Kemal si Blogger Iseng

show them all you're not the ordinary type

Dari Batu ke Hongkong (Part 1)


Liburan kemarin, aku pergi ke berbagai tempat. Tentu saja itu dimulai dengan pergi ke ibukota kita tercinta, Jakarta. Perjalanan dari Bandung ke Jakarta kutempuh dengan sangat menyakitkan. Sekitar 7-8 km dari Jakarta, aku sudah mulai kebelet pipis.

Awalnya kupikir pasti bisa kutahan, toh tinggal dekat ini. Tapi aku lupa Jakarta terkenal akan kemacetannya, sehingga perjalanan yang tadinya palingan setengah jam lagi juga udah sampe, berubah menjadi neraka selama dua jam lebih.Jujur aja, aku sempat beberapa kali pasrah dan sudah membayangkan skenario terburuk jika aku harus ngompol di travel. Tapi berkali-kali juga kuingatkan diriku agar tidak menyerah, mengingat masih ada masa depan yang harus kuperjuangkan. Akhirnya aku bisa sampai tanpa bocor, walau sangat nyaris. Awal yang bagus untuk liburan.

Di Jakarta, aku berkumpul bersama keluarga plus tante dan nenekku. Besoknya kami melakukan perjalanan ke Surabaya. Seperti biasa, pesawatnya datang telat. Malah kelewat telat sampai-sampai orang-orang sudah berkumpul di meja resepsionis dan marah-marah. Setelah naik, aku baru tahu alasan kenapa pesawat itu telat, yaitu kursi pesawatnya baru dipasang. Hmm, baru kali ini aku mendengar alasan begitu. Aku hanya berharap mereka sudah ingat untuk memasang mesin pesawat dengan benar.

Sampai di Surabaya, kami langsung melakukan perjalanan darat ke Batu. Disinilah kami akan tinggal untuk beberapa hari.

Mungkin kau bertanya-tanya, memang ada apa sih di Batu? Kebun binatang!! Semuanya terletak di Jatim Park 2. Disini aku pergi ke dua jenis kebun binatang. Yang pertama aku pergi ke kebun binatang yang isinya patung semua. Tapi jenis hewannya sangat banyak, dan beberapa ditampilkan dengan sangat gaya seakan-akan mereka masih hidup.

hug me brotha!!

Bukan hanya hewan dari masa kini, tapi juga banyak patung hewan dari masa lalu, termasuk tulang dinosaurus! Gak tau deh itu nyata atau enggak.

Di tempat ini juga disediakan semacam panggung bagi yang ingin foto-foto. Kalau mau difoto dengan kamera bagus juga bisa. Tapi yah, bayar dong. Secara umum, tempat ini sangat bagus dan tertata rapi. Aku pernah sekali ke museum kayak gini, yaitu di Museum Rahmat di Medan, hanya saja ini jauh lebih besar.

menangkap buaya dengan jantan

Kebun binatang satu lagi benar-benar memperlihatkan hewan yang masih hidup. Aku tak terlalu ingat semua binatang disana, mungkin jenis binatangnya tidak terlalu banyak berbeda dari kebun binatang lain. Hanya saja, tempat ini besar dan menurutku cukup bersih. Walaupun tempatnya dibagi-bagi, pengunjung dibuat hanya berjalan di satu jalur sehingga semua binatang dapat dilihat tanpa harus berputar-putar. Itu juga salah satu kelebihan kebun binatang ini.

Tentu saja di kebun binatang ini juga ada tempat foto-foto dengan hewan asli. Ada yang bisa dengan burung, dengan kera, hingga dengan harimau kecil. Karena aku jantan, aku memilih hanya berfoto dengan burung elang.
Kemal si manusia petualang

Selain meliha-lihat binatang, kami juga sempat main arung jeram. Ini permainan arung jeram pertamaku dan aku sempat ketakutan. Kami harus mendengar kata-kata instruktur sebelum terjun ke sungai. Kami diberikan beberapa instruksi yang akan dipakai saat nanti, seperti misalnya jika instrukturnya bilang, "Dayung kanan!!" berarti yang duduk sebelah kanan dayung (udah jelas banget ya). Dia juga bilang kalau air terjun pertama yang akan kami lewati adalah yang paling menakutkan. Itu jelas menambah turun semangatku.

Seperti yang dia bilang, air terjun pertama memang yang paling mengerikan. Ketika aku tercebur, helmku lepas entah kemana. Setelah itu, untungnya tidak ada yang terlalu mengerikan lagi. Arusnya jadi cukup deras karena hujan turun cukup lebat, tapi paling tidak kami selamat tanpa ada satupun yang tenggelam. Kami sempat berhenti ketika arusnya pelan. Pemandangannya sangat cantik, ditambah lagi karena adanya hujan. Sayang gak bisa foto-foto.

Jika kau merasa itu masih kurang, di Batu juga ada semacam taman lampu yang sering didatangi orang saat malam hari. Aku tak sempat kesana karena sekitar tengah malam, kami mau ke Gunung Bromo.

Aku awalnya gak tahu mau kesana, jadi kaget juga. Aku tadinya emang udah pengen banget kesana sama teman-teman kampus, tapi gak kesampaian. Untunglah bisa pergi sama keluarga.

Perjalanan ke sana cukup memakan waktu. Tiga jam perjalanan darat lalu disambung naik mobil Jeep setengah jam untuk mencapai puncak gunung. Cuacanya disana itu dinginnya minta ampun. Baru kali itu aku sampai harus membeli sarung tangan dan topi untuk mengatasi dingin.

Di puncak gunung, sudah disediakan tempat bagi orang-orang yang ingin melihat matahari terbit. Kami masih harus menunggu sekitar 30 menit lagi sampai matahari benar-benar keluar. Suasana di atas Gunung malah lebih dingin, ditambah sesekali angin kencang. Tapi jujur aja aku gak menyesal. Pemandangan di atas sangatlah bagus. Kita seperti berada di lautan awan, dengan puncak gunung yang lain terlihat samar-samar.

kedinginan di lautan awan

Jujur aja, matahari terbitnya justru gak terlalu keliatan karena kehalangan awan, tapi seperti yang kubilang tadi, pemandangannya tetep sangat keren. Banyak banget orang disini buat foto-foto.

Perjalanan ke Bromo tidak berhenti sampai disitu. Kami juga menjelajahi ke lembah gunung. Disana ada lapangan yang sangat luas. Kita bisa menaiki kuda disana, atau bisa juga memanjat ke atas dengan berjalan kaki. Hanya saja meneruskan ke atas akan membutuhkan waktu satu jam jika tidak memakai kuda. 

abang dan adikku (kuda tidak termasuk)

Setelah itu kami berhenti lagi dua kali di tempat-tempat yang mirip, hanya berbeda-beda pemandangan saja. Semua perjalanan itu dilakukan dengan Jeep khusus karena jalannya hanya berupa tanah, mobil biasa tidak akan bisa melewatinya. Senang rasanya melihat gunung yang hijau-hijau setelah lama di kota mulu.

pemandangan yang indah sepanjang jalan

Akhirnya setelah berputar-putar, kami kembali ke bawah. Matahari juga mulai menghangatkan cuaca sehingga rasanya enak sekali. Kami kembali ke Batu dan beristirahat sebentar, lalu kembali ke Surabaya selama dua hari. 

Kami tak hanya diam di Surabaya. Kali ini kami menuju air terjun....aku lupa namanya. Pokoknya air terjun. Tempat itu juga dipenuhi pengunjung, terutama anak-anak sekolah yang sepertinya melakukan darmawisata. Air mancurnya, yaah tidak jelek sih, tapi juga tak bisa dibilang spesial. Tak ada terlalu banyak yang bisa dilihat disitu, jadi setelah makan, kami langsung kembali. Ngomong-ngomong, disitu ada juga jual sate kelinci. Aku sangat ingin coba makan sate kelinci, tapi secara bersamaan juga merasa tak enak karena penjualnya harus memotong binatang seimut itu.

seperti kencing di pagi hari

Puas jalan-jalan di Batu dan Surabaya, kami melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih jauh, yaitu ke Hongkong.

0 komentar:

Posting Komentar