Kemal si Blogger Iseng

show them all you're not the ordinary type

Top 10 Film Favorit

Karna kesibukan kuliah dan lain-lain, aku agak kurang update sama blog kesayangan ini. Jadi untuk membersihkan debu, aku akan membuat daftar top 10 film favoritku. Tapi sebelumnya harus kuberitahu kalau aku tidak bisa dibilang penggemar film, aku hanya menonton kadang-kadang. Mungkin dalam satu bulan, hanya dua film baru yang kutonton.

Jadi dari daftar film yang sedikit itu, akan kupilih 10 yang pertama muncul di kepalaku. Itu berarti filmnya sangat berkesan, kurasa. Aku tidak menulisnya berdasarkan urutan favorit. Dan oh ya, kebanyakan adalah film komedi, karna aku suka tertawa. Jadi inilah daftarnya :

1. Rush Hour


Rush Hour bercerita tentang seorang detektif dari Cina bernama Lee (Jackie Chan) yang memiliki partner seorang polisi bodoh dari Amerika bernamm James Carter. Sementara Lee adalah orang yang serius, Carter justru memiliki sifat jenaka dan sering membuat ulah. Rush Hour adalah film komedi yang cukup terkenal hingga dibuat sekuelnya, Rush Hour 2 dan Rush Hour 3.

Aku selalu menyukai Jackie Chan. Tapi Chris Tucker bener-bener menambah sisi komedi pada film ini dengan sangat bagus. Aku sendiri gak nyangka perpaduan Amerika-China bisa membuat film Rush Hour sangat menarik. Dari semua Rush Hour series, aku rasa Rush Hour 2 adalah yang terbaik.

2. Harry Potter


Aku harus memasukkan series ini ke dalam list. Aku adalah penggemar berat buku dan film Harry Potter. Lucunya, aku justru nonton filmnya dulu sampai yang keempat ketika sadar kalau Harry Potter itu awalnya dari novel. Aku harus bilang kalau bukunya lebih baik dari film, tapi filmnya tetap merupakan fenomenal. Harry Potter kelima adalah yang terbaik bagiku.

Apa lagi yang bisa kubilang tentang Harry Potter, mereka sudah sangat terkenal. Aku adalah satu dari banyak orang yang tumbuh besar bersama Harry Potter. Saking sukanya, aku pernah membuat cerpen Kemal Potter (yang lumayan disukai banyak temanku). Sampai sekaranga aku masih menunggu surat dari Hogwarts.

3. Megamind


Untuk film animasi 3d, Megamind adalah salah satu favoritku. Megamind bercerita tentang dua orang bayi alien yang dikirim ke bumi. Satu menjadi superhero (Metro Man), satu lagi menjadi penjahat super(Megamind). Pada akhirnya, Megamind menjadi pahlawan yang menyelamatkan Metro City dari pahlawan yang dibuatnya. Bingung? Kau harus menontonnya.

Kelebihan dari film ini adalah jalan ceritanya sulit ditebak. Disana sini ada kejadian tak terduga. Komedinya juga dapet. Twist endingnya keren dan semua karakternya dibangun dengan keren. Megamind yang mana adalah alien penjahat bisa membuat kita iba, kan keren banget tuh.

4. Evan Almighty


Film ini mungkin agak kontroversial karena berhubungan dengan agama (dan Morgan Freeman yang muncul sebagai Tuhan), tapi bodo amat, aku suka banget. Evan Almighty, yang semacam sekuel dari Bruce Almighty, bercerita tentang Evan yang dipilih Tuhan untuk membuat sebuah bahtera. Bisa dibilang juga, Evan diberi tugas yang sama dengan Nabi Nuh dulu. Tentu saja dia menghadapi masalah dengan tugas itu.

Selain lucu, film ini penuh makna bagus. Salah satunya adalah, jika kau berdoa pada Tuhan tentang sesuatu, Dia tidak akan memberikannya begitu saja, tapi Dia akan memberikan jalan agar dirimu bisa mencapai impian itu. Keren kan?

5. Nagabonar Jadi Dua


Ini adalah satu-satunya film Indonesia yang masuk ke daftar. Aku tidak terlalu demen film Indonesia sejak awal, jadi sedikit juga yang berkesan. Mungkin hanya ini dan Laskar Pelangi series yang benar-benar kusuka, tapi ini sedikit lebih bagus (dan tidak, aku belum pernah nonton The Raid).  Harus kuakui, Tora Sudiro dan Dedy Mizwar memainkan perannya dengan sangat baik.

Sama seperti kebanyakan orang seumuranku, aku nonton film ini dulu sebelum nonton Nagabonar pertama. Bahkan sebelum tahu latar belakang Nagabonar, aku sangat suka film ini. Ceritanya sangat bagus. Veteran perang memiliki anak yang sukses di dunia modern. Ceritanya bermula ketika Bonaga (anaknya) membawa Nagabonar untuk tinggal bersamanya di kota. Bonaga ingin menjual tanah di kampungnya ke investor dari Jepang. Tentu saja itu jadi masalah bagi Nagabonar yang dulu berperang dengan Jepang.

6. Scott Pilgrim vs The World


Aku tidak pernah tahu apa itu Scott Pilgrim sebelum aku menontonnya bersama temanku. Ternyata filmnya sangat keren, dimana dunianya bercampur dengan dunia game. Belum lagi plot ceritanya sangat unik dan berbeda. Mau tahu? Oke, Scott Pilgrim yang ingin mengencani seorang cewek harus melawan tujuh mantan jahat. Ya, tujuh mantan jahat. Dan dia harus menghadapinya dengan cara unik di setiap pertandingan.

Scott Pilgrim sebenarnya bermula dari sebuah komik Amerika (yang ternyata sangat terkenal), lalu dibuat menjadi game. Scott Pilgrim dimainkan oleh Michael Cera yang mulihat mukanya aja bisa bikin kita ketawa. Film ini memiliki humor unik dan fresh bagi anak-anak muda, terutama yang suka main game.

7. Song of the Sea


Aku membaca sebuah komentar di Youtube tentang sebuah film yang sebenarnya lebih bagus dari Frozen tapi kalah pamor bernama Song of the Sea. Ketika kulihat trailer filmnya, aku langsung jatuh cinta dengan animasinya yang sangat indah.

Song of the Sea memiliki cerita adaptasi dari mitos Skotlandia. Ceritanya berpusat ke dua kakak beradik, Ben dan Saoirse. Ibu mereka meninggal saat melahirkan Saoirse dan membuat ayahnya depresi hingga sekarang. Saoirse sendiri tidak bisa bicara tapi lincah sehingga Ben kadang terganggu olehnya. Tapi mereka tidak tahu kalau Saoirse sebenarnya adalah seorang Selkie (manusia di darat, anjing laut di laut) dan memiliki kemampuan menyembuhkan makhluk yang membatu karena kutukan Macha, kemampuan yang sama dengan ibunya dulu.

Ceritanya agak rumit, dan jujur aja, aku juga gak ngerti sepenuhnya. Tapi animasi dan keimutan Saoirse terlalu bagus untuk dilewatkan. Kalian harus nonton.

8. Spongebob the Movie


Yang kumaksud adalah film Spongebob yang pertama, karena yang kedua cukup mengecewakan. Spongebob the Movie memiliki semua hal tentang Spongebob, dari petualangan Spongebob dan Patrick yang kekanakan, hingga Plankton yang super jahat. Filmnya memang gak terlalu panjang, tapi berkualitas.

Semuanya bermula ketika mahkota raja Neptune dicuri Plankton yang kemudian menuduh Mr. Krab sebagai pelakunya. Tentu saja raja Neptune tertipu, karena dia bodoh. Disinilah Spongebob dan Patrick melakukan petualangan mencari mahkota tersebut. Film ini ditutup oleh pesan bahwa kita harus lebih menyukai diri kita sendiri, apapun yang orang bilang.

9. Kung fu Hustle


Bukan Stephen Chow namanya kalau filmnya tidak lebay. Setelah sukses bersama Shaolin Soccer, kini Stephen Chow lebih ingin menceritakan tentang kungfu itu sendiri. Kungfu Hustle bercerita tentang perseteruan sebuah desa yang banyak diisi oleh master kungfu dengan grup mafia. Sing, yang tadinya anggota geng mafia, akhirnya berpaling melindungi desa itu setelah kekuatan kungfunya bangkit.

Keren dan lebay, tapi sedikit berbeda dari Shaolin Soccer yang hampir semuanya aksi, film ini menceritakan karakter si Stephen Chow dengan lebih baik. Kisah bagaimana dia belajar kungfu, hingga cinta pertamanya dengan sebuah cewek bisu saat masih kecil, aku suka semua itu.

10. Zombieland


Dan menutup list ini adalah film horor komedi (ya, komedi lagi) berjudul Zombieland. Zombieland bercerita tentang seorang lelaki bernama Columbus (mereka memakai nama kota sebagai nama tiap karakter) yang menjelajahi dunia penuh zombie. Awalnya sendirian, dia kemudian bertemu Tallahassee yang mana adalah pembunuh zombie sangar. Mereka lalu bergabung dengan Wichita dan Little Rock, yang kemudian mengkhianati mereka berdua.

Aku suka film ini karena memperlihatkan film zombie tidak harus selalu gelap dan penuh kematian, tapi juga bisa lucu dan menyenangkan. Bill Murray juga muncul disini sebagai orang yang berpura-pura jadi zombie lalu ditembak mati. Keren kan? :D

Pembunuh Imut


Jarno berjalan pulang dari kantornya. Langit sudah gelap dan tidak ada tanda-tanda orang lagi di sekitarnya. Suasana sangat sepi, tapi Jarno sudah terbiasa. Dia melihat jam tangannya sambil berharap kalau istrinya mau menghangatkan makanan malamnya nanti.
Tiba-tiba di sudut jalan, muncul seorang anak perempuan. Dia berjalan ke arah Jarno sambil melompat-lompat seakan dia sedang sangat bahagia.
Jarno tersenyum, tapi dia heran kenapa anak kecil itu sendiri saat malam begini.
Ketika dilihat dari dekat, anak ini sangat manis. Dia memakai baju putri dongeng, sehingga menambah keimutannya.
“Hai Dik,” sapa Jarno, “kenapa sendirian? Bahaya lho malam-malam gini.”
Anak kecil itu terjatuh karena tersandung sesuatu. Jarno buru-buru mendekatinya. “Kau tidak apa-apa?”
Anak kecil itu tidak menangis. Dia hanya tertunduk sambil memegang jarinya. Jarno yang melihatnya, hanya makin merasa kalau anak ini sangat imut.
Lalu anak itu melihat Jarno dengan mata bulatnya. Dia tersenyum. Senyum yang sangat manis.
Jarno merasa keimutan menyelimuti dirinya.


Polisi berlalu-lalang di jalan. Beberapa sedang memotret, yang lain menghalangi agar penduduk biasa tidak ikut campur.
Seorang wanita terisak-isak menjelaskan ceritanya pada detektif.
“Dia belum pulang juga hingga pagi ini. Ja. . .jadi aku mencoba mencarinya ke jalanan sebentar. Saat itulah aku menemukan dia terbaring di jalan. Aku tidak tahu harus bagaimana, jadi aku menelpon polisi. Dia. . .dia mati.”
Istri Jarno kemudian menangis lagi. Detektif yang bernama Rindra itu menepuk bahunya. Dia kemudian memanggil asistennya, Mira.
“Bagaimana?”
“Seperti kata anda. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Dia meninggal karena tercekik rasa imut.”
Rindra menggaruk kepalanya. “Ini sudah ketiga kalinya bulan ini.”
“Dengan total 10 korban. Pembunuh berantai ini sudah bertindak terlalu jauh!”
“Aku tahu. Kita harus segera menghentikan si pembunuh imut ini. Ada petunjuk?”
Mira menggeleng. “Seperti biasa. Aku menemukan beberapa batang lolipop yang dia makan saat menunggu korbannya. Tapi setelah itu nihil. Kejahatan sempurna seperti biasa.”
“Kita tak bisa menemuka DNA dari bekas lolipopnya?”
“Tidak. DNA-nya tertutup oleh kerlap kerlip bintang, mungkin karena dia sangat imut.”
Rindra sedang berpikir keras ketika tiba-tiba Inspektur kepolisian datang dan menegurnya. “Rindra! Sudah berulang kali kubilang jangan ikut campur kasus ini!”
Rindra tidak menjawab. Dia bahkan tidak melihat Inspektur. Mira yang berbicara menggantikannya.
“Maaf Pak. Tapi bukannya Bapak perlu semua bantuan yang bisa didapat?”
“Ya, tapi bukan dia,” kata Inspektur. Rindra melihatnya dengan tatapan kesal. “Jangan salah paham. Kau memang detektif yang hebat. Tapi kau membuat masalah ini menjadi pribadi sejak. . .”
Mira panik, “Pak, jangan bilang kata-kata itu!”
“....sejak anakmu hilang.”
Rindra tersentak. Dia lalu mengalami flashback.


Dia hanya ingin menonton lagi. Naruto sedang melawan Madara dan dia ingin tahu siapa yang menang.
“Papa, kita main dulu yuk. . .”
“Sstt diam. Madara lagi jelasin rencananya nih.”
Anaknya, Medina, kesal. Untunglah adik Rindra, Frank, mengajaknya pergi main.
“Pergi ke taman sama Paman aja yuk.”
“Tapi Papa udah jarang ngajak aku main,” keluh Medina.
Rindra malah mengejeknya, “Biarin, kamu kan udah gak imut lagi, bweeekkk.”
Medina mengembungkan pipinya karena kesal, “Dasar papa pantat gede!”
Pantat gede. Pantat gede.
Kata-kata itu terus terngiang. Itulah kata-kata terakhir Medina, karena setelah itu dia menghilang. Frank ditemukan meninggal. Korban pertama pembunuh imut.


“Kenapa dia diam sambil mengulang-ulang kata ‘Pantat gede’?” tanya Inspektur.
Mira memijit kepalanya. “Dia sedang flashback. Ini sering terjadi.”
“Yah, pokoknya kalian tidak boleh ikut campur lagi. Aku tahu Rindra masih mencari anaknya. Tapi kita tak bisa mencampurkan masalah ini dengan hal pribadi. Serahkan saja pada kami.”
Inspektur kemudian pergi melihat TKP. Mira menarik tangan Rindra, menyadarkannya daroflashback. “Ayo, aku antar anda pulang. Tak ada yang bisa kita lakukan disini.”
“Mira. . .”
“Ya?”
“Apa kesamaan semua korban?”
“Ngg, sebentar,” Mira terlihat berpikir, “mereka semua pulang malam?”
“Selain itu?”
“Hmm, mereka sudah berkeluarga.”
“Ya, tapi kau melewatkan sesuatu yang penting.”
“Apa itu?”
“Mereka semua adalah laki-laki yang suka hal-hal imut.”
Mira berkata kaget, “Benar juga. Kalau tidak salah korban kita yang sekarang juga suka My Little Pony. Dia memposting hal itu di blognya.”
Rindra mengangguk. “Kurasa aku tahu bagaimana memancing pembunuh imut keluar.”


Beberapa hari belakangan ini, Rindra sibuk membuat blog tentang banyak hal imut. Dia menggunakan nama Dolan sebagai samaran. Rindra sebisa mungkin membagi postingannya di setiap media sosial sehingga pembunuh itu bisa melihatnya. Dia juga dengan pintar menyelipkan informasi kalau dia suka pulang malam dan punya keluarga bahagia.
“Anda gila!!” kata Mira.
“Kenapa?” tanya Rindra sambil mengetik di blog.
“Anda bisa terbunuh! Pura-pura jadi korban supaya memancing pembunuh keluar. . .bagaimana kalau ada yang salah?”
Rindra melihat jam. “Sudah saatnya aku pergi. Kurasa aku bisa memancingnya malam ini.” Dia mengambil jaketnya dan hendak keluar, tapi Mira menghalanginya.
“Aku tidak bisa membiarkan Anda pergi.”
“Mira. . .” Rindra memegang tangannya. “Jika aku tidak kembali, aku ingin kau tahu. . .”
Mira menunggu. Matanya berkaca-kaca.
“Kalau aku. . .aku. . .makan es krim-mu kemarin.”
“Apa??”
“Aku menyesal soal itu.”
Lalu tiba-tiba, Rindra memukul perut Mira.
Mira mengerang sakit, “U...untuk apa itu?”
“Ngg, kukira kau akan pingsan dengan sekali pukul seperti di film-film dan aku akan pergi tanpa melihat kau menangis.”
“Anda terlalu banyak nonton TV.” Mira kemudian duduk di sofa. “Pergilah.”
Rindra tersenyum. “Kau tahu aku bercanda kan?”
“Anda tidak memakan es krim-ku?”
“Bukan,” Dia memakai kacamata hitam, “aku tidak benar-benar menyesal.”
Rindra kemudian pergi.


“Aw!” Dia menabrak tiang listrik. Dilepaskan kacamata hitam itu. Susah jadi keren saat malam-malam.
Rindra berjalan dengan tenang, sebisa mungkin tidak melakukan hal yang mencurigakan.
“Ayo, muncullah. . .” katanya dalam hati.
Jalanan sudah gelap dan tidak ada orang di sekitar sini. Tempat yang sangat bagus untuk melakukan kejahatan.
Apa yang diharapkannya pun datang. Seorang anak kecil muncul di pinggir jalan. Dia memakai baju ala Red Riding Hood yang membuatnya terlihat sangat imut.
Rindra sudah mempersiapkan melawan keimutannya itu. Dari kemarin dia nonton film sedih. Bahkan, dia nonton Finding Nemo dari adegan dimana ibunya mati. Kini hatinya sudah beku.
Walaupun begitu, keimutan si pembunuh tetap terasa di hatinya. Rindra berusaha mengingat hal sedih ketika pembunuh itu berjalan sambil tertawa manis.
Pembunuh itu terlihat terkejut melihat Rindra. Rindra merasa dia adalah orang pertama yang bisa bertahan dari keimutan si pembunuh sejauh ini.
“Kau. . .di mana anakku?”
Pembunuh itu hanya diam. Dia melihat Rindra dengan tatapan memelas seperti anak kecil yang ingin dibelikan sesuatu. Nafas Rindra menjadi sesak, tapi dia tetap bertahan.
“Di mana anakku?? Apa kau sudah membunuhnya?”
Pembunuh itu terkikik. Lalu dia tertawa jahat.
“Bukan papa! Akulah anakmu!!”
“Medina?” Rindra berlutut. “Tidak. . .ke-kenapa? Kenapa kamu menjadi seperti ini?”
“Apakah aku masih tidak imut papa?”
“Hah?”
“Papa bilang aku sudah tidak imut lagi. Bagaimana dengan sekarang?”
Rindra menggertakan gigi. “Kamu melakukan semua ini hanya karena itu? Papa kan Cuma bercanda.”
“Papa kan cuma bercandaaaa.” Medina mengulanginya dengan nada imut. Dada Rindra terasa sakit.
“Percuma, kamu gak bisa membunuh papa hanya dengan ini.”
“Benarkah?” Medina tersenyum. “Bagaimana kalau ditambah ini?”
Dia mengeluarkan kelinci dari balik jubah merahnya. Kelinci yang sangat, sangat imut.
“Uggh!!” Rindra memegang dadanya yang makin sakit. Dia tak akan bisa bertahan lebih lama.
“Bagaimana Pa? Aku imut kaaaannn....”
Dor.
Suara letusan pistol itu diikuti oleh Medina yang terjatuh di tanah. Rindra bisa melihat Mira, berdiri tak jauh dari situ sambil memegang pistol.
“Aku datang tepat waktu. . .” katanya.
Rindra yang mulai membaik langsung meraih bahu anaknya.
“Me-Medina. . .maafkan papa. . .”
Medina mengelus pipi Rindra. “Papa. . .aku imut kan?”
“Ya sayang, kamu imut kok.”
Medina menutup matanya sambil tersenyum. Rindra menangis terisak, “Kamu imut nak. . .”
Mira mendekati Rindra. “Maaf harus berakhir seperti ini.”
Rindra mengelap air matanya. “Tidak apa. Terima kasih sudah datang.”
Mira tersenyum, dia lalu membantu Rindra berdiri. “Paling tidak kasusnya selesai.”
“Ya, eh, tunggu. . .” Rindra melihat ke sekeliling. “Mana kelinci itu?”
Tiba-tiba Rindra merasakan sakit di punggungnya. Dia ambruk. Mira yang kaget langsung mencoba mengeluarkan pistolnya, tapi sebuah pisau lebih dulu di lehernya.
“Mi..mira.. . Mira!!” Rindra melihat dengan ngeri saat Mira terjatuh bersimbah darah. Dia sendiri tak bisa bergerak karena luka di punggung. “Apa yang terjadi??”
Kelinci berjalan ke arahnya sambil menggigit pisau. Rindra tak sempat berkata apa-apa sebelum pisau itu menghujam mukanya.

The Conjuring (Part 5 : Latihan)


(Ali)

Aku menguap lebar banget. Ibuku sampai berkomentar, “Wih, kayak black hole.” Aku hanya cuek sambil menggaruk-garuk punggungku.

Tadi malam aku benar-benar tertidur lelap. Pertarungan melawan Kevin dan Gin Gin, khususnya sebelum Zico dan Niko datang membantu, sangat melelahkan. Kasihan tubuhku, dia diciptakan untuk tahan main game, bukan untuk pertarungan seperti ini.

Aku sempat berbincang-bincang dengan Kemal kamarin sebelum kembali ke rumah, dan kami berdua agak menyesal sudah bicara terlalu cepat. Kalau dipikir lagi, yang akan kami ikuti ini perkara hidup mati. Hal seperti ini seharusnya dipikirkan dengan lebih mendalam dan menghitung untung ruginya.

Dan setahuku, kami tidak mendapat untung sama sekali, kecuali mungkin bisa bertemu dewa (yang mungkin bisa tetap terjadi jika kami mati).

Kugaruk kepalaku sembari berjalan keluar. Aku mengambil koran pagi di depan pintu rumah.

Nafasku tertahan ketika melihat salah satu beritanya sekilas. Dan sialnya, itu berarti koran itu berubah menjadi besi dan jatuh menghantam kakiku.

“Aduh, aduh. Sial.” Sambil terjingkat-jingkat, aku membawa koran itu ke meja makan. Berita tersebut menampilkan foto yang memperlihatkan bayangan sebuah makhluk besar di sebuah sungai. Makhluk yang menyerupai Loch Ness.

“Apa-apaan ini? Apa ini beneran?”

Foto itu jauh lebih jelas daripada foto-foto Loch Ness sebelumnya yang biasanya kabur, walaupun tetap tidak terlihat secara keseluruhan. Ditulis kalau ada warga sekitar sungai sedang ketakutan karena sering mendengar suara aneh di saat malam. Kini ditambah foto yang secara tidak sengaja diambil orang lewat itu. Warga pun gempar.

Biasanya aku cukup tertarik dengan hal misterius semacam ini. Tapi mengingat apa yang terjadi semalam, aku punya firasat aneh ini berhubungan dengan turnamen nanti. Aku jelas tidak mau melawan orang yang bisa menggunakan Loch Ness.

“Kenapa kok baca beritanya merengut gitu?” tanya ibuku yang sedang memasak telor untuk sarapan.

Aku buru-buru melipat koran itu, “Gak papa. Aku mau ke tempat Kemal dulu ya.”

“Eh, makan dulu dong.”

“Masih kenyang. Kemarin kebanyakan makan indomie.”

“Paling gak mandi dulu dong.”

“Ih, cuma ke tempat Kemal kok. Bentar juga balik.”

“Gosok gigi dulu!” katanya sedikit marah.

Aku merengut. Seandainya saja ibuku tahu kalau aku sedang menghadapi masalah yang lebih besar daripada kesehatan gigi. Tapi harus kuakui di saat seperti ini, ibuku lebih mengerikan dibanding Loch Ness.

Malas-malasan, aku menuju ke kamar mandi. Kubuka pintunya.

“Hei.”

“AAAHHHHHH!!!” teriakku.

Aku hampir terkena serangan jantung melihat Pak Moes sedang duduk santai di kloset kamar mandiku.

“Kenapa Li?” tanya ibuku dari dapur.

“Eh, enggak. Cuma kecoa!” Aku masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya. “Apa yang kau lakukan disini?”

“Oh maaf. Aku hanya ingin memberitahu kalau kita akan latihan sebelum turnamen. Nanti malam berkumpul di lapangan dekat warung Pak Moes ya. Jam 10-an.”

“Kau tahu, kau bisa masuk dari pintu depan seperti orang normal lain kali. Ngomong-ngomong, latihan apa?”

“Aku sudah meminta temanku untuk membawa beberapa orang dari timnya untuk latih tanding bersama kita. Ini adalah latihan pertama dan terakhir sebelum turnamen.”

“Apa? Memangnya turnamennya kapan?”

“Lusa.”

“Ta...tapi, aku belum siap mental!”

“Karena itu, datanglah latihan.” Pak Moes dengan santai bersandar dan melipat kakinya. “Aku ingin bertanya sesuatu kalau boleh?”

“Eh, apa?”

“Kenapa kekuatanmu adalah koran menjadi besi. Kekuatan ini biasanya didapat dari sifat khusus pemiliknya. Apa hubunganmu dengan koran?”

“Oh, itu. . .” Aku bersandar ke pintu kamar mandi, “ceritanya panjang.”

“Yah, aku cukup nyaman disini.”

“Oke oke. Itu karena. . . aku pernah jadi loper koran saat kecil.”

Hening.

“Wow, itu cerita yang sangat panjang,” komentar Pak Moes. “Kenapa kau jadi loper koran?”

“Yaahh, ayahku menghilang. Jadi aku perlu uang saat itu.”

Pak Moes menundukkan kepala. “Oh, semoga dia berisitirahat dengan tenang.”

“Tidak tidak. Dia tidak mati. Dia menghilang. Kejadiannya sangat aneh, dia menghilang begitu saja. Kami sedang makan di sebuah restoran, dia masuk ke kamar mandi dan puff. . .dia menghilang. Sampai sekarang aku juga tidak mengerti apa yang terjadi.”

Ekspresi Pak Moes berubah.

“Apa kau yakin dia tidak. . . yah, kabur mungkin?” tanya Pak Moes.

“Tidak. Aku menyusul dia sekitar 1 menit setelah dia masuk karena ingin pipis juga. Tapi dia sudah tidak ada.”

Kini dia hanya diam, membuatku curiga.

“Hei, jangan bilang kau tahu sesuatu tentang ayahku?”

Sebelum dia sempat menjawab, sebuah ketukan di pintu mengagetkanku.

“Kok lama banget sih di dalam? Ibu mau pake juga nih!” teriak ibuku, kini agak menggedor.

“Bentar, lagi flashback!!”

“Ibu juga mau flashback. Gantian dong.”

Aku melihat lagi ke Pak Moes, dan dia sudah tidak ada disana. Saat itu juga ibuku masuk dengan kasar.

“Sana keluar, gantian.” Dia melemparku keluar. Aku tidak sempat kesal. Setelah ibuku menutup pintu, aku buru-buru pergi keluar, ke tempat Kemal.




“Kau melihat Loch Ness dan Pak Moes di kamar mandi?”

“Bukan, ya ampun. Kau dengar kata-kataku gak sih?” kataku kesal.

“Kau bicara terlalu cepat tahu!”

Aku mengatakan lagi apa yang telah terjadi pagi ini, termasuk perubahan ekspresi Pak Moes saat aku menceritakan ayahku. Kemal terlihat berpikir.

“Hmm, itu memang aneh. Kenapa Loch Ness muncul di sungai? Seharusnya kan di danau.”

“Kau tidak merasa curiga kalau Pak Moes tahu sesuatu tentang ayahku?”

“Ya, itu juga. Dan. . .” Kemal berhenti. “Oh, dia datang lagi.”

“Siapa. . . OH SIAL!!”

Fathia berlari menuju arahku. Dia melompat untuk memeluk, yang kuhindari dengan sedikit bergeser ke samping. Dia jatuh menghantam tanah.

“Jangan peluk-peluk aku!” bentakku.

Fathia, yang mana juga adalah mantan pacarku, merengut. “Aku masih sayang tahu!!”

“Aku tidak! Pergi sana.”

“Kenapa kau tidak mau balikan denganku??”

“Ya, kenapa tuh?” komentar Kemal ikut-ikutan.

“KARENA KAU GILAAA!!”

Dibilang seperti itu, Fathia makin merengut. “Aku akan membuatmu suka padaku lagi. Lihat saja. Di turnamen nanti, aku akan membuatmu jatuh hati.”

Dia terus berteriak sambil pergi menjauh.

Eh tunggu, turnamen?

“Ya ampun, jangan bilang dia juga ikut turnamen??” kata Kemal seakan-akan mengatakan pikiranku.

Aku shock. “Aku berharap tidak akan melawannya.”

“Apa ya kira-kira kekuatannya?”

“Jadi orang menyebalkan mungkin, aku tak tahu.”

Walaupun kubilang begitu, aku kepikiran juga. Sial, aku benar-benar butuh latihan nanti malam. Semoga saja itu bisa membangkita kepercayaan diriku.




Dan. . . .disinilah aku, sangat tidak percaya diri setelah melihat Kemal, Zico dan Frank dibantai oleh seorang cewek. Cewek yang sangat kuat.

“Bagus Tephi,” kata mas-mas yang juga merupakan staff dewa bernama Paolo. Tephi yang dibilang adalah salah satu anggota timnya. Dia membawa satu orang lagi, namanya adalah Risfan, cowok kribo gempal yang terlihat sangat menikmati pembantaian ini.

“Begini saja nih? Ini sih bukan latihan untukku.” Kata Tephi.

Pak Moes menoleh ke arahku, “Giliranmu. Ayo maju.”

“Apa kau gila?? Apa kau tidak melihat dia mengalahkan mereka bertiga dengan mudah?”

Aku tidak bercanda. Kekuatan Tephi sebenarnya simpel, menukar apa yang di tangannya dengan benda yang dilihatnya. Tapi secara praktek, dia menggunakannya secara pintar. Tephi menyimpan banyak bom ukuran kecil yang bisa dia tukar kapanpun dia mau.

Kemal dikalahkannya dalam 2 menit. Tephi menukar bat baseball yang Kemal buat dengan bom. Bom tersebut meledak di tangannya.

Zico sedikit lebih baik. Dia berhasil membuat Tephi harus menghindari serangan robotnya. Tapi Zico ceroboh dengan menunggangi robot itu. Dalam sekejap, Zico malah jadi menunggangi bom. Dan dia pun kalah.

Frank kalah ketika gitarnya ditukar dengan bom. Dia kalah tanpa bisa berbuat apa-apa.
Apa yang harus kulakukan melawan cewek ini?

“Maju saja sudah!” perintah Pak Moes. Aku maju dengan takut-takut. Tephi melihatku dengan serius.

“Oke mulai!” teriak Paolo.

Aku tahu Tephi akan mengubah koranku menjadi bom. Aku bergerak cepat dan merobek koran jadi potongan kecil itu lalu melemparkannya ke Tephi. Kutahan nafasku.

Tephi menghindari koran besi itu. Dia tersenyum, “Boleh juga.”

Sambil memutari dia, aku melemparkan koran lagi. Tapi sebelum kulempar, koran itu berubah menjadi bom. Aku berguling-guling menghindarinya. Sial, reaksi Tephi sangat cepat.

“Hei,” katanya tiba-tiba.

“Ngg, apa?”

“Kau menyimpan koran cadangan di kantongmu tuh.”

“Yaa, terus kena. . .oh sial.”

Bukan koran, yang ada justru bom di kantongku. Aku merasakan hawa panas ketika bom itu meledak. Ingatanku cukup kabur setelahnya.



“Hei bangun.”

Aku melihat Kemal sedang menggoyangkan badanku. Untuk sesaat, aku bingung apa yang terjadi. Lalu aku ingat pertarungan itu.
Dadaku terasa sakit luar biasa, pasti akibat ledakan di kantong. Oh bagus, bajuku rusak parah. Walaupun aku tak mati karena ledakan, ibuku akan membunuhku karena aku merusak baju bagus.

Aku  melihat Zico (yang kelihatan kesal) dan Frank (yang kelihatan seperti orang mabuk) duduk di sekitarku. Niko terlihat tidak apa-apa.

“Apa kau menang melawan Tephi?” tanyaku padanya.

“Tidak juga. Kami hanya sama-sama tidak bisa menyerang karena aku bisa menghilang dan aku tidak bisa memukulnya saat menghilang.”

“Yah, paling tidak kita tahu siapa yang bisa melawan Tephi nanti,” kata Pak Moes. “Kurasa kalian sudah tahu inti dari latihan ini.”

“Hmm, diledakkan itu sakit?” tebak Kemal.

“Maksimalkan kekuatan kalian, itulah inti latihan ini. Tephi tidak menggunakan kekuatan secara membabi buta sepeti kau dan Zico lakukan. Ali sudah cukup bagus, tapi masih ceroboh menyimpan koran di kantong setelah tahu kekuatannya. Frank . . .yah, Frank harus lebih berusaha.”

Aku menunduk. Jika di turnamen nanti semua lawan seperti Tephi, kami hampir pasti tidak punya kesempatan.

“Jadi, apa yang harus kami lakukan?” tanyaku.

“Mulai sekarang, pikirkan cara untuk memaksimalkan kekuatan kalian.” Dia berdiri dan mulai menunjuk kami satu per satu.

“Ali, caramu menggunakan koran sebagai shuriken tadi sudah bagus. Jangan lupakan kau bisa menggunakan kelenturan koran sebelum merubahnya jadi besi.”

“Kemal, kau tidak perlu selalu mengeluarkan senjata. Pikirkan benda-benda yang bisa merepotkan lawan saat bertarung. Jangan lupa, menulis bisa memakan waktu. Belajar menulis lebih cepat.”

“Frank, kunci seranganmu adalah serangan cepat. Jangan sampai lawan menyerangmu duluan sebelum kau memainkan musik. Mungkin kau bisa mulai dengan musik yang mudah dimainkan tapi bisa mempengaruhi lawan. Carilah lagu semacam itu.”

“Zico, belajarlah menggunakan robotmu dari jauh. Kekuatan dan ukuran robotmu sudah menjadi keuntungan, ditambah senjata yang dimilikinya. Jangan memukul lawan membabi buta. Belajarlah menganalisa situasi dan tahu kapan harus bertahan.”

“Dan terakhir Niko. Kekuatanmu cukup merepotkan karena kau tak bisa menyerang dengan tangan kosong saat menghilang. Siapkanlah senjata, apapun yang bagus untuk serangan jarak dekat. Belajar untuk berjalan pelan dan tidak terdeteksi sama sekali.”

Kami semua diam. Wow, Pak Moes ternyata cukup hebat soal ini. Aku sudah meremehkannya. Aku melihat Zico dan Kemal sudah mulai berpikir tentang apa yang harus dilakukan. Sebaliknya, Niko dan Frank masih terlihat takut.


“Bersiaplah,” kata Pak Moes lagi, “Turnamen akan mulai lusa. Kalian harus siap saat itu.”



Bersambung. . .