Kemal si Blogger Iseng

show them all you're not the ordinary type

Kemal Potter (Chapter 4 : Aku Membuat Obat Tidur Rasa Kobokan)

Masalahku sejak SMA hanya satu, yaitu sulitnya bangun kalau udah tidur nyenyak. Biasanya ibuku yang akan membangunkan dengan teriak keras-keras, atau kalau tak bisa juga, ayahku toh bisa sihir, dia mengeluarkan air dari tongkatnya dengan kejam.

Tapi kini tak ada yang membangunkan, dan parahnya, Edo pun sama tukang tidurnya denganku. Maka hari pertama kami di Hogwarts diawali dengan lari-larian sepanjang lorong menuju kelas.

Kelas pertama kami adalah ramuan, bareng dengan kelas Ravenclaw. Pengajar kami bernama Pak Samho, dia sepertinya berasal dari Maluku atau sekitarnya karena logatnya yang unik. Pak Samho geleng-geleng kepala melihat kami yang telat hampir setengah jam, tapi tetap memperbolehkan kami masuk. Ironisnya, hari ini kami akan membuat ramuan untuk tidur nyenyak, ramuan yang akan masuk daftar hitamku karena kebiasaan jelek tadi.

Aku dan Edo langsung menuju ke kuali kosong disebelah Fika. Dia sudah setengah jalan mengerjakan ramuan itu. “Itu resepnya, cepat kerjain” kata Fika sambil menunjuk ke perkamen di atas mejaku.

Aku agak kaget melihat bahan-bahan yang diperlukan. Sayap lalat, akar jahe, kaki capung, dan banyak hal aneh lainnya.

“Kita mau buat ramuan tidur atau racun sih?” kata Edo yang sama herannya.

“Entah,” jawabku, “lagian kalau mau tidur nyenyak, kenapa gak minum obat tidur biasa aja?”

“Karena ramuan ini akan membuat kita tidur nyenyak dengan mimpi indah, dan tanpa efek samping setelahnya. Kurasa obat tidur muggle tak bisa membuat yang seperti itu.”

Pak Samho ternyata berdiri di belakang kami. “Itu sudah kujelaskan tadi, tapi salah kalian datang telat.” Setelah mengatakan itu dia pergi mengecek hasil murid-murid lain. Fika cekikikan di sebelah. Aku dan Edo tak terlalu banyak ngobrol lagi setelah itu.

Setelah satu jam yang penuh usaha, aku sadar bahwa ramuan bukanlah bakatku. Ketika Pak Samho mencicipi ramuanku, dia langsung memuntahkannya dengan indah ke kuali lagi. “Kenapa rasanya seperti kobokan gini? Pasti ada yang salah di takaran serbuk kayu manismu!” komentarnya. Hebatnya, aku bahkan tak ingat ramuan ini perlu kayu manis. Jelas ramuanku ini berakhir gagal total.

Tapi bukan aku saja yang bernasib seperti ini. Setengah dari kelas sama saja denganku. Pak Samho mengomeli mereka satu-satu. Kebanyakan hanya karena salah sedikit takaran saja, tapi hasilnya bisa juah dari harapan. Bahkan ramuan Edo rasanya seperti sup ayam.

“Kamu terlalu banyak memasukkan paruh ayam!”

“Ma…maaf Pak” kata Edo gugup.

“Tapi enak juga, nanti kasih tahu resep ini ke koki kita ya.”

Mungkin suatu saat Edo akan menjadi koki handal.

Ramuan Fika bisa dibilang berhasil walaupun tak sempurna. Menurut Pak Samho, ramuan tidurnya akan bertahan tak terlalu lama, tapi dia tetap dapat nilai bagus. Yang berhasil mendapat nilai sempurna dari ramuan pertama ini adalah Iis. Mungkin karena merasa semua ramuan gagal, Pak Samho meminum begitu saja ramuan Iis, dan akibatnya langsung jatuh tertidur di kelas. Kami awalnya bingung, tapi akhirnya memutuskan untuk keluar dari kelas, meninggalkan Pak Samho tertidur di lantai sambil mengigau sesuatu tentang kambingnya.

Untunglah setelah itu kami boleh sarapan dulu sebelum lanjut ke kelas berikutnya. Aku, Edo, dan Iis makan dengan lahap di aulasambil ketawa-ketawa menceritakan kejadian di kelas tadi.

Tiba-tiba saja banyak burung hantu bertebangan masuk membawa surat. Satu per satu surat dijatuhkan ke anak yang dituju. Langit di aula sekarang penuh dengan burung hantu yang mencari pemiliknya. Aku kagum juga, ini pertama kalinya aku melihat burung hantu sebanyak ini.

“Hei, bukankah burung hantu itu kesulitan melihat di siang hari?” Tanya Edo, “kenapa mereka bisa gak tabrakan gitu ya?”

Tepat saat itu, seekor burung hantu terbang terlalu rendah dan menabrak Edo di mukanya. Mereka terjungkal ke belakang. Anak-anak lain tertawa melihat kejadian itu. Aku, mencoba menahan tawa, membantu Edo duduk lagi.

“Burung sialan!!”
“Hei, itu surat untukku” kataku. Aku mengenali tulisan ayahku di amplopnya. Kutarik amplop dari kaki burung hantu ceroboh itu, dan dia pun terbang menjauh.

Halo Nak, gimana hari pertamamu disana?

Kami sedih disini, rasanya sepi without you. Kirim surat ke kami jika sempat ya.

Aku sempat terharu membaca surat itu karena sepertinya ayah dan ibu kesepian tanpaku. Surat itu juga disertai foto. Di foto tersebut sepertinya ayah dan ibu baru saja membuat pesta karena akhirnya anaknya tak akan merusuh lagi di rumah dan mereka terlihat sangat bahagia. Kuremas surat tadi dengan kesal, apanya yang kesepian.

“Hei lihat ini” kata Iis tiba-tiba.

Dia sedang membuka koran. Berita utamanya memperlihatkan foto seseorang yang pernah kulihat sebelumnya.

“Gayus kabur dari penjara Cipinang!”

Suasana langsung agak sepi mendengar berita itu. Ridho dan Fika ikut berkumpul bersama kami untuk melihat korannya.

“Gayus? Maksudmu gayus tambunan?” tanyaku.

“Ya,” kata Iis, “Kurasa ini cukup gawat.”

Gayus adalah salah satu pelahap maut yang sangat setia pada Voldemort. Ketika Voldemort jatuh karena kakekku, kudengar dia menghilang. Dia sempat terlibat kasus penghilangan uang Negara (maksudku, dia benar-benar menghilangkannya). Dulu Gayus juga sempat kabur dari penjara dengan cara menyamar, tapi berhasil ditangkap lagi, dengan sedikit bantuan ayahku. Jujur saja, aku heran dengan Gayus yang tak terlihat makin tua.

“Apakah dia mau membangkitkan pelahap maut lagi?” Tanya Ridho.

“Mustahil menurutku,” kata Edo dengan yakin “Pelahap maut sudah habis berpuluh-puluh tahun yang lalu. Yang ada sekarang paling hanya orang-orang gak jelas yang pura-pura menjadi pelahap maut.”

“Oh aku tak akan terlalu yakin jika jadi kau.”

Kami menoleh ke belakang. Berdiri disana kombinasi teman yang paling aneh. Yang satu berbadan kekar, rambutnya keriting, dan giginya terlihat sangat putih sampai aku curiga dia menggosok giginya terlalu sering. Dia terlihat sangat sehat. Tapi temannya adalah kebalikan, dia kurus kering, kulitnya kusam, mukanya penuh jerawat, rambutnya dibiarkan berantakan dan sekeliling matanya hitam. Seolah-olah si sehat menyedot semua jiwa si sakit. Mereka berdua memakai seragam hijau Slytherin.

“Apa maksudmu Frank?” kata Ridho dengan sedikit malas.

“Yaahh menurutku,” si sehat yang dipanggil Frank menjawab, “semua itu mungkin kan?”

“Maksudmu kau berharap pelahap maut bangkit lagi?”

“Aku tak bilang begitu. Tapi begitupun tak masalah bagiku. Hidup sekarang terlalu membosankan. Ya kan Fika? He he he he.” Dia mengedip pada Fika sambil tertawa dengan memaksakan giginya tetap terlihat sehingga tertawanya mirip orang asma. Fika membuang muka.

Ridho terlihat makin kesal, “Oh, jadi bagaimana menurutmu dia melakukannya? Mengajak satu-satu penjahat?”

Kali ini si sakit yang menjawab duluan, “Bisa saja dengan barang yang ada di kamar tersembunyi itu, hihihi.”

“Bodoh Okki!” bentak Frank, “Kau tak perlu bilang pada semua orang!”

Okki menunduk malu. Dia makin terlihat parah.

“Baiklah, sampai berjumpa lagi nanti kawan-kawan.” Frank pergi sambil menarik kasar Okki.

“Aku tak suka mereka,” kata Iis.

“Aku juga,” tanggapku, “mereka terlihat aneh.”

“Sudahlah, lupakan saja mereka. Ayo kita makan lagi, sebentar lagi kita harus masuk kelas lagi kan?”

Tapi kami tak sempat melanjutkan makan. Kami sudah harus masuk ke kelas masing-masing. Aku, Edo dan Iis kini akan mempelajari ramalan, pelajaran yang menurut ayahku tidak terlalu penting. Dia punya alasan bagus untuk berkata seperti itu, karena dulu kakekku pernah diramal berkali-kali akan mati, dan dia masih sehat-sehat saja sekarang.

Ruangan ramalan didesain sangat mistis. Replika tata surya mengapung di atas. Bola-bola ramalan diletakkan di atas meja bundar hitam. Bahkan ruangannya penuh asap agar lebih dramatis, begitu kukira, sampai aku sadar asap itu berasal dari pengajar yang panik karena jubahnya kebakaran. Anak-anak langsung membantu memadamkan api entah dari mana itu.

“Huufft maaf anak-anak,” kata Bu Rosa, pengajar ramalan kami, “Aku secara tak sengaja membakar jubahka sendiri, hahaha.”

Aku baru saja berpikir bodoh sekali ada orang yang bisa tak sengaja membakar dirinya sendiri, tapi aku lalu teringat ketika di toko buku ketika secara tak sengaja aku pun membakar sekelilingku.

“Baiklah kita mulai pelajarannya. Oh ya, kamu Nak…”

Dia menunjuk aku.

“Kamu akan mendapat kesialan sebentar lagi.”

“Hah?” kataku dengan kerennya.

“Ya, dalam 3…2…1….”

Brak, kursi yang kududuki patah dan aku terjerembab dengan keras. Anak-anak menertawaiku.

“Reparo.” Bu Rosa mengayunkan tongkatnya, dan kursiku utuh kembali.

“Terima kasih Bu. Tapi lain kali tolong kasih tahu dari awal saja kalau kursi saya rusak” kataku jengkel.

Bu Rosa tak mempedulikanku. Dia menyuruh anak-anak melihat ke dalam bola dan melihat apa bentuk asap di dalam bola tersebut lalu mencari artinya di buku. Ini sangat konyol, tapi kuikuti saja perintahnya.

“Kamu yang jatuh tadi, coba beritahu apa arti asapmu.” Dia menunjukku lagi.

“Nama saya Kemal Bu, dan asap saya bentuknya seperti….asap.”

Bu Rosa mengangkat sebelah alisnya, “Coba lihat lebih teliti lagi.”

“Mmhhh…” Aku mencoba mengarang-ngarang, “Sepertinya ini bentuk hati, yang berarti artinya sangat dekat dengan kita, dan yang ini seperti….pantat?”

“Jadi?”

“Jadi….ada pantat di dekat kita?” kataku. Edo disebelahku sangat susah payah menahan tawa sampai keluar air mata. Aku juga ikut tersenyum.

Tapi tiba-tiba saja dari jendela muncul seseorang naik sapu terbang yang tak bisa dikendalikan dan menabrak Edo dengan keras. Pantatnya menduduki wajah Edo ketika jatuh. Semua anak tersentak kaget.

“Ridho!!” kataku heran.

“Maaf, aku tak bisa mengendalikan sapuku.”

Ramalanku ternyata betul.



Bersambung....


kalau mau lihat Kemal Potter dari chapter 1, klik label "Kemal Potter" dibawah ini, terus cek postingan lama. Selamat memasuki dunia sihir :D

0 komentar:

Posting Komentar