Kemal si Blogger Iseng

show them all you're not the ordinary type

Teletubbies Mau Membunuhku!!




Aku terbangun dengan perasaan tidak nyaman. Tiga detik kemudian aku baru sadar kalau kasurku sudah menghilang dan kini aku terbaring di padang rumput.

Kepalaku masih harus memproses apa yang sedang terjadi, jadi aku berdiri untuk melihat-lihat keadaan. Padang rumput ini dihiasi banyak bukit-bukit kecil. Di kejauhan aku melihat kincir angin yang cukup tinggi. Sejauh ini aku belum tahu dimana aku sekarang. Aku tak pernah melihat tempat ini dimanapun sebelumnya.

Lalu entah darimana, terdengar suara tawa anak bayi. Aku bergegas mencarinya. Jika ada anak bayi, pasti ada ibunya juga. Mungkin aku bisa bertanya dimana aku dan kenapa aku bisa sampai disini.
Tapi kucari kemanapun, aku tak bisa menemukan anak bayi tersebut. Aku sudah mendaki bukit yang paling tinggi untuk melihat-lihat sekitar, tapi tetap saja hasilnya nihil.

Panas semakin terik. Aku melihat ke atas untuk memastikan posisi matahari. Saat itulah aku terkejut.
Matahari itu berwajah bayi, dan sesekali bayi tersebut tertawa. Itulah suara yang kudengar. Aku semakin bingung tempat apa ini. Yang jelas ini bukan bumi, aku tak pernah tahu matahari mempunya muka imut selama ini.

“Haloooo, ada orang disini???” teriakku dalam putus asa.

Lalu terdengarlah suara itu, “Inilah dunia Teletubbies, Inilah dunia Teletubbies.”

Aku kaget, tapi langsung menuju ke sumber suara. Tapi hasilnya mengecewakan, suara itu keluar dari semacam pipa yang keluar dari bawah tanah. Apa mereka tinggal di bawah tanah?


“Halooo,” kataku pada pipa itu, “Apa kalian bisa mendengarku? Aku tersesat diatas.”
Aku mendengar suara seseorang di kejauhan. Kudaki bukit terdekat agar bisa melihatnya. Akhirnya terlihat seseorang selain aku di dunia aneh ini. Aku bergegas mendekatinya.

Tunggu. Dia bukan manusia. Ada bentuk segitiga di atas kepalanya, mukanya putih pucat, dan badanya ditutupi warna ungu. Makhluk apa itu?

Tiga makhluk yang mirip sepertinya mulai muncul mengikutinya. Warna mereka berbeda-beda, ada yang hijau, kuning dan satu lagi bewarna merah. Sejauh yang kulihat, mereka hanya berjoget-joget disana.

Aku sedang berpikir mendekati mereka ketika salah seorang manusia menghampiri mereka duluan. Yes, akhirnya ada manusia. Dan lebih bagusnya lagi, manusia itu adalah Roni, tetanggaku. Dia mencoba berbicara pada makhluk-makhluk tak jelas itu.

“Halo” katanya.

“Ah-Oh” jawab makhluk-makhluk tersebut. Kurasa Ah-Oh adalah salam mereka karena mereka terlihat melambai pada Roni.

“Begini, aku tersesat, bisakah kalian....”

“Berpelukaaannnn....” penjelasan Roni dipotong, dan mereka berempat mulai memeluknya. Lama mereka melakukannya sampai akhirnya mereka membubarkan diri.

Tunggu, Roni tidak bergerak. Dia terjatuh ke tanah sementara para makluk tersebut meninggalkannya. Mukanya pucat putih dan matanya terbuka ketakutan. Dalam sekejap, ketakutan menyebar di tubuhku. Apa yang terjadi barusan? Apa Roni....mati?

Ketika mereka sudah tak terlihat, aku mendekati Roni. Badannya dingin dan tak bernafas lagi. Perutku langsung mual melihatnya.

“Ah-Oh”

Aku tersentak melihat si makhluk bewarna merah melihatku dari atas bukit. Dia sedang menaiki skuter.
Badanku tak bisa bergerak sementara dia mulai turun dari bukit.

“Ka...kalian ini apa?” akhirnya aku mampu mengeluarkan suara.

“Kami adalah Teletubbies” jawabnya dengan suara riang. Ternyata kalau dilihat dari dekat, ada semacam tv di perutnya, membuatnya semakin aneh.

“Berpeluuukaaann..”

Ketika dia mengatakan itu, tv diperutnya menamppakkan tubuhku yang kaku seperti Roni. Dengan secepat mungkin aku melarikan diri dari situ.

Aku berlari ke arah yang salah. Teletubbies kuning menungguku di depan sambil membawa bola besar. Dia melemparkan bolanya ke arahku. Aku terjatuh terkena hantamannya.

“Berpeluuukaan...”

Teleubbies kuning itu mendekat....sambil membawa pisau. Kini aku tahu mereka memang mencoba membunuhku.

Aku langsung bangun dan lari sejauh mungkin. Dua teletubbies di belakangku hanya menatapku dengan tatapan kosong mereka.

Aku berlari dan terus berlari. Aku tak peduli lagi dimana ini. Secara tak sengaja, aku menemuka rumah yang dibangun dibawah bukit. Putus asa mencari perlindungan, aku masukke rumah itu untuk bersembunyi.

Itu pilihan yang sangat keliru. Ketika masuk, aku langsung melihat si Teletubbies ungu sedang makan di meja. Untungnya dia tidak melihatku. Aku bersembunyi di balik lemari.

“Hmmm...” kata si Teletubbies, “Kue yang dibuat dari manusia memang enak.”

Jantungku seakan mau copot. Mereka tak hanya mau membunuhku, tapi juga mau memakanku. Dengan perlahan aku mencoba keluar dari rumah. Saat itulah, Teletubbies hijau masuk dan melihatku.

“Ah-Oh”

Teletubbies ungu melihat ke arah kami. Dengan mulut masih penuh kue, dia beranjak dari meja makan. Dari dapur, dia mengambil sebuah pisau besar. Teletubbies hijau juga melepas topinya, dan seperti sulap, mengeluarkan pisau yang sama besarnya.

“Berpelukaaannn”

Aku tamat. Mereka mengepungku, dan tak ada jalan untuk lari.

“Saatnya Tubby berpisah, saatnya Tubby berpisah.”

Suara itu pasti dari pipa yang pertama kutemukan. Seperti terhipnotis, mereka beralih dariku dan menuju ke tempat tidur. Dua Teletubbies sisanya juga masuk dan mengikuti mereka ke tempat tidur. Tiba-tiba suana berubah dari ketegangan akan dibunuh menjadi lega mendengar mereka mendengkur.

Seharusnya aku lari, tapi karena terlalu lega, aku jatuh pingsan.

Ketika aku membuka mata lagi, aku berada di tempat tidur. Semua itu hanya mimpi buruk, syukurlah. Badanku penuh keringat. Mungkin aku tak bisa tidur untuk beberapa hari ke depan.

Aku membuka jendela dan sinar matahari masuk memenuhi kamar. Mataharinya normal, tanpa muka bayi. Aku tersenyum sendiri mengingatnya.

Perhatianku kemudian teralih ke keramaian di luar. Sepertinya tetanggaku sedang panik. Kulihat ada ambulans juga datang.

Aku mengerutkan dahi, lalu menutup jendela. Itu pasti tak ada hubungannya dengan mimpiku, kataku berulang kali dalam pikiran.

Saat itulah aku sadar ada yang berdiri di sudut kamarku. Karena gelap aku kurang bisa melihatnya, tapi kurasa itu ibuku, karena dia memakai tas wanita.

“Ibu, kenapa tetangga kita?”

Tak ada jawaban.

“Ibu?”

Bulu kudukku merinding saat aku sadari dia ditutupi warna ungu, dan sedang memegang pisau.

“Ah-Oh.”

0 komentar:

Posting Komentar