Kemal si Blogger Iseng

show them all you're not the ordinary type

Epilog (Petualangan di Zombie Apocalypse 2)


baca episode sebelumnya di sini

“Kurasa kau sudah gila.” Itulah responku ketika Clara mengatakan rencananya untuk kembali ke motel malam ini.

“Kenapa gila??”

“Kenapa katamu? Kau lihat sendiri kalau tempat itu masih dipenuhi zombie.”

“Memang, tapi lebih cepat lebih baik. Aku tak suka pergi kemana-mana tanpa kelompok seperti ini.”

“Ini kan baru dua hari, dan belum ada sesuatu aneh yang terjadi. Lebih baik kita di sini beberapa hari lagi, lalu pergi mencari Ali.”

“Dengar ya,” Clara memijit kepalanya karena capek berdebat, “ini juga salah satu alasanku mau kembali ke sana. Jika kita bisa menghubungi markas dari sana, mereka mungkin akan mengirimkan bantuan. Indra sudah pernah melakukannya. Kita bisa memakai bantuan itu untuk mencari Ali.”

Aku memang ingat Indra pernah bilang kalau ada semacam ruang komunikasi di motel itu tempat dia meminta helikopter datang. Tapi aku juga teringat fakta dia pergi meninggalkan kami begitu saja.

Clara sepertinya mengerti pikiranku, “Hei, kalaupun Indra menolak, masih ada dua temanmu lagi kan? Mereka pasti akan memaksa jika tahu kita masih selamat.”

Memang, masih ada Rere dan Zico di sana. Tapi jikapun Rere kembali, itu pasti hanya karena dia ingin menyelamatkan Ali. Sedangkan aku masih bermasalah dengan Zico karena kasus Tori.

“Kau yakin?” tanyaku sekali lagi. “Kita aman di sini.”

“Kita tidak aman di sini!!” teriaknya. “Pada akhirnya kita tidak aman. Kau lihat apa yang terjadi pada Medina dan Intan kan?”

Mau tak mau, hatiku terluka lagi ketika dia menyebut nama Medina. Beberapa hari ini, aku masih melihatnya dalam tidur. Rasanya sangat aneh dia tak ada lagi di sini. Dan itu membuatku sedikit depresi.

“Baiklah,” kataku menyerah. “Jadi apa rencananya?”

Clara tersenyum, membuatku merasakan firasat buruk.




“Jika aku mati karena ini, akan kupastikan aku mengejarmu sebagai zombie,” kataku sembari Clara memberiku beberapa kembang api yang kami temukan di rumah seseorang sehari sebelumnya.

“Berhenti mengomel, kau hanya perlu memastikan kalau zombie-zombie itu bisa melihatmu. Lalu kau bisa bersembunyi dan menyusulku ke rumah.”

“Yah, tapi kau lupa kalau aku akan memancing puluhan zombie.”

Clara tak mempedulikan keluhanku dan memberikan pemantik. “Nyalakan semua kembang api itu sekitar 10 menit lagi. Aku akan mencari posisi yang pas untuk menerobos masuk.”

Dia juga memberikan aku sebuah pistol dan menyimpan satu untuk dirinya sendiri. “Pelurunya tinggal sedikit. Gunakan hanya jika perlu.”

“Maksudmu ketika aku dikepung puluhan zombie?” tanyaku sarkastik.

Clara tersenyum mengejek, “Tenang, kau akan baik-baik saja.”

Tentu saja dia bisa bilang begitu. Kan bukan dia yang harus menjadi umpan di sini. Tapi Clara tak menungguku menggerutu dan pergi dari tempat persembunyian kami.

Sepuluh menit kemudian, aku memulai rencana. Sebenarnya itu bukan kembang api, tapi lebih seperti mercon roket yang akan menembakkan cahaya terang ke langit diiringi bunyi keras. Ketika aku menyalakan kembang api pertama, suaranya sangat keras sampai kupingku agak berdengung.

Sesuai rencana, zombie-zombie tertarik oleh bunyi itu. Dalam sekejap banyak zombie sudah megikutiku. Aku menyalakan satu kembang api lagi agar menarik lebih banyak zombie dari motel. Sekilas aku melihat bayangan masuk ke hotel. Kurasa itu Clara.

Sekarang aku hanya perlu kabur dari sini. Kutinggalkan sebuah kembang api yang paling besar menyala dalam sumbunya. Itu akan memberikan waktu untukku bersembunyi sebelum para zombie mendekat ke sumber suara.

Aku sedang berlari ke salah satu halaman rumah ketika kudengar suara mobil. Aku berhenti untuk menoleh. Jangan-jangan itu Ali?

Sebuah van putih besar mendekat. Van itu digambari logo aneh, seperti rambut bob yang dikelilingi pedang. Seseorang keluar, tapi aku tak kenal siapa dia. Sepertinya dia tertarik dengan bunyi kembang api yang kunyalakan.

Untunglah dia tak melihatku karena kaget dengan banyaknya zombie yang dihadapinya. Lalu tiba-tiba saja, zombie liar menerkamnya dari belakang. Aku buru-buru sembunyi lebih dalam ke semak-semak, melihat dengan keringat dingin.

Aku tak tahu dia siapa, tapi aku merasa dia sangat sial karena datang di saat yang paling tidak tepat. Itu membuatku sedikit bersalah. Sesuatu yang terjadi padanya bisa saja terjadi padaku tadi.

Zombie-zombie melewatiku tanpa sadar. Aku mencoba sebisa mungkin tidak menimbulkan suara ketika bergerak dari satu rumah ke rumah lainnya.

Aku mencapai rumah yang paling dekat dengan motel. Dari sini, aku hanya bisa menerobos paksa. Kulihat ada sekitar tiga zombie yang harus kubunuh.

Kutarik nafas dalam-dalam, lalu aku melompat keluar. Zombie pertama kubunuh secara tiba-tiba dari belakang. Dia tak bisa melakukan apa-apa. Satu lagi zombie yang mendekat berhasil kujatuhkan sebelum kutusuk kepalanya.

Zombie terakhir agak menyusahkan karena badannya sangat tinggi. Dia hampir saja menjangkau dengan tangannya yang panjang, tapi aku berhasil menahannya dengan tusukan ke badannya. Dia masih hidup dan meronta-ronta.

Sambil menahannya dengan satu tangan, aku mengeluarkan pistol dan memasukkan moncongnya ke mulut si zombie. Kepalanya meledak dengan cukup keras, tapi zombie-zombie lain lebih tertarik dengan bunyi kembang api yang tadi kunyalakan. Aku berhasil masuk ke dalam motel.

Di dalam sudah ada beberapa zombie yang terbunuh. Pasti ulah Clara. Sekarang aku harus mencari dimana kamar komunikasi itu.

Ternyata itu tidak sulit karena setelah beberapa saat, aku mendengar suara teriakan Clara dari salah satu kamar. Aku buru-buru masuk ke sana. Clara sedang memakai headphone dan memutar-mutar suatu alat yang mirip radio.

“Apa maksudmu mereka tak ada di sana??” teriaknya lagi.

“Hei tenangla....tunggu, apa?”

Suara di radio itu terputus-putus, “Indra.....tak ada.....hilang kontak....”

“Bicara yang benar dasar bodoh!!” Clara berkata tak sabar. Tapi kemudian, sambungan itu terputus. Clara melempar headphone dengan kesal.

“Ada apa?” tanyaku.

“Mereka mengatakan tak ada helikopter untuk menjemput sekarang. Satu-satunya helikpoter yang masih berfungsi adalah yang dipakai Indra, tapi mereka belum sampai di sana.”

“Mana mungkin,” kataku tak percaya, “mereka kan sudah pergi sejak beberapa hari yang lalu.”

“Itulah makanya. Kurasa dia berbohong pada kita.”

Masa sih mereka sampai setega ini? Aku malah merasakan firasat buruk kalau ada sesuatu yang lain.

Tiba-tiba radio berbunyi lagi. Clara buru-buru memasanga headphone-nya. “Markas? Di sini Clara.”

Suaranya statis untuk sesaat , tapi setelah itu terdengar suara orang yang sangat kukenal. “Hei, kalian di sana?”

“Zico!!” teriakku. Clara memberiku sebuah headphone juga. “Zico? Kau selamat? Bagaimana dengan yang lain?”

“Wah...akhirnya....sudah dua hari....” Suaranya terputus-putus. “Kami....terpaksa.....tentara......beliebers....”

“Apa? Aku tidak mengerti. Suaramu putus-putus.”

Suaranya statis lagi untuk sesaat, “....hati-hati.....you....him...oh......Medina....”

Ketika aku mendengar dia bicara tentang Medina, aku langsung bereaksi, “Medina? Medina apa?”

Tapi suaranya kali ini benar-benar putus. “Zic? Zic? Clara, tak bisakah kau melakukan sesuatu?”

Tapi Clara hanya terdiam. Mukanya terlihat pucat. “Oh tidak....”

“Kenapa?” tanyaku bingung.

“Ini situasi terburuk. Mereka dalam bahaya.”

“Kenapa? Jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya!”

Clara melihatku, “Begini, ada beberapa organisasi yang terlibat dalam penyebaran virus zombie ini. Mereka adalah kelompok beliebers yang sangat loyal pada Justin Bieber. Di Indonesia, ada beberapa kelompok seperti itu. Pasukan Unit Rahasia Sektor 1077 sedang berperang melawan salah satu yang paling kejam.”

“Mereka sangat mengerikan,” lanjut Clara, “orang-orang yang tak segan memakai manusia sebagai bahan percobaan. Mereka juga terus mencari orang-orang yang bukan kelompoknya dan mengubah mereka menjadi zombie. Tujuan mereka jelas membuat Bieber menjadi pemimpin dunia.”

“Kelompok yang sedang kami perangi bernama Sword of Beliebers, dipimpin oleh seseorang yang saking menyeramkannya tak ada yang berani memanggil nama aslinya. Kami memanggilnya dengan sebutan You-Know-Him.”

Aku masih mencoba mencerna cerita itu, “Tadi sepertinya Zico ada menyebut nama itu...”

“Pasti Indra yang menyuruhnya memakai nama itu,” kata Clara. “Itu berarti mereka secara tak sengaja masuk ke wilayah Sword of Beliebers dan harus bersembunyi. Kalau mereka sampai tertangkap, bisa berbahaya.”

“Ma..maksudmu?”

“Mereka tak akan dibunuh langsung. Bisa saja mereka dijadikan bahan percobaan, dan jelas sekali mereka akan mengorek informasi tentang URS 1077 dari Indra.”

“Kalau begitu kita harus ke sana!” kataku.

Clara menggigit bibir tanda ragu.

“Hei, kita harus membantu mereka!!”

“Yahh...tapi tak semudah itu. Mereka tak akan bisa membiarkan kita masuk dengan mudah. Setahuku mereka hanya mengizinkan van khusus kelompok mereka yang bisa pergi ke wilayah itu.”

“Tapi tetap sa....eh tunggu.” Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“Kenapa?”

“Apa?” tanya Clara.

“Apa logo kelompok mereka adalah rambut bob dengan hiasan pedang?”

Clara tampak terkejut, “Bagaimana kau tahu?”

Ini benar-benar kebetulan yang menguntungkan. Kuceritakan pada Clara saat aku menyalakan kembang api.

“Jadi jika firasatku benar, van itu masih ada di sana...dikelilingi banyak zombie,” kataku.

Clara berpikir sebentar, “Mungkin ini bisa berhasil. Kita hanya perlu memakai van itu dan masuk ke wilayah mereka kan? Berisiko, tapi mungkin berhasil.”

“Kita harus tinggalkan pesan pada Ali. Cepat atau lambat mereka akan ke sini.”

Clara mengangguk. Dia lalu keluar untuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan pesan.

Aku terdiam di kamar. Sebentar lagi kami akan mencoba menyusup ke organisasi yang mulanya menyebarkan virus ini. Mungkin saja, kami bisa menemukan sesuatu yang lain di sana, seperti cara untuk menyembuhkan semua orang yang sudah menjadi zombie sekalipun.

Ketika aku sibuk merenung, suara di radio keluar lagi. Aku buru-buru memakai headphone.

“Zico? Ini kau?”

Hanya terdengar statis. Aku mencoba memutar-mutar di radio tanpa tahu fungsinya. Seandainya Clara belum keluar tadi.

Pada akhirnya, hanya terdengar satu kata sebelum radio itu mati lagi.


“....tolong...”

0 komentar:

Posting Komentar