Kemal si Blogger Iseng

show them all you're not the ordinary type

Catatan Perjalanan Ke Karimun Jawa

Sekitar seminggu yang lalu, aku dan sembilan orang temanku pergi jalan-jalan ke karimun jawa. Rencananya dari Bandung kami akan naik bus ke Jepara, lalu dilanjutkan naik kapal feri ke pulau karimun jawa. Disana kami akan tinggal homestay selama 3 hari 2 malam. Rombongan kami terdiri atas 4 cowok (Aku, Zico, Ali, Frank) dan 5 cewek (Rere, Intan, Puce, Medina, Tepi).

Karena pengalaman dulu pernah hampir mati kedingininan waktu naik bus malam, aku pun memakai jaket tebal. Ternyata busnya biasa aja, malah panas. Dan makin panas karena yang duduk di bangku sebelahku adalah pasangan Ali-Rere yang lagi mesra-mesraan, sedangkan yang duduk di sebelahku itu Zico, cowok bermuka nelayan (cocok nih kita mau ke pantai).



Perjalanan dari Bandung ke Jepara menghabiskan waktu 12 jam yang berarti....pantat keram! Berkali-kali aku ngubah gaya duduk supaya pantat bisa nyaman lagi. Aku kurang bisa tidur pulas kalau didalam bus, jadi berkali-kali kebangun, dan ini jadi masalah, karena kalau anda naik bus malam, pasti tau deh supirnya itu mantan pembalam nascar semua. Salip sana salip sini, kayaknya tuh supir gak sadar kalau dia itu bawa bus dan bukannya ojek. Pernah aku kebangun dan pas banget saat bus nyalip truk dengan kecepatan tinggi sementara ada bus lain di lawan arah. Naik bus malam pun membuatku semakin beriman.

Enaknya jalan sama temen-temen itu kita bisa ngobrol-ngobrol buat ngabisin waktu. Sementara yang lain curhat-curhatan, aku dan Zico malah nyanyi-nyanyi semua lagu masa kanak-kanak dari mulai kapten Tsubasa sampai Ultraman. Sementara itu, supir bus muter lagu klasik barat jaman-jaman dulu di depan, tumben nih dapet supir gaul. Tapi pandanganku berubah karena setelah itu dia tetap menyetel dangdut remix.

Sesuai dugaan, sampai di dermaga Jepara, kami semua kayak kena penyakit fisik disebabkan pantat yang tidak proporsional lagi. Kami masih harus menunggu sekitar 3 jam lagi sebelum kapal datang, jadi para cowok memutuskan untuk memakan makanan khas Jepara. Apakah itu? Ya, Indomie! Aku tahu, aku tahu, ngapain juga jauh-jauh ke Jepara cuma buat makan Indomie, tapi yah mau gimana lagi, Indomie kan seleraku.

Kami disini juga bertemu tour guide kami yang bernama Agus. Sekilas orangnya bergaya preman (aku sempat was-was juga, jangan-jangan salah guide dan bakal berakhir dijual ke Malaysia) tapi orangnya baik banget lho. Dia memberi kami tiket kapal satu per satu. Anehnya di tiket itu namanya tak sesuai dengan nama kita. Misalnya, aku mendapat nama Marina (temanku yang gak jadi ikut), bahkan Puce dapat nama Joko. Siapa pula itu Joko??

Untunglah nama di tiket tak terlalu berpengaruh. Kami tetep boleh masuk dan mengambil tempat duduk paling belakang. Kapal itu menyediakan TV, yang sayangnya menayangkan video klip lagu-lagu alay Indonesia. Sebenarnya setelah kapal jalan, TV itu ganti menayangkan film Box Office, tapi keliatan banget bajakan dan teksnya pasti copy banget dari Google Translate. Jadi, aku dan beberapa temanku memutuskan pergi keluar kapal untuk melihat-lihat laut.

Sesaat sebelum Frank jatuh ke laut

Pemandangan dilur sangat keren. Kita bisa melihat laut luas sepanjang mata memandang. Kebetulan cuacanya agak mendung, jadi lumayanlah gak panas. Angin lautnya juga kencang banget sampai-sampai aku takut kalau ada temanku yang kurus bakal kebawa angin dan hilang di lautan. Inilah keuntungan jadi orang gendut, mwehehehe. Diatas kapal kita juga kenalan sama bapak-bapak yang lagi berlibur juga, tentu saja setelah itu kita minta bapak itu fotoin kami semua, namanya juga kami generasi narsis.

Ali, Rere dan Medina

Setelah 3 jam perjalanan, sampailah kami di pulau Karimun Jawa dan langsung diantar ke tempat homestay kami. Aku sekamar sama Zico, dan Frank sekamar sama Ali, walaupun ujungnya entar kami tetep tidur berempat, kami kan tidak terpisahkan (syalalalala).

Baru juga santai bentar, tour guide kami udah manggil buat pergi ke pantai. Karena waktunya agak telat dari rencana semula, kami terpaksa makan siang di kapal sambil menuju tempat snorkling pertama (yang ternyata lumayan jauh). Nah, disinilah aku dengan bodohnya baru sadar kalau aku gampang mabuk laut. Makan di kapal membuatku lebih parah dan dalam sekejap badan udah gak enak banget, tapi aku tetep berusaha keren, kan ada gebetanku ngeliat (ups, siapa tuh, sensor aja lah ya).

bukan, itu bukan ikan tuna mati

Sampai di tempat yang ditentukan, kami dengan semangat 45 langsung nyebur, gak sadar kalau banyak karang sehingga beberapa temanku luka kena karang. Kukira kalau aku nyebur mabuk lautku bisa hilang, ternyata terombang-ambing dilaut dengan baju pelampung sama bikin mualnya. Alhasil akulah yang pertama naik ke kapal. Dan aku sempat-sempatnya kena sial disana. Kakiku gak sengaja terpeleset dan jatuh dari kapal dengan gaya. Sial sial.

Setelah itu kami diantar ke pantai di pulau terdekat untuk main-main sebelum balik ke homestay. Nah, kalau di luar negeri ada perang bola salju, maka kami lebih keren, kami main perang bola pasir pantai. Aku, Frank, Ali dan Medina saling melempar bola pasir dengan kejam dan memakai strategi. Hal ini berakibat agak buruk ketika Medina tak sengaja melempar bola pasir ke salah seorang cowok lewat. Muka Medina pun jelek karena merasa bersalah di sisa hari itu.

Malamnya kami pergi ke alun-alun untuk mencari jajanan. Bilangnya sih jajanan, tapi aku, Zico dan Frank beli jagung bakar, malah Ali-Rere beli mi ayam. Setelah itu kami kembali ke homestay dan aku diajarin cara bermain capsah (bener gak sih gini nulisnya) dan uno. Kalau uno sih masih mending, aku masih bisa menang, tapi kalau capsah aku bener-bener gak jago, kalah melulu.

Malam di kamar cowok cukup terganggu dengan uniknya suara ngorok Frank. Tarikannya keras dan waktu mengeluarkan napas kayak orang menirukan suara gema, dilanjutkan dengan tarikan lagi yang kayak kambing disembelih. Aku dan Zico yang kebangun karena itu sempat berpikir untuk tidur di luar, tapi akhirnya menyerah pada nasib. Si Ali hebatnya bisa tidur nyenyak.

Kami bangun besoknya jam 8 pagi, dan yang bangunin tentu saja Rere, ibu kita semua. Nih anak udah bangun dari jam 5 pagi, ngapain coba, kadang aku heran sama anak rajin. Rencana hari ini tak beda jauh dengan hari sebelumnya, yaitu snorkling lagi, hanya saja kali ini tempatnya berbeda.

mencoba menjadi nelayan metal

Belajar dari pengalaman, aku makan sesedikit mungkin dan secepat mungkin agar perutku tak mual lagi saat di kapal. Hal ini cukup berhasil, sampai aku snorkling untuk kedua kalinya. Awalnya sih gak papa, tapi lama-lama mulai mual juga. Aku terpaksa naik pertama lagi.

Setelah itu kami pergi ke Pulau Tengah untuk menikmati pantai dan ikan bakar. Disini aku baru tau kalau Intan ternyata alergi ikan. Ini pertama kalinya aku lihat orang alergi ikan, jadi kasian. Soalnya ikan kan banyak banget jenisnya dan enak-enak, sayang banget yang alergi ikan. Bayangkan kalau dia terdampar di pantai tak berpenghuni dan satu-satunya sumber makanan adalah ikan di laut, pilihannya ada dua : mati kelaparan atau mati karena alergi. Menyedihkan. Aku jadi terharu.

Yang satu lagi aku tahu, Intan adalah narsistik yang agak akut. Bayangkan dari semua foto-foto kami di Karimun Jawa, setengahnya pasti ada penampakan dia atau gak dia foto dirinya sendiri. Ckck.

yang satu mabuk laut, yang satu alergi ikan, berdua kami tak akan selamat jika tersesat di laut

Kembali di cerita, di pantai kami sempat mengubur Zico di pasir. Sebenarnya untuk menguburnya tak perlu lama, tapi kami, anak-anak iseng, menghabiskan banyak waktu untuk membuat (maaf) kemaluannya dari pasir agar tegak sempurna. Aku tahu, itu salah, tapi kalau sama teman biasalah kita melakukan hal yang gila. Yang lebih parah, setelah membuat 'bagian' laki-lakinya, kami juga membuat 'bagian' ceweknya, sehingga zico menjadi manusia pasir berkelamin ganda.

Setelah bermain-main di pantai, kami pergi ke laut lagi untuk snorkling terakhir kalinya. Tempat yang terakhir ini sebenarnya jauh lebih bagus dari dua sebelumnya, tapi aku kapok mabuk laut lagi, jadi aku dan Medina, pergi main-main ke pantai yang kosong. Sayang banget aku gak bawa kamera buat foto, karena pemandangannya bagus banget. Aku dengan gaya pun menuliskan 'Kemal was here' di pasir, sedangkan Medina lebih ekstrim, dia menulis 'follow @medination' supaya followernya nambah. Niat banget sih.

Tujuan berikutnya kami menuju ke penangkaran ikan hiu. Rencananya kami akan berenang sama ikan hiu, hiiiii. Tadinya aku mau banget, tapi sampai disana jadi gak minat berenang lagi. Hal itu diperburuk dengan cerita dari mas Agus yang mengatakan dulu ada orang yang pernah digigit disini. Oh Hell No Biatch! Aku pergi dari sini!

Intan berfoto di depan penangkaran, tak sadar dia akan diumpankan ke hiu sebentar lagi

Kami lalu kembali lagi ke homestay dan mendapati badan kami terbakar sinar matahari dimana-mana, terutama Zico, Frank dan Ali yang dengan gaya turis buka baju selama perjalanan. Emang seharian ini panas banget, beda sama hari sebelumnya yang adem-adem gerimis. Aku sendiri hanya terbakar di bagian muka yang menyebabkan kulit terkelupas sedikit. Yang jadi paling item adalah Rere, dan Tepi adalah yang paling tidak berpengaruh, seakan sel-sel cinanya menolak sinar matahari. Tapi yang paling parah adalah Zico, nih anak selain jadi item, punggunya juga melepuh karena luka bakar sehingga harus ditaruh bedak.

Zico, nelayan kita, sehabis pelayaran

Malamnya kami kembali ke alun-alun untuk makan dan bersantai-santai. Kami menghabiskan malam untuk berbelanja survenir sebagai hadiah pulang nanti. Pesanku kepada kalian wahai cowok : janganlah berbelanja bareng cewek karena lamanya minta ampun. Heran deh kenapa cewek kalau milih-milih baju bisa lama banget. Setelah itu semua, beberapa langsung tertidur. Zico belajar dari pengalaman dan tidur duluan sebelum Frank ngorok. Sisanya aku, Medina, Puce dan Frank main uno sampai tengah malam sebelum tidur. (catatan : aku hampir selalu menang lho, mwehehehe).

Dan bener aja, Frank yang tadinya janji gak bakal ngorok lagi, eh dengan tega melanggar janji tersebut. Kali ini memang tak lama, tapi kualitas ngoroknya semakin besar. Ampun mak ampun!

Sebenarnya supir kami berjanji besok pagi akan membawa kami ke pantai untuk melihat sunrise, tapi kami di php-in banget. Udah capek-capek maksain bangun pagi, eh si supir malah gak datang, tanpa penjelasan pula. Aku kan gak suka digantungin gini (eh?).

Lalu pada siangnya kami pergi lagi ke dermaga untuk naik kapal ke Jepara. Lalu setelah itu melanjutkan ke Bandung selama 12 jam di bus (pantat tepar lagi nih). Berakhirlah sudah perjalanan kami di Karimun Jawa. Banyak kenangan yang menyenangkan, dan aku agak nyesel kurang banyak mengabadikannya di kamera.

We're back to Bandung, Biatch!

Karimun Jawa memang panas dan membuat kami gosong. Aku emang beberapa kali mabuk laut. Para cowok emang sulit tidur dengan dengkuran manja Frank. Tapi itu semua menyenangkan.

Bye-bye Karimun Jawa.

1 komentar:

Posting Komentar