Kemal si Blogger Iseng

show them all you're not the ordinary type

Langkah Pertama (Pokemon Master Part 1)


Alarmku berbunyi dengan keras. Aku dengan malas mengambil jam itu, lalu melemparnya ke seberang ruangan. Kupeluk gulingku lagi, bermaksud tidur sekitar lima menit lagi.

Pintu menjeblak terbuka, lalu terdengar teriakan, “Growlithe, gunakan Ember!!”

Yang kutahu berikutnya, pantatku sudah terbakar.

“AAHHH!!” Aku berteriak sambil mencoba memadamkan api itu dengan tangan. Aku lalu lari ke kamar mandi dan membayur api itu.

“Ibu macam apa yang membangunkan anaknya dengan membakarnya??” protesku.

Ibuku, Delia, membelai Growlithe-nya dengan penuh kasih sayang, “Salah sendiri belum bangun. Prof. Oak mencarimu. Bukankah kau seharusnya menemuinya di Lab untuk mendapatkan Pokemon pertamamu?”

Oh ya, aku bisa memulai petualanganku menjadi Pokemon Master mulai hari ini. Ibuku keluar dari kamar, “Cepat siap-siap sana, nanti keburu didahului Ali lho.”

Ali adalah tetanggaku yang sama-sama menyukai Pokemon. Malah, dia adalah satu-satunya tetanggaku. Kotaku, Pallet Town, memang sangat aneh. Kota ini hanya memiliki tiga bangunan, rumahku, rumah Ali dan Laboratorium Prof. Oak.

Aku bergegas ganti baju dan lari ke bawah. Ibuku sedang berada di dapur, memasak sesuatu. Yang lucu dari Ibuku adalah, dia tidak mau punya kamar sendiri dan memilih tidur di dapur.

“Hati-hati ya,” katanya saat aku keluar rumah.

Aku berlari ke Lab karena sudah tidak sabar ingin melihat Pokemon pertamaku. Tapi ketika aku sampai disana, tidak ada orang.

“Lho kemana ya Profesor itu? Apa dia sedang keluar kota?”

Karena kota ini juga tidak besar-besar amat, aku mencoba mengintip sedikit ke jalan keluar kota. Biasanya aku tidak diperbolehkan melalui jalan berumput itu jika aku belum siap.

Aku ragu apakah akan terus dari sini, tapi kupikir tak ada salahnya toh melewati rumput sedikit.

Sesaat sebelum aku menginjakkan kaki di rumput, suara teriakan keras, “Jangan lewati rumput itu!!”

Aku terkejut. Profesor Oak menarikku dengan kasar lalu memarahiku, “Ada banyak bahaya jika kau pergi tanpa Pokemon ke rumput tahu. Dasar kau ini!”

“Aku dari tadi mencari anda. Profesor kemana tadi?”

“Aku ke rumahmu sebentar, kita pasti berselisih jalan. Ayo Kemal, ikut sekarang ke Lab.”

“Tunggu, ada urusan apa Profesor ke rumahku?”

Dia entah kenapa jadi salah tingkah, “Sudah tidak usah dibahas. Ayo ikut!”

Aku memutuskan tidak menghiraukan itu dan pergi ke Lab. Disana sudah berjejer tiga Pokeball. Aku yakin itu adalah Pokemon-Pokemon yang bisa kupilih.

“Jadi jelaskan padaku,” kata Prof. Oak, “kau ini laki-laki atau perempuan?”

Aku bingung, “Laki-laki lah. Apa maksudnya pertanyaan itu?”

“Aku hanya memastikan.”

Sekali lagi, aku mencoba menghiraukan sikap aneh Profesor ini, “Bisakah aku mendapatkan Pokemon-ku sekarang?”

Jawaban Prof. Oak terpotong oleh seseorang yang masuk ke dalam Lab. “Halo Kek. Aku siapa untuk Pokemon pertamaku.”

Profesor itu mengelus dagunya, “Ah, kau cucuku. Ngg...siapa namamu?”

“Ya ampun, itu Ali. Masa sih Profesor tidak ingat nama cucu sendiri?” kataku.

“Yo Kemal. Biarkan saja, Kakek memang pelupa,” kata Ali tersenyum. “Daripada itu, aku tak menyangka kau juga akan memulai petualanganmu hari ini.”

“Ya. Sepertinya kita akan menjadi rival.”

“Rival? Pffttt, yang benar saja. Aku terlalu hebat untukmu!”

“Hei, jangan meremehkanku begitu.” Aku mulai kesal dengan sikap anak ini. Ali memang kadang bisa sangat menyebalkan.

“Sudah sudah, jangan bertengkar,” Profesor menyela, “Disini ada tiga Pokemon yang bisa kalian pilih : Bulbasaur, Charmander dan Squirtle. Silahkan pilih salah satu.”

“Kemal, kau yang lebih lemah, pilih saja duluan,” kata Ali.

Aku kesal, tapi tak merasa keberatan disuruh memilih duluan. Aku berjalan menuju salah satu Pokeball. Dari awal, aku sudah menentukan pilihan.

“Ah, jadi kau memilih Charmander,” kata Profesor melihatku.

“Ya.” Aku tersenyum, “Keluarlah Charmander.”

Aku melempar Pokeball ke atas, dan keluarlah Charmander itu. Aku menangkap dan memeluknya, akhirnya aku punya Pokemon sendiri. Charmander itu pun sepertinya senang bertemu denganku.

“Apa kau mau beri dia nama?” tanya Profesor.

Aku berpikir sebentar, “Ya, kuberi dia nama Brendon.”

“\ Oke, Ali, sekarang giliranmu.”

“Heh, kalau Kemal memilih Charmander, aku akan memilih ini.” Ali mengambil Pokeball yang berisi Bulbasaur.

Aku melihatnya dengan bingung, “Kau memilih tipe Grass padahal aku memilih Charmander yang tipe Fire?”

“Heh, kekuatan trainer yang menentukan tahu,” katanya sombong. “Untuk membuktikan, bagaimana kalau kita bertarung sekarang?”

“Apa? Disini?”

“Ya, atau kau takut?”

“Yang benar saja. Maju Brendon!!” Aku melempar Charmander-ku ke pertarungan. Ali sendiri mengeluarkan Bulbasaur-nya.

Karena Pokemon kami masih sama-sama level bawah, maka mereka belum belajar move yang hebat. Jadi aku berteriak pada Brendon untuk menggunakan Scratch, sedangkan Ali menyuruh Bulbasaur memakai tackle.

Kekuatan Pokemon kami seimbang, tapi satu cakaran dari Brendon yang ternnyata critical hit menjadi penentu.

“Hahaha, Brendon yang menang!!”

Ali menarik Bulbasaur kembali ke Pokeball, “Sialan, aku memilih Pokemon yang salah.”

“Memang dasar kau bodoh,” kataku sambil memasukkan Brendon ke Pokeball juga.

“Wah, kalian berdua sepertinya bisa menjadi trainer hebat suatu saat,” kata Prof. Oak yang melihat pertarungan itu. “Nah, sekarang sebelum kalian mulai perjalanan, jangan lupa untuk pamit dulu pada orangtua kalian.”

“Oke Kek.” Ali melihatku, “Kemal, aku punya peta wilayah Kanto di rumah, tapi aku tak akan membiarkan adikku meminjamkan kepadamu. Haha, smell ya later!!”

“Tunggu, apa? Kau mau membauiku nanti?”

“Bukan, ah sudahlah.” Ali lalu berlari keluar. Anak itu terlalu terburu-buru.

Aku sendiri berjalan ke rumahku. Ibuku sedang duduk membaca majalah wanita di dapur. Dia tersenyum melihatku datang, “Ah kau pulang juga. Sudah dapat Pokemon pertamamu?”

“Ya, aku memilih Charmander.” Kataku bangga.

“Oke, kurasa kau sudah siap pergi.”

Aku diam sebentar, “Udah gitu aja? Ibu gak bakal kangen aku selama aku pergi.”

“Hahaha, gak bakal. Sana pergi.”

Merasa seperti anak buangan, aku pergi dari situ. Aku lalu menuju ke rumah Ali. Dia sudah memberitahuku tentang peta dan aku memerlukannya. Selama perjalanan kesana, aku mencari alasan agar adiknya mau memberikan peta itu padaku.

Aku masuk ke rumah Ali, adiknya sedang asyik menonton TV.

“Hei...” kataku menyapa.

Dia melihatku, “Oh kak Kemal. Ini peta untukmu. Ambil aja.”

Oke, itu mudah.

Sekarang aku sudah siap melakukan perjalanan pertamaku. Rasanya tegang juga bisa keluar dari kota kecil ini untuk pertama kalinya. Jalanan penuh rumput bernama Route 1 didepanku ini kabarnya penuh makhluk mengerikan. Tapi aku siap, Brendon pasti akan menolongku. Aku melangkahkan kakiku ke rumput. Ini adalah langkah yang bersejarah.

Ternyata semua yang dikatakan Profesor hanya bohong belaka. Bukannya Pokemon-Pokemon ganas, yang kutemukan hanyalah Pidgey dan Rattata. Dan rata-rata mereka tak bisa berbuat banyak menghadapi Brendon.

Aku belum punya Pokeball untuk bisa menangkap Pokemon, jadi aku menyuruh Brendon menghabisi Pokemon yang kami temukan untuk mencari Exp. Brendon terlihat seperti dewa kematian sekarang, membantai Pidgey dan Rattata satu per satu.

“Oke, kurasa itu cukup.” Aku menarik Brendon ke Pokeball. Dia sudah bisa mengeluarkan move Ember sekarang, yang akan sangat membantu.

Aku tiba di Viridian City sekarang. Kota ini cukup besar jika dibandingkan dengan Pallet Town. Aku melihat-lihat dengan senang pemandangan baru ini.

Seorang kakek-kakek terlihat tidur-tiduran di jalan. Aku heran, tapi memutuskan pura-pura tidak melihat.

“Hei!!” teriaknya tiba-tiba yang membuatku terlonjak kaget.

“Y...ya Kek?”

“Kau tidak boleh lewat sini. Aku belum minum kopi pagi ini!!”

“Hah? Tapi...”

“TAK ADA TAPI-TAPIAN!! PERGI SANA SIALAN!!”

Buset, ini kakek atau preman sih, galak bener. Aku memutar jalan dan masuk ke Pokemart terlebih dulu. Mungkin aku bisa beli Pokeball disini.

“Aku belum pernah melihatmu sebelumnya,” kata kasir. “Kau dari mana?”

“Oh, aku dari Pallet Town. Ini perjalanan pertamaku,” kataku malu-malu.

“Pallet Town? Berarti kau kenal dengan Oak dong!”

“Eh, maksudmu Profesor Oak? Ya.”

Dia lalu sibuk mencari sesuatu di bawah mejanya. “Ini, berikan pada Oak.” Dia menyerahkan parsel ukuran besar padaku.

“Parsel?”

“Ya, aku lupa mengirimkan pada Oak saat lebaran. Kau tidak keberatan kan membawanya?”

“Apa? Aku tidak mau kembali ke Pallet Town lagi sekarang.”

“Oh? Kalau kau tidak mau mengantarkan parsel itu, aku tak mau menjual apa-apa padamu.”

“Hah, apa-apaan itu!!”

Dia tak menghiraukanku dan justru membalik badan seakan-akan aku tidak ada disana. Bagus sekali, perjalanan pertamaku dimulai dengan dimarahi kakek-kakek preman dan diperbudak oleh kasir. Dengan berat hati aku kembali ke Pallet Town.

Selagi aku disini, aku kembali ke rumah sebentar untuk melihat Ibuku. Tapi yang kutemukan di rumah ternyata bukan hanya Ibu, tapi juga Profesor Oak yang sepertinya sedang mengobrol riang.

“Lho Profesor?”

Dia terlihat sangat kaget dan salah tingkah ketika melihatku, “Ah Kemal! Kau cepat sekali pulang.”

“Ya begitulah. Aku disuruh mengantarkan parsel ini ke Profesor.”

“Oh terimakasih! Ayo kita ke Lab saja.” Dia menarikku tanpa menungguku protes. Ali juga ada di Lab.

“Kek, mana barang yang Kakek sebut itu?” tanyanya.

“Ya, mumpung kalian berdua ada disini, aku ingin menyerahkan ini.”

Profesor memberi kami masing-masing kotak merah.

“Itu Pokedex,” katanya. “Jika kau menangkap Pokemon, maka Pokedex akan merekamnya. Aku ingin kalian membantu melengkapi Pokedex.”

Aku tak mau bebanku bertambah, jadi aku protes, “Kenapa tidak Profesor saja yang melakukannya?”

“Aku sudah tua. Sebaiknya kalian yang muda yang mengerjakan tugas ini. Oh ya, ini untuk membantu kalian.” Profesor menyerahkan pada kami lima buah Pokeball.

“Yes, makasih Kek.” Ali girang. “Aku akan menangkap Pokemon-Pokemon keren. Lihat saja nanti.” Ali lalu berlari lagi keluar.

Ya, Rattata dan Pidgey memang keren, pikirku dalam hati. Aku bertanya pada Profesor, “Sedang apa Profeor tadi di rumahku?”

“Eh...aku tidak ....hanya berkunjung...kenapa kau tanya itu?”

“Soalnya aku mulai berpikir Profesor menyuruhku mengisi Pokedex agar bisa mendekati Ibuku yang sendirian.”

“Mana mungkin! Sudah sana pergi!!”

Dia memang menyangkal, tapi sikap serba salahnya itu meyakinkanku. Awas saja kalau dia macam-macam pada ibuku, aku akan menyuruh Brendon membakar Lab ini.


Sekarang dengan Pokeball di tangan, aku siap keluar dari kota untuk kedua kali dan menangkap banyak Pokemon.


Bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar