali.

“Ehh Kem...” Ali panik dan berakibat dengan tembakannya yang kacau. Zombie itu hanya tertembak di badan.

Aku memutuskan untuk memotong tangan yang memegangku. Setelah itu aku mengejar zombie itu dan menusuk kepalanya dari belakang. Dia ambruk ke atas tempat tidur Ali.

“Jangan panik dong..” kataku.

Belum sempat aku beristirahat, banyak lagi zombie yang masuk. Ali mengerang, “Bagaimana mungkin aku gak panik kalau begini.”

Terdengar suara tembakan dari luar. Rere dan Medina menjatuhkan zombie yang masuk satu per satu. Aku menarik nafas lega dan membantu mereka.

“Bagaimana mereka jadi bergerombol masuk kesini?” tanya Rere setelah kami mengalahkan semua zombie di lorong itu.

Aku melihat keluar jendela. Sebuah mobil baru saja pergi. Itu mobil yang membawa zombie ke bandit tempat Tori sempat disandera. Bukan hanya itu kabar buruknya. Banyak zombie berkeliaran di bawah, padahal sebelumnya jalanan itu sangat kosong.

“Pintu darurat!” teriak Medina. Satu zombie masuk lewat pintu itu. Aku berlari kesana dengan cepat, menembak zombie itu di kepala lalu menutup pintu keras-keras.

“Sial, bagian bawah sudah tidak aman lagi,” kataku.

“Jadi bagaimana?” tanya Medina.

“Kalau tidak bisa ke bawah, bagaimana kalau ke atas?” saran Rere tiba-tiba.

Aku memikirkan kata-katanya, “Bagus juga ide itu. Apa liftnya jalan?”

“Karena ada generator, harusnya sih jalan,” kata Rere.

“Oke, ambil kursi roda untuk Ali. Kita pergi ke atas. Pintu ini sebentar lagi akan didobrak zombie.”

Jadi dengan Ali kini didorong Rere, kami masuk ke lift dan naik ke lantai teratas. Lantai itu berantakan, tapi tak ada zombie. Kami bergegas menuju ke atap lewat tangga darurat. Bagian ini agak sulit karena kami harus menggotong kursi roda Ali.

Walaupun begitu, kami akhirnya sampai ke atap. Diluar masih mendung dan sepertinya akan hujan lagi. Anginnya sudah sangat keras. Kami tak bisa berlama-lama disini.

“Sekarang apa?” tanya Ali.

Aku melihat ke sekeliling. Bangunan lain terlalu jauh. Satu-satunya jalan hanyalah tangga tegak lurus yang terletak di sisi bangunan. Tapi tangga itu akan sulit dipakai oleh Ali yang sebelah kakinya cedera. Jangankan Ali, aku saja bakal takut memakai tangga itu karena tingginya posisi kami sekarang. Salah sedikit, kaki bisa terpeleset dan yah....kau tahu lah.

Saat aku sedang bingung, Medina bertanya padaku, “Eh, mana anak SMP itu?”

Aku perlu beberapa saat untuk menyadari masalah ini. Mulutku menganga mengingat Farandi masih terjebak sendirian di lantai itu tanpa senjata. Aku terlalu sibuk memikirkan yang lain sampai melupakan dia.
“Eh anak SMP apa?” tanya Rere yang belum pernah melihatnya.

“Sudahlah biarkan saja dia,” kata Ali. “Sejak awal, kita tidak perlu menjaganya.”

Memang, tapi ada perasaan tidak enak tentang ini. Kami pernah meninggalkan Niko begitu saja, dan itu berakibat cukup buruk.

“Aku akan kembali untuk melihat apa yang bisa kulakukan,” kataku akhirnya.

“Kau yakin?” tanya Ali tidak percaya.

“Tidak juga sih.”

“Tunggu, aku ikut!” Medina menahanku.

“Tak perlu, aku tak akan lama. Jika memang keadaan tidak memungkinkan, aku akan kembali.”

Aku tak menunggu Medina protes dan segera bergegas menuju lift lagi. Di dalam lift aku memikirkan lagi apa yang kulakukan. Apa aku memang harus mengorbankan nyawa untuk seorang penjahat?

Toh aku sudah terlanjur ke bawah. Untungnya, zombie belum menerobos masuk saat aku sampai disana. Sialnya, zombie berhasil menerobos masuk saat aku membuka pintu kamar Farandi, membuatku kini terjebak di kamar itu.

Kulihat Farandi meringkuk ketakutan di pojok kamar. Disaat seperti ini dia baru terlihat seperti anak kecil.

“Kukira kau meninggalkanku disini...” katanya ketakutan.

“Hampir sih. Sekarang kita terjebak disini, dan hanya aku yang punya senjata,” keluhku.

“Aku punya satu nih.” Dia merogoh kantongnya. Aku hampir kena serangan jantung saat dengan santainya dia mengeluarkan granat.

“Kau punya granat??”

“Aku mengambil satu dari markas. Kita bisa gunakan ini untuk kabur.

Aku tak suka mengakuinya, tapi dia mungkin benar. Hanya saja, aku terlalu takut untuk menggunakan granat. Farandi berdiri dengan sok karena melihatku ragu, “Huh, biar aku saja yang melakukannya.”

“Apa kau bisa?”

Dia menarik cincin granat tersebut (yang membuatku sekali lagi hampir kena serangan jantung), membuka pintu dan dengan cepat melempar granat itu ke tengah kerumunan zombie.

“Tiarap!!” Dia membanting pintu.

Sedetik kemudian, terjadi ledakan diluar. Suaranya masih menusuk telingaku walaupun kututup sekeras mungkin. Kekuatan ledakan bahkan sampai merusak pintu.

Aku keluar dengan pelan untuk melihat keadaan setelah ledakan. Sangat kacau. Darah dan organ-organ tubuh tersebar dimana-mana. Tapi aku tak punya banyak waktu untuk muntah.

“Ayo cepat ikut aku!” kataku.

Kami lari ke atas. Telingaku masih berdengung sedikit karena kerasnya suara ledakan tadi. Farandi dibelakangku tersenyum, “Keren kan tadi?”

“Keren apanya??”

Kami sampai di atap. Yang lain jelas sekali terlihat cemas.

“Ada apa tadi? Aku mendengar suara yang sangat keras,” kata Medina.

“Si sialan ini melempar granat.” Aku menunjuk Farandi.

“Hei, aku menyelamatkan nyawa kita!!” katanya marah.

“Aku yang datang menyelamatkan nyawamu saat kau ketakutan tadi tahu!”

“Sudah sudah,” sela Rere. “Yang penting kalian selamat. Aku belum kenal denganmu. Siapa namamu?”

Kukira Farandi akan menjawab Rere dengan ketus, tapi ternyata dia malah balik bertanya, “Lho, kakak ini kak Rere kan?”

“Eh iya. Kau ini....oh!! Kau.... Farandi!”

Aku bingung, “Kalian saling kenal?”

Rere melihatku dengan tatapan aneh, “Dia.....adik Niko.”


Oh tidak.



Bersambung.....ke part 12.

0 komentar:

Posting Komentar