Kemal si Blogger Iseng

show them all you're not the ordinary type

Tampilkan postingan dengan label Kemal Potter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemal Potter. Tampilkan semua postingan

Kemal Potter (Chapter 5 : Seseorang Mati Dengan Sangat Tidak Keren)


Aku tidur dengan menahan sakit di bagian pipi, pantat Ridho mendudukiku dengan anggun di bagian itu. Karena kejadian itu, aku sekarang mempunyai julukan ‘Peramal Pantat’. Alasan yang cukup untuk membuatku ingin tidur lebih cepat.

Awalnya aku hanya berbaring di kasur selama sekitar setengah jam karena memang saat ini belum jam tidurku, tapi akhirnya aku terlelap juga.

Untuk kedua kalinya, aku tak bisa bersantai-santai dalam mimpi.

Aku berada di suatu hutan. Pohonnya sangat tinggi-tinggi hingga daunnya menghalangi cahaya matahari masuk kesini. Suara hewan-hewan asing terdengar di seluruh penjuru. Tempat ini membuatku merinding, seperti semua hewan buas biasa mengadakan pesta di tempat seperti ini.

Tiba-tiba saja seseorang muncul dari balik pohon. Aku seketika berhenti bernapas karena terkejut. Itu adalah Gayus! Penjahat yang paling dicari saat ini. Mukanya mudah dikenali dengan mata bulat dan rambut botak depan. Dia memakai jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Dengan melihatnya saja, aku merasa bisa mati kapan saja. Dia seperti mengeluarkan hawa jahat yang sangat mengerikan.

Gayus menatap ke arahku, tapi pandangannya tembus ke belakang. Seperti aku sedang tidak berada disitu. Lengan jubahnya digulung. Terlihatlah tato bergambar ular melilit sebuah tengkorak di samping tato ‘aku saying ibu’. Dia menyentuh tatonya dengan tongkat sihir.

Seketika udara menjadi berat. Suasana yang memang sudah gelap menjadi lebih gelap lagi. Dari atas muncullah asap-asap hitam yang lalu mengelilingi Gayus. Asap itu kemudian membentuk menjadi orang. Mereka semua memakai jubah hitam seperti yang Gayus pakai. Para pelahap maut.

“Selamat datang para saudaraku.”

Nada bicaranya sopan, tapi mengandung kebencian. “Selama aku tertangkap, tak ada satupun dari kalian yang mencoba membebaskanku. Tak ada satupun dari kalian yang mencoba menyelesaikan tugas yang kuberikan.”

Orang-orang disekitarnya menunduk ketakutan.

“Kau….Anas, kemana kau saat aku tertangkap?”

Pelahap maut yang dipanggil Anas makin gemetar, “Saya…terus mencoba mencari tuan.”

“Bohong! Nelpon gak pernah! SMS gak pernah!”

“Saya, saya tidak punya pulsa.”

“Ah!” Gayus mengelilingi lingkaran itu, “Lalu bagaimana denganmu Olga Syahputra? Andika Kangen Band? Morgan Smash? Kalian tidak ada gunanya!!”

Tak ada yang berani menjawab. Gayus berjalan ke tengah lagi. “Tapi sudahlah. Kalian harus bersyukur karena aku baik hati. Sekarang apakah kalian masih setia padaku?”

“Tentu saja tuan!”

“Kami tak pernah mengkhianatimu.”

Gayus tersenyum. Dia mengangkat tongkat sihirnya ke atas, dan sinar hitam meluncur keluar. Sinar itu meledak di atas dan dari dalamnya keluar banyak handphone. Para Pelahap Maut satu per satu menangkapnya.

“Sebarkan berita bahwa Pelahap Maut sudah kembali!! Sebarkan lewat facebook, twitter dan semua media sosial lainnya!”

Para pelahap maut mulai mengetik di handphonnya. Olga pun mengetik dengan gaya centilnya sambil lidahnya melet-melet.

Tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan, “Cepat ya….”

“Ya tenang saja, aku sudah kebelet banget nih” kata seseorang yang tiba-tiba mucul. Dia berpakaian kemping dan sepertinya akan buang air besar karena dia mulai membuka celananya. Dia sedang ngeden ketika sadar dia sedang berada dalam diskusi perkumpulan paling jahat.

“Oh maaf, aku tak tahu disini ada banyak orang” katanya gugup.

Gayus mengayunkan tongkatnya, “Avada Kedavra!”

Cahaya hijau memenuhi penglihatanku diiringi teriakan (dan suara kentut). Aku terbangun. Badanku penuh keringat.

“Kau tak apa-apa?”

Edo melihatku dengan heran dari tempat tidurnya, “Kau mengerang-ngerang, mimpi buruk ya?”

“Sangat buruk” kataku, aku langsung bergegas mengambil handphone-ku. Kubuka twitter dan kucek akun Pelahap Maut. Status terbaru mereka ternyata memang sama yang dengan kulihat di mimpi. Status itu sudah di RT oleh ratusan orang, sebentar lagi pasti jadi Trending Topic.

Aku mencoba mengingat-ingat mimpiku. Gayus mulai mengumpulkan para Pelahap Maut yang masih setia padanya. Aku tak tahu apa rencana mereka sekarang, tapi pasti tidak bagus.

Aku lalu teringat pada seorang muggle yang sedang kemping itu, dibunuh tanpa tahu apa-apa. Bahkan dia sedang mau buang air. Mati ketika buang air ada di urutan terendah dalam daftar ‘Mati dengan gaya’. Mereka benar-benar kejam.

Tapi kenapa aku bisa melihat kejadian itu dalam mimpi? Apakah ini bakatku?

“Hei, kenapa jadi bengong?” Tanya Edo.

Aku beralih ke dirinya dan menceritakan semua yang kulihat dalam mimpi. Dia awalnya tidak percaya, tapi ketika dia melihat twitter dari hapenya, semuanya berubah.

“Kau benar, pelahap maut sedang menjadi trending topic sekarang.”

“Aku tahu,” kataku, “apa yang sebaiknya kita lakukan?”

Edo menatapku dengan bingung, “Kita? Kita hanya penyihir tingkat satu. Kita tidak bisa apa-apa. Lagipula kita tak perlu melakukan sesuatu, semua auror sedang mencari Gayus sekarang. Kita akan baik-baik saja.”

“Tapi dia sudah pernah kabur dari penjara cipinang kan? Berarti dia sudah tahu cara untuk mengelabui Auror.”

Edo mengangkat bahu. “Sudahlah, sebaiknya kita tidur lagi. Besok ada latihan Quidditch pertama.”

Aku setuju saja, tapi mana mungkin aku bisa tidur lagi setelah mengalami mimpi aneh tersebut. Ketika Edo sudah tertidur, aku menyelinap keluar kamar. Berjalan-jalan mungkin akan membuat pikiranku segar.

Aku keluar dari asrama. Di luar jendela, langit malam terbentang sangat indah. Aku terus berjalan sambil memikirkan mimpiku. Bagaimana cara Gayus bisa lolos dari para auror? Bagaimanapun itu, aku yakin Gayus akan melakukannya lagi, dan itu membuatku makin cemas. Bagaimana kalau dia mencoba menyerang Hogwarts, seperti yang dilakukan Voldemort dulu sebelum dia akhirnya tewas.

Tapi semakin dipikir, semakin aneh. Untuk apa juga dia menyerang Hogwarts? Pelahap Maut sekarang sudah tak sebanyak dulu lagi. Mereka akan bunuh diri jika menyerang Hogwarts begitu saja.

Lalu tiba-tiba, kata-kata Okki terngiang di kepalaku. Dia berbicara tentang sesuatu di kamar tersembunyi. Apakah memang ada kamar seperti itu? Walaupun ada, yaah pasti tersembunyi juga, akan sangat sulit menemukannya.

Tanpa sadar aku berjalan ke lorong penghubung ke menara timur. Hmm, menara timur, kepala sekolah pernah mengingatkan agar kami menjauhinya. Sifat isengku muncul, kalau hanya melihat sedikit kurasa tidak apa-apa kan?

Aku mengendap-endap di sepanjang lorong. Lorong itu hanya diterangi obor yang terpasang di dinding, tidak ada jendela sama sekali. Disini sangat bau, sampai aku harus menutup hidung. Apakah menara timur tempat pembuangan sampah?

Aku berjalan makin ke dalam, dan baunya makin menyengat. Di ujung lorong, aku melihat tangga spiral menuju ke puncak menara. Aku bingung apakah mau menaikinya atau tidak, tapi karena sudah sampai disini, ya sudahlah. Sudah terlanjur basah juga.

Sesuatu bergetar di belakangku ketika aku menginjakkan kaki di anak tangga. Aku melihat ke belakang dan kurasa jantungku tak mau berdetak untuk sesaat. Sebuah makhluk hijau setinggi kira-kira 3 meter, membawa pentungan dan berbau sangat menjijikkan sedang menelitiku. Sebuah Troll

            Troll itu akhirnya memutuskan aku adalah musuh yang harus dimusnahkan. Dia mengayunkan pentungannya ke arahku. Aku menghindar tepat pada saatnya. Pentungan membentur pegangan tangga dan menghasilkan suara sangat ribut.

     Aku melarikan diri secepat mungkin. Untunglah Troll sangat lambat, dalam sekejap saja aku sudah meninggalkannya. Aku masuk ke asrama dengan jantung masih berdebar keras. Kenapa ada Troll dalam sekolah? Mungkinkah…mungkinkah dia menjaga sesuatu?

Kemal Potter (Chapter 4 : Aku Membuat Obat Tidur Rasa Kobokan)

Masalahku sejak SMA hanya satu, yaitu sulitnya bangun kalau udah tidur nyenyak. Biasanya ibuku yang akan membangunkan dengan teriak keras-keras, atau kalau tak bisa juga, ayahku toh bisa sihir, dia mengeluarkan air dari tongkatnya dengan kejam.

Tapi kini tak ada yang membangunkan, dan parahnya, Edo pun sama tukang tidurnya denganku. Maka hari pertama kami di Hogwarts diawali dengan lari-larian sepanjang lorong menuju kelas.

Kelas pertama kami adalah ramuan, bareng dengan kelas Ravenclaw. Pengajar kami bernama Pak Samho, dia sepertinya berasal dari Maluku atau sekitarnya karena logatnya yang unik. Pak Samho geleng-geleng kepala melihat kami yang telat hampir setengah jam, tapi tetap memperbolehkan kami masuk. Ironisnya, hari ini kami akan membuat ramuan untuk tidur nyenyak, ramuan yang akan masuk daftar hitamku karena kebiasaan jelek tadi.

Aku dan Edo langsung menuju ke kuali kosong disebelah Fika. Dia sudah setengah jalan mengerjakan ramuan itu. “Itu resepnya, cepat kerjain” kata Fika sambil menunjuk ke perkamen di atas mejaku.

Aku agak kaget melihat bahan-bahan yang diperlukan. Sayap lalat, akar jahe, kaki capung, dan banyak hal aneh lainnya.

“Kita mau buat ramuan tidur atau racun sih?” kata Edo yang sama herannya.

“Entah,” jawabku, “lagian kalau mau tidur nyenyak, kenapa gak minum obat tidur biasa aja?”

“Karena ramuan ini akan membuat kita tidur nyenyak dengan mimpi indah, dan tanpa efek samping setelahnya. Kurasa obat tidur muggle tak bisa membuat yang seperti itu.”

Pak Samho ternyata berdiri di belakang kami. “Itu sudah kujelaskan tadi, tapi salah kalian datang telat.” Setelah mengatakan itu dia pergi mengecek hasil murid-murid lain. Fika cekikikan di sebelah. Aku dan Edo tak terlalu banyak ngobrol lagi setelah itu.

Setelah satu jam yang penuh usaha, aku sadar bahwa ramuan bukanlah bakatku. Ketika Pak Samho mencicipi ramuanku, dia langsung memuntahkannya dengan indah ke kuali lagi. “Kenapa rasanya seperti kobokan gini? Pasti ada yang salah di takaran serbuk kayu manismu!” komentarnya. Hebatnya, aku bahkan tak ingat ramuan ini perlu kayu manis. Jelas ramuanku ini berakhir gagal total.

Tapi bukan aku saja yang bernasib seperti ini. Setengah dari kelas sama saja denganku. Pak Samho mengomeli mereka satu-satu. Kebanyakan hanya karena salah sedikit takaran saja, tapi hasilnya bisa juah dari harapan. Bahkan ramuan Edo rasanya seperti sup ayam.

“Kamu terlalu banyak memasukkan paruh ayam!”

“Ma…maaf Pak” kata Edo gugup.

“Tapi enak juga, nanti kasih tahu resep ini ke koki kita ya.”

Mungkin suatu saat Edo akan menjadi koki handal.

Ramuan Fika bisa dibilang berhasil walaupun tak sempurna. Menurut Pak Samho, ramuan tidurnya akan bertahan tak terlalu lama, tapi dia tetap dapat nilai bagus. Yang berhasil mendapat nilai sempurna dari ramuan pertama ini adalah Iis. Mungkin karena merasa semua ramuan gagal, Pak Samho meminum begitu saja ramuan Iis, dan akibatnya langsung jatuh tertidur di kelas. Kami awalnya bingung, tapi akhirnya memutuskan untuk keluar dari kelas, meninggalkan Pak Samho tertidur di lantai sambil mengigau sesuatu tentang kambingnya.

Untunglah setelah itu kami boleh sarapan dulu sebelum lanjut ke kelas berikutnya. Aku, Edo, dan Iis makan dengan lahap di aulasambil ketawa-ketawa menceritakan kejadian di kelas tadi.

Tiba-tiba saja banyak burung hantu bertebangan masuk membawa surat. Satu per satu surat dijatuhkan ke anak yang dituju. Langit di aula sekarang penuh dengan burung hantu yang mencari pemiliknya. Aku kagum juga, ini pertama kalinya aku melihat burung hantu sebanyak ini.

“Hei, bukankah burung hantu itu kesulitan melihat di siang hari?” Tanya Edo, “kenapa mereka bisa gak tabrakan gitu ya?”

Tepat saat itu, seekor burung hantu terbang terlalu rendah dan menabrak Edo di mukanya. Mereka terjungkal ke belakang. Anak-anak lain tertawa melihat kejadian itu. Aku, mencoba menahan tawa, membantu Edo duduk lagi.

“Burung sialan!!”
“Hei, itu surat untukku” kataku. Aku mengenali tulisan ayahku di amplopnya. Kutarik amplop dari kaki burung hantu ceroboh itu, dan dia pun terbang menjauh.

Halo Nak, gimana hari pertamamu disana?

Kami sedih disini, rasanya sepi without you. Kirim surat ke kami jika sempat ya.

Aku sempat terharu membaca surat itu karena sepertinya ayah dan ibu kesepian tanpaku. Surat itu juga disertai foto. Di foto tersebut sepertinya ayah dan ibu baru saja membuat pesta karena akhirnya anaknya tak akan merusuh lagi di rumah dan mereka terlihat sangat bahagia. Kuremas surat tadi dengan kesal, apanya yang kesepian.

“Hei lihat ini” kata Iis tiba-tiba.

Dia sedang membuka koran. Berita utamanya memperlihatkan foto seseorang yang pernah kulihat sebelumnya.

“Gayus kabur dari penjara Cipinang!”

Suasana langsung agak sepi mendengar berita itu. Ridho dan Fika ikut berkumpul bersama kami untuk melihat korannya.

“Gayus? Maksudmu gayus tambunan?” tanyaku.

“Ya,” kata Iis, “Kurasa ini cukup gawat.”

Gayus adalah salah satu pelahap maut yang sangat setia pada Voldemort. Ketika Voldemort jatuh karena kakekku, kudengar dia menghilang. Dia sempat terlibat kasus penghilangan uang Negara (maksudku, dia benar-benar menghilangkannya). Dulu Gayus juga sempat kabur dari penjara dengan cara menyamar, tapi berhasil ditangkap lagi, dengan sedikit bantuan ayahku. Jujur saja, aku heran dengan Gayus yang tak terlihat makin tua.

“Apakah dia mau membangkitkan pelahap maut lagi?” Tanya Ridho.

“Mustahil menurutku,” kata Edo dengan yakin “Pelahap maut sudah habis berpuluh-puluh tahun yang lalu. Yang ada sekarang paling hanya orang-orang gak jelas yang pura-pura menjadi pelahap maut.”

“Oh aku tak akan terlalu yakin jika jadi kau.”

Kami menoleh ke belakang. Berdiri disana kombinasi teman yang paling aneh. Yang satu berbadan kekar, rambutnya keriting, dan giginya terlihat sangat putih sampai aku curiga dia menggosok giginya terlalu sering. Dia terlihat sangat sehat. Tapi temannya adalah kebalikan, dia kurus kering, kulitnya kusam, mukanya penuh jerawat, rambutnya dibiarkan berantakan dan sekeliling matanya hitam. Seolah-olah si sehat menyedot semua jiwa si sakit. Mereka berdua memakai seragam hijau Slytherin.

“Apa maksudmu Frank?” kata Ridho dengan sedikit malas.

“Yaahh menurutku,” si sehat yang dipanggil Frank menjawab, “semua itu mungkin kan?”

“Maksudmu kau berharap pelahap maut bangkit lagi?”

“Aku tak bilang begitu. Tapi begitupun tak masalah bagiku. Hidup sekarang terlalu membosankan. Ya kan Fika? He he he he.” Dia mengedip pada Fika sambil tertawa dengan memaksakan giginya tetap terlihat sehingga tertawanya mirip orang asma. Fika membuang muka.

Ridho terlihat makin kesal, “Oh, jadi bagaimana menurutmu dia melakukannya? Mengajak satu-satu penjahat?”

Kali ini si sakit yang menjawab duluan, “Bisa saja dengan barang yang ada di kamar tersembunyi itu, hihihi.”

“Bodoh Okki!” bentak Frank, “Kau tak perlu bilang pada semua orang!”

Okki menunduk malu. Dia makin terlihat parah.

“Baiklah, sampai berjumpa lagi nanti kawan-kawan.” Frank pergi sambil menarik kasar Okki.

“Aku tak suka mereka,” kata Iis.

“Aku juga,” tanggapku, “mereka terlihat aneh.”

“Sudahlah, lupakan saja mereka. Ayo kita makan lagi, sebentar lagi kita harus masuk kelas lagi kan?”

Tapi kami tak sempat melanjutkan makan. Kami sudah harus masuk ke kelas masing-masing. Aku, Edo dan Iis kini akan mempelajari ramalan, pelajaran yang menurut ayahku tidak terlalu penting. Dia punya alasan bagus untuk berkata seperti itu, karena dulu kakekku pernah diramal berkali-kali akan mati, dan dia masih sehat-sehat saja sekarang.

Ruangan ramalan didesain sangat mistis. Replika tata surya mengapung di atas. Bola-bola ramalan diletakkan di atas meja bundar hitam. Bahkan ruangannya penuh asap agar lebih dramatis, begitu kukira, sampai aku sadar asap itu berasal dari pengajar yang panik karena jubahnya kebakaran. Anak-anak langsung membantu memadamkan api entah dari mana itu.

“Huufft maaf anak-anak,” kata Bu Rosa, pengajar ramalan kami, “Aku secara tak sengaja membakar jubahka sendiri, hahaha.”

Aku baru saja berpikir bodoh sekali ada orang yang bisa tak sengaja membakar dirinya sendiri, tapi aku lalu teringat ketika di toko buku ketika secara tak sengaja aku pun membakar sekelilingku.

“Baiklah kita mulai pelajarannya. Oh ya, kamu Nak…”

Dia menunjuk aku.

“Kamu akan mendapat kesialan sebentar lagi.”

“Hah?” kataku dengan kerennya.

“Ya, dalam 3…2…1….”

Brak, kursi yang kududuki patah dan aku terjerembab dengan keras. Anak-anak menertawaiku.

“Reparo.” Bu Rosa mengayunkan tongkatnya, dan kursiku utuh kembali.

“Terima kasih Bu. Tapi lain kali tolong kasih tahu dari awal saja kalau kursi saya rusak” kataku jengkel.

Bu Rosa tak mempedulikanku. Dia menyuruh anak-anak melihat ke dalam bola dan melihat apa bentuk asap di dalam bola tersebut lalu mencari artinya di buku. Ini sangat konyol, tapi kuikuti saja perintahnya.

“Kamu yang jatuh tadi, coba beritahu apa arti asapmu.” Dia menunjukku lagi.

“Nama saya Kemal Bu, dan asap saya bentuknya seperti….asap.”

Bu Rosa mengangkat sebelah alisnya, “Coba lihat lebih teliti lagi.”

“Mmhhh…” Aku mencoba mengarang-ngarang, “Sepertinya ini bentuk hati, yang berarti artinya sangat dekat dengan kita, dan yang ini seperti….pantat?”

“Jadi?”

“Jadi….ada pantat di dekat kita?” kataku. Edo disebelahku sangat susah payah menahan tawa sampai keluar air mata. Aku juga ikut tersenyum.

Tapi tiba-tiba saja dari jendela muncul seseorang naik sapu terbang yang tak bisa dikendalikan dan menabrak Edo dengan keras. Pantatnya menduduki wajah Edo ketika jatuh. Semua anak tersentak kaget.

“Ridho!!” kataku heran.

“Maaf, aku tak bisa mengendalikan sapuku.”

Ramalanku ternyata betul.



Bersambung....


kalau mau lihat Kemal Potter dari chapter 1, klik label "Kemal Potter" dibawah ini, terus cek postingan lama. Selamat memasuki dunia sihir :D

Kemal Potter (Chapter 3 : Aku Memesan Es Teh Manis Pada Lukisan)

Tak terasa hari sudah mulai gelap saat kereta kami mulai berhenti. Kami semua sudah berganti baju, semacam jubah hitam yang dilengannya tertera tulisan emas “Tahun Pertama”. Banyak yang protes soal pembedaan ini. “Bagaimana kita bisa mengeceng anak tahun atas jika kita dibedakan begini?” kata Edo, anak jahil yang berkenalan denganku di kereta tadi.

Aku setuju, apalagi untuk jomblo 17 tahun seperti aku ini, mendapat pacar seperti sudah kebutuhan. Di SMA, aku beberapa kali hampir mendapat pacar, tapi sihir mengacaukan segalanya. Seperti ketika aku kencan pertama dengan cewek imut di kelasku dan aku tanpa sengaja membuat roknya terbang terus (itu karena hatiku terbang, kata ayahku) atau seperti ketika aku membuat hujan cacing di sekitarku sewaktu berjalan bersama gebetanku (bahkan ayahku tak mengerti kenapa itu terjadi). Karena itu beberapa orang menganggapku aneh dan membawa sial.

Kali ini itu harus berubah, aku harus mendapat pacar! Itulah motivasi utamaku masuk ke sekolah ini, kan semua cewek sama anehnya denganku.

Para murid berbondong-bondong turun dari kereta. Kami tak perlu menurunkan barang sendiri karena nanti para peri rumah yang akan melakukannya.

“Anak-anak tahun pertama kumpul disini!”

Aku menoleh ke orang yang berteriak dan setengah kaget. Tinggi orang itu mungkin 2 meter, dan mukanya terlalu banyak dipenuhi luka. Mata sebelahnya putih kosong, mungkin buta. Kami semua dengan sedikit enggan berkumpul didekatnya.

“Namaku Bambang, dan aku pengawas Binatang Sihir disini. Oh ya, dan aku juga guru Pemeliharaan Satwa Sihir kalian di tahun ini.” Ketika dia bicara, suaranya agak menggeram dan membuat setengah dari rombongan kami jadi lebih takut dari sebelumnya.

“Baiklah, ikut aku.”

Kami semua dibawa pergi dari stasiun. Sepanjang kulihat, disekitar sini hanya ada jalan setapak dan hutan yang mengelilinginya. Tak tampak sekolah Hogwarts. Kami disuruh berbaris dan menunggu sebentar. Bambang bertepuk keras, dan dari dalam hutan keluarlah semacam kereta delman, tapi anehnya tak ada kuda yang menariknya, kereta itu berjalan sendiri.

“Thestral,” bisik Ridho yang ada disampingku, “Aku mendengarnya dari ayahku. Thestral hanya bisa dilihat oleh orang yang sudah pernah melihat kematian.”

Aku melihat ekspresi Iis sekilas, dan entah kenapa aku yakin bahwa dia bisa melihat Thestral itu. Apa itu berarti dia pernah melihat seseorang meninggal?

Hanya saja aku tak sempat berpikir lama-lama. Bambang menyuruh kami naik satu kereta empat orang. Iis sudah pergi duluan. Aku naik bersama Ridho, Fika dan Edo. Setelah kami duduk, kereta itu langsung berjalan lagi. Kami makin lama makin masuk ke hutan. Ini membuatku cukup takut karena langit juga makin gelap. Melihat muka Bambang, aku tak mau memikirkan apa saja binatang yang ada di hutan ini.

Setelah 30 menit, kastil sekolah akhirnya terlihat di kejauhan. Besar sekali, jauh lebih besar daripada kastil-kastil yang kulihat di film. Menara-menara menjulang ke atas. Gerbang depan kastil itu dihias dengan panji-panji asrama, Gryffindor dengan warna merah, Slytherin dengan warna hijau, Hufflepuff dengan warna kuning, dan Ravenclaw dengan warna hijau.

“Semua orang mau masuk Gryffindor, tapi aku sangat ingin ke Hufflepuff,” kata Edo, “Leonalex berasal dari asrama itu tahu?”

Leonalex adalah seeker utama tim Quidditch Inggris. Pada piala dunia terakhir, dia melakukan tangkapan spektakuler dalam keadaan tangan patah setelah dihantam bludger. Tangkapan itu membuat Inggris unggul 10 point atas rival dan tetangga mereka, Irlandia.

Aku memang dibesarkan di dunia muggle, tapi aku cukup tahu tentang Quidditch dan cukup menggemarinya. Tim lokal favoritku adalah Medan Firestar, yang seekernya juga seeker utama timnas Indonesia, Toni Siregar.

Kami asyik membicarakan Quidditch setelah itu dan tak sadar kini kami sudah berhenti. Kami berempat langsun turun dan bergabung dengan rombongan di depan gerbang.

“Sekarang kalian bersiaplah untuk penyeleksian. Ayo masuk.” Bambang membuka pintu yang besar itu hanya dengan sebelah tangannya. Kastil itu sangat keren, dimana-mana ada foto penyihir terkenal yang bergerak-gerak senang melihat murid baru, obor-obor menyala di sepanjang dinding, disalah satu pojok kastil aku melihat ada kepala naga yang dipajang di dinding. Kami terus saja berjalan dan dibawa masuk ke aula besar.

Aula besar sangat ramai. Ruangan besar itu diisi empat meja panjang untuk setiap asrama. Di tengah-tengah ruangan sudah disiapkan kursi untuk penyeleksian. Dalam sekejap saja perutku sudah melilit karena tegang.

Seorang laki-laki yang sudah cukup tua berdiri. “Selamat datang para murid baru. Kami senang sekali bisa menerima kalian disini.  Namaku Sofyan, aku kepala sekolah disini. Mari kita lakukan saja langsung penyeleksiannya.”

Bambang berdiri di dekat kursi dan mengeluarkan gulungan berisi nama-nama murid baru. “Abam Fahrani!”

Seorang laki-laki agak gemuk maju dengan pucat ke kursi. Bambang menaruh topi di kepalanya, dan tiba-tiba saja topi itu bernyanyi.

Oooh wahai murid bermuka bulat, otakmu berisi pengetahuan yang cukup kulihat, dan asrama untukmu tak lain dan tak bukan adalah…..Ravenclaw!!”

Topi itu bernyanyi dengan keras dan dengan cengkok dangdut yang sempurna. Meja Ravenclaw bersorak-sorak senang menerima anggota baru.

“Maaf soal itu,” kata Bambang, “Topi ini jadi senang dangdut sejak dia datang ke Indonesia. Selanjutnya, Anna Fatilla!”

Pemanggilan dilakukan berdasarkan abjad. Makin dekat ke namaku, makin teganglah aku. Sebenarnya tak masalah aku dimasukkan ke asrama mana, aku lebih takut karena topi itu akan membaca pikiranku. Jangan-jangan setelah dia membacanya, dia akan menyanyi keras-keras lagu Darah Muda karena dipikiranku hanya memikirkan bagaimana bisa dapat pacar.

Edo berhasil masuk Hufflepuff sesuai keinginannya diiringi lagu Alamat Palsu dari si topi. Mungkin Edo memikirkan pacarnya yang hilang atau apa.

Satu per satu murid diseleksi hingga akhirnya, “Kemal Potter!”

Orang-orang langsung terdiam. Mereka berbisik-bisik pelan sambil menunjuk ke arahku. Aku tahu ini bakal terjadi. Nama keluarga Potter memang sangat terkenal. Semua kenal Harry Potter, orang yang mengalahkan pangeran kegelapan. Ayahku adalah auror terkenal sebelum dia memilih menjadi guru. Paman dan bibiku juga mempunyai pangkat tinggi di Kementrian Sihir Inggris. Ini membuatku sedikit tertekan karena tak boleh mengecewakan mereka.

“Itu dari keluarga Potter.”

“Cucunya Harry Potter yang itu.”

“Dia kan yang membakar toko buku kemarin.”

Oke, aku akan menendang pantat orang yang menggosip terakhir itu nanti. Tapi sekarang aku punya kecemasan lain. Dengan gugup aku duduk di kursi. Bambang menaruh topi di kepalaku.

“Hmmm….” Topi itu berpikir. “Kemal ya, kau punya keberanian dan pintar, tapi kau terlalu banyak memikirkan cewek…”

Terdengar suara terkikik di sana sini. Mukaku memerah.

“Aku bingung, lagu apa yang cocok untuk kepalamu ini, hmmmm…”

Aku berkata dalam hati, tolong jangan nyanyi, tolong jangan nyanyi.

“Jangan nyanyi ya,” si topi kedengaran kecewa, “Baiklah, Hufflepuff!!”

Meja di tengah bersorak-sorak gembira. Aku dengan lega langsung menuju ke meja itu. Memang semua keluargaku masuk ke Gryffindor, tapi bagiku tak masalah dimanapun. Lagipula anak-anak Hufflepuff sepertinya sangat ramah-ramah, mereka langsung menyalamiku. Aku duduk di sebelah Edo, yang ternyata sudah mulai pedekate dengan seniornya.

Seleksi terus berlanjut. Aku melihat Fika dimasukkan ke Ravenclaw dan Ridho dimasukkan ke Gryffindor. Muka Ridho langsung merana dipisah sama julietnya. Iis dimasukkan ke Hufflepuff juga, yang membuatku cukup senang karena sudah lumayan akrab.

Setelah semua anak sudah duduk, Sofyan berdiri lagi. Kepala sekolah itu mungkin umurnya sudah 100 tahun, mukanya sangat keriput dan rambutnya terlalu putih sampai aku curiga dia tak sengaja kejatuhan cat putih, tapi mukanya ceria seakan-akan tak ada lagi yang lebih membahagiakan daripada melihat kami.

Tapi tiba-tiba saja, dengan pekik kekagetan banyak anak baru, dia berubah. Kulitnya menjadi mulus lagi, rambutnya menghitam, entah bagaimana sekarang kepala sekolah seperti baru berumur 30 tahun. Dia berdiri di podium untuk berpidato.

“Selamat datang untuk anak baru dan selamat datang kembali untuk murid lama. Aku tak akan membuat kalian bosan dengan pidato panjang. Aku hanya akan mengingatkan beberapa hal, untuk anak tahun pertama sampai tahun ketiga dilarang masuk ke rumah kaca dua karena disana banyak sekali tanaman-tanaman berbahaya. Menara di sebelah timur juga terlarang. Selain itu, kastil ini adalah milik kalian. Nah, sekarang mari kita makan.”

Setelah Sofyan selesai bicara, makanan langsung muncul di meja. Anak-anak bersorak senang dan mulai makan. Semua makanan yang bisa kau bayangkan ada di meja. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku bingung karena tak tahu apa yang harus dimakan duluan. Akhirnya kusabet ayam goreng dan kentang sambal.

Sambil makan, aku dengar Edo bertanya kepada prefek (ketua asrama) kami, Andri, tentang perubahan kepala sekolah. Dia minum sejenak lalu berkata, “Pak Sofyan adalah masternya sihir perubahan usia. Sangat jarang ada penyihir yang bisa begitu, sihir langka. Sejauh ini, aku hanya melihat pak Sofyan yang bisa melakukannya.”

Aku melihat ke arah meja guru. Pak Sofyan sedang asyik berbicara dengan guru wanita, sulit membayangkan dia adalah pak tua 10 menit yang lalu.

Obrolan makin lama makin kencang, yang berarti banyak murid sudah selesai makan. Aku sendiri sudah tak mampu lagi menelan satu makanan pun karena jika dihitung-hitung sudah 3 piring kulahap. Pak Sofyan membubarkan kami dan para prefek langsung menuntun anak-anak baru ke asrama kami.

Asrama Hufflepuff terletaknya sekitar 2 lantai di bawah aula besar. Walaupun ini di dalam tanah, entah bagaimana jendela di sepanjang lorong menampilkan pemandangan langit berbintang.

“Itu sihir.” Kata Andri sambil lalu mendengar anak-anak berbisik di belakangnya.

Kami lalu berhenti di ujung lorong. Sebuah lukisan besar wanita yang memakai baju adat jawa tersenyum melihat kami.

“Password?”

“Mbak, es tehnya dua!”

“Passwordnya apa?” tanyaku karena aku yakin salah dengar.

“Mbak, es tehnya dua,” ulang Andri seakan-akan itu password yang dipakai sehari-hari oleh orang. Lukisan membuka ke dalam, dan kami satu-satu memanjat masuk.

Kami kini berada di ruangan besar berbentuk lingkaran yang dekorasinya penuh dengan warna kuning, warna Hufflepuff. Kursi-kursi berlengan empuk berderet di tengah sedangkan beberapa meja diletakkan di samping. Lukisan Helga Hufflepuff menyambut kami dengan senyumannya. Ada dua pintu, satu di sebelah kanan dan satu di sebelah kiri.

“Anak laki-laki masuk ke sebelah kanan, anak perempuan ke sebelah kiri. Barang kalian ada di dekat tempat tidur.”

Aku ikut rombongan cowok ke kanan. Ternyata ruangan itu berisi lorong panjang lagi yang di sisinya terdapat pintu-pintu kamar. Ketika aku masuk, sebuah kertas entah darimana bersinar di kantongku. Kertas itu berisi nomor kamar. Nomor 11, dan aku akan sekamar dengan Edo.

Aku masuk ke kamar 11, disana sudah ada barang-barangku. Kamarnya tak terlalu luas, tapi nyaman. Langsung saja aku berbaring di tempat tidur. Mungkin karena lelah, aku langsung tidur dan tak sabar mulai belajar besok.