Kemal si Blogger Iseng

show them all you're not the ordinary type

Kesurupan


(cerita ini pernah diposting di kemudian.com sekitar satu tahun yang lalu)

Waktu kecil aku takut banget sama yang namanya hantu. Ditambah lagi tontonan di tv dan bioskop yang rata-rata menceritakan hantu, maka makin parnolah aku. Kalau udah malam aku selalu gelisah. Takut ke kamar mandi sendiri, takut matiin lampu waktu tidur dan semacamnya.
Tapi makin bertambahnya usia, makin sadarlah aku kalau yang namanya hantu itu gak ada. Paling gak selama ini, aku gak pernah bener-bener ketemu sama yang namanya hantu. Aku sekarang malah lebih takut sama iklan so nice, yang makin lama kayaknya makin absurd aja dan makin mirip sama video yang digunakan untuk mencuci otak. Takut aja suatu hari kalau aku ditanya sama temanku. “Ada pulsa gak? Aku numpang satu sms dong.” Aku malah jawab, “SMS? Semuaaaaa makan so niceeee!!!!”
Karena itulah, aku selalu geli kalau ngeliat acara-acara hantu sekarang. Tahu kan, acara yang kayak berburu hantu atau pergi ke tempat-tempat mistis gitu yang menurutku konyol, ngapain juga sih hantu dicari. Ada juga yang bawa-bawa mediator yang bisa dirasuki dengan ikhlas supaya setannya bisa diajak bicara. Aneh banget kan? Entah apa yang mau ditanya sama hantu, emangnya hantu tahu tentang pergaulan manusia, gak bakal nyambung lah diajak bicara juga. Pepatahnya adalah kita suka nasi, dia suka menyan.
Terus aku juga heran kalau ngeliat berita tentang kesurupan bareng di suatu sekolah. Kenapa hantu jadi semacam penyakit menular gini?
Mengenai masalah kesurupan ini, aku pernah punya teman yang gampang banget kesurupan. Namanya Vera, dia temanku saat kelas 2 SMP. Orangnya aneh, sering bengong sendiri, sering ngomong sendiri, kayak punya dunia sendiri.
Aku pernah ngajak dia ngobrol waktu pertama kali kenalan.
“Hai, aku Kemal,” kataku sambil ngajak salaman.
“Vera.”
“Mmmh, jadi kamu orang mana? Orang Balikpapan?”
“Aku anak ibuku,” jawabnya.
“Haha, ya iyalah. Tapi asli Balikpapan kan?”
“Aku anak ibuku.”
Hening. Kenapa dia malah ngomong gitu berulang-ulang mulu? Dengan tatapan kosong pula. Aku jadi bingung mau ngomong apa lagi. Aku bisa aja sih bilang, “Cuacanya bagus ya” tapi kan lagi di dalam kelas, nanti malah gak nyambung.
“Hehe hehe,” akhirnya aku malah ketawa gugup, terus langsung pergi dari situ. Menurut anak-anak lain, Vera itu orangnya emang agak aneh, jadi jangan terlalu ditanggapin.
Suatu hari, ketika sedang dalam proses belajar mengajar yang normal (guru menerangkan, aku tidur), terjadi kehebohan. Teman sebangku Vera heran ngeliat Vera yang tiba-tiba nangis. Waktu ditanya, eh si Vera malah marah-marah. Temannya itu langsung teriak, “Vera kesurupan!!”
Secara refleks, anak-anak langsung lari keluar kelas, seakan-akan teriakan ‘Vera kesurupan’ sama dengan bencana alam. Si Vera sendiri masih nangis sendiri di dalam kelas. Akhirnya seorang guru yang terkenal ‘pintar’ menenangkannya lalu membawanya pulang.
Sejak saat itu si Vera sering gak masuk sekolah karena alasan sakit. Entah sakit beneran atau dia emang sering kesurupan di rumahnya. Pernah waktu dia masuk ke sekolah setelah sekian lama, aku pengen banget bilang, “Vera, jelek itu bukan termasuk sakit lho,” tapi kuurungkan karena ngeliat dia pegang pensil dan pensil itu bisa saja digunakan untuk mencolok mataku.
Vera kumat lagi waktu pelajaran olahraga. Saat itu kami sedang duduk istirahat setelah dengan brutalnya disuruh lari keliling sekolah sebanyak 10 kali. Vera sedang mengobrol dengan temannya, lalu secara tiba-tiba dia jatuh. Pingsan, tapi badannya getar-getar. Dia kesurupan lagi kayaknya. Kami bingung, mau dibawa takut ketularan, mau ditinggal bisa-bisa dia kelindes mobil lewat nanti. Guru akhirnya menyuruh beberapa orang membawanya ke ruang kesehatan. Dengan sialnya aku juga ikut dipilih. Aku berpesan pada temanku, “Jika terjadi apa-apa padaku, panggil Presiden!”
“Lebai kau Mal,” jawabnya.
Untunglah tak terjadi apa-apa.
Surup menyurup ini juga pernah terjadi dalam keluargaku. Korbannya adalah pembantu di rumah nenekku. Aku gak ngeliat sih, cuma diceritain doang sama sepupulu.
Alkisah di dalam kamar, beberapa saudaraku lagi ngobrol-ngobrol, sampai tiba-tiba pembantu yang tadinya diam-diam aja teriak histeris. Malah dengan brutal dia mencoba menyerang saudara-saudaraku.
Beberapa om-om yang badannya besar turun tangan untuk menghentikan aksi setan gak jelas itu. Tapi perlawanan hantu itu gak tanggung-tanggung. Malah menurut kabar, mbak pembantu itu bisa nempel di dinding waktu kesurupan. Wah ini sih kayaknya dia kesurupan setan spiderman.
“Emang dimana dia waktu kesurupan?” tanyaku.
“Disitu,” saudaraku menunjuk ke arahku, “Di tempat Kemal duduk sekarang lah.”
Mampus.

0 komentar:

Posting Komentar